Kabar Kematian

29 Juni 2009

2Samuel 1: 17-21

Gugur bunga Daud menyanyikan nyanyian ratapan ini karena Saul dan Yonatan, anaknya, dan ia memberi perintah untuk mengajarkan nyanyian ini kepada bani Yehuda; itu ada tertulis dalam Kitab Orang Jujur. Kepermaianmu, hai Israel, mati terbunuh di bukit-bukitmu! Betapa gugur para pahlawan! Janganlah kabarkan itu di Gat, janganlah beritakan itu di lorong-lorong Askelon, supaya jangan bersukacita anak-anak perempuan orang Filistin, supaya jangan beria-ria anak-anak perempuan orang-orang yang tidak bersunat! Hai gunung-gunung di Gilboa! jangan ada embun, jangan ada hujan di atas kamu, hai padang-padang pembawa kematian! Sebab di sanalah perisai para pahlawan dilumuri, perisai Saul yang tidak diurapi dengan minyak.

Kematian dan tragedi sulit dipisahkan. Selalu saja ada kepedihan dan kesedihan yang dibawanya. Orang bisa menangis berhari-hari. Mengalami kesedihan berminggu-minggu, sekalipun telah mengadakan ibadah penghiburan berkali-kali. Tidak sedikit yang menjadi traumatis, dan tak tersembuhkan meskipun tahun-tahun telah lama berlalu. Baca entri selengkapnya »


Tampil pada Tukar Mimbar Klasis di GKJ Mranggen

28 Juni 2009

DSC04432Tidak seperti hari Minggu biasa. Hari Minggu ini, gerombolan kami akan menuju Gereja Kristen Jawa Mranggen. Maka, kami mulai berkumpul jam enam pagi. Rencananya, sekitar setengah tujuh akan berangkat. Minggu 28 Juni 2009 pagi ini, kami tidak beribadah di GKJ WPM. Sebab kami akan mempersembahkan pujian dalam rangka Tukar Mimbar Klasis Semarang Timur. Baca entri selengkapnya »


Kunjungan ke GKJ Puri Asih Demak

25 Juni 2009

Agus Kristiana, Ketua Majelis GKJ Puri AsihHari ini, aku punya janji akan ke Kedondong, Demak. Ingat GKJ Puri Asih, ingat tanggal unik pendewasaannya. Tanggal delapan(8), bulan delapan (8/Agustus), tahun dua ribu delapan (2008), jam delapan (8) dimulai, dihadiri oleh delapan (8) gereja di Klasis Semarang Timur (sponsornya Salep 88,…nggak je!).

Aku sudah ditunggu, Pak Nomolas, Mas Anung dan Mas Bowo di teras. Mereka sudah menunggu sejak jam setengah lima.

“Piye, to Mas. Wong setengah lima kok meh jam lima tembe teka!” Pak No menyambutku. Baca entri selengkapnya »


Bilangan Fu

24 Juni 2009

CoverKali ini, novel Ayu Utami yang terbit pada tahun 2008 ini berhalaman 530 lebih. Cukup tebal, di bandingkan Saman atau Larung, dua novel sebelumnya. Ada catatan kecil pada halaman sampulnya, yang menerangkan bahwa covernya menggunakan kertas impor yang diolah oleh perusahaan kertas dengan ”… menggunakan bahan-bahan dari hutan yang dikelola secara bertanggungjawab dan berkelanjutan.” Memang ketebalan buku tidak hanya berpengaruh kepada pembaca untuk memperhitungkan waktu yang dihabiskannya, atau berapa uang yang harus dikeluarkan untuk membeli novel tebalnya, namun juga nyerempet isu lingkungan hidup. Ayu hendak berkonsisten rupanya, mengkaitkan cover dengan isi novel tebalnya.

Bagaimanakah cerita dalam novel tebal ini? Asyik. Terutama setelah separuh tebal buku. Tetapi, tetap saja, akan lebih asyik jika mulai dari depan. Bilangan Fu dimulai dari pemanjatan tebing Watugunung, di Selatan Pulan Jawa. Melalui catatan harian Sandi Yuda, seorang dari sekumpulan pecinta pendaki tebing, kisah ini bermula. Keasyikan penulis catatan harian adalah berpanjang-panjang. Ini alasan yang membentuk novel ini sebagai kisah yang diceritakan kembali dengan meluas melebar dan ditangani editor yang murah hati. Inti ceritanya bukan lagi soal panjat-memanjat. Secara perlahan cerita mengarah pada peristiwa sosio-religius masyarakat di sekitar Sewugunung, di bawah Watugunung yang dapat bersiul ‘huu..’. Hu atau fu?

Maka dipotret dan dikliping kepercayaan masyarakat terkait dengan isu lingkungan. Mulai dari sajenan, selametan, hantu, tuyul, sirkus, Ratu Laut Selatan hingga pemanjatan bersih, penggundulan hutan, bahkan pendirian pabrik semen…Adalah Parangjati, seorang mahasiswa geologi yang sekolah di Bandung berkampung halaman di sekitar Watugunung, tempat Yuda dan teman-temannya berkemah. Ia membela dan membawa kebudayaan lokal dalam pemahaman kritis. Melalui Parangjatilah, kisah menjadi hidup, berurat dan berdarah. Ia adalah simpul yang menghubungkan tokoh-tokoh cerita lain. Baik orang kota maupun orang-orang desa. Dari Marja yang sintal, Mbok Manyar sang juru kunci dan pawang hujan desa, sampai Pontiman Sutalip kepala desa, Kupu-kupu yang fundamentalis, adiknya hingga Suhubudi, bapaknya sendiri. Parangjati menjadi simpul cerita tentang perebutan kuasa antara fundamentalisme Kupu-kupu, tradisi orang-orang desa, kekerasan militer dan kisah cinta antara Marja dan Yuda.

ayu  http://www.indomedia.com/Intisari/1998/september/sex.htmTidak heran jika novel ini diperkenalkan sebagai spiritualisme kritisnya Ayu. Nukilan kata, pelesetan nama dan istilah dari Alkitab bertebaran didalamnya. Dengan begini, novel menjadi maklumat ideologi penulis yang berhadapan dengan kekinian jaman. Jaman yang glamor, berteknologi, berdukun, miskin, bodoh, saling tumpang tindih, adalah realita hidup sebenarnya. Dengan menggunakan pisau dari berbagai disiplin ilmu, seperti filsafat, matematika, bahasa dan lain-lain, Ayu membedah persoalan ketuhanan dan lingkungan.  Kali ini Ayu tidak menghadapinya dengan dekonstruksi kritis. Melalui novel ini, ia bersikap konstruktif positif kritis. Membangun kembali nilai dan membelanya dari yang telah diruntuhkan modernisme.


Rasa Tidak Pernah Bohong

23 Juni 2009

 

1Samuel 22:11-16

Dewi Keadilan www.epochtimes.co.idinternasional.phpid=101Lalu raja menyuruh memanggil Ahimelekh bin Ahitub, imam itu, bersama-sama dengan seluruh keluarganya, para imam yang di Nob; dan datanglah sekaliannya menghadap raja. Kata Saul: “Cobalah dengar, ya anak Ahitub!” Jawabnya: “Ya, tuanku.” Kemudian bertanyalah Saul kepadanya: “Mengapa kamu mengadakan persepakatan melawan aku, engkau dengan anak Isai itu, dengan memberikan roti dan pedang kepadanya, menanyakan Allah baginya, sehingga ia bangkit melawan aku menjadi penghadang seperti sekarang ini?” Lalu Ahimelekh menjawab raja: “Tetapi siapakah di antara segala pegawaimu yang dapat dipercaya seperti Daud, apalagi ia menantu raja dan kepala para pengawalmu, dan dihormati dalam rumahmu? Bukan ini pertama kali aku menanyakan Allah bagi dia. Sekali-kali tidak! Janganlah kiranya raja melontarkan tuduhan kepada hambamu ini, bahkan kepada seluruh keluargaku, sebab hambamu ini tidak tahu apa-apa tentang semuanya itu, baik tentang perkara kecil maupun perkara besar.” Tetapi raja berkata: “Engkau mesti dibunuh, Ahimelekh, engkau dan seluruh keluargamu.”

Selalu menjadi pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai: mengurai keadilan. Sebab ketidakadilan berkeliaran di sekitar kita, dan membuat semuanya kusut. Kita bergaul intim dengannya tiap saat. Sangat akrab, mengenalnya dengan baik dan lengket. Kita sama-sama tahulah itu. Dan, kita sama-sama berpura-pura tidak tahu. Tutup mata, telinga, mulut dan aman. Maka, menjadi sulit untuk membedakan yang benar dan yang salah, yang adil dan yang tidak adil. Memang ada batas yang harus disingkap: antara berpura-pura dengan  yang tidak. Baca entri selengkapnya »