Kunjungan ke GKJ Puri Asih Demak
25 Jun 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in Jalan-jalan Tag:Demak, GKJ Puri Asih, Perkunjungan
Hari ini, aku punya janji akan ke Kedondong, Demak. Ingat GKJ Puri Asih, ingat tanggal unik pendewasaannya. Tanggal delapan(8), bulan delapan (8/Agustus), tahun dua ribu delapan (2008), jam delapan (8) dimulai, dihadiri oleh delapan (8) gereja di Klasis Semarang Timur (sponsornya Salep 88,…nggak je!).
Aku sudah ditunggu, Pak Nomolas, Mas Anung dan Mas Bowo di teras. Mereka sudah menunggu sejak jam setengah lima.
“Piye, to Mas. Wong setengah lima kok meh jam lima tembe teka!” Pak No menyambutku. Lagi
Bilangan Fu
24 Jun 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in Novel Tag:Ayu Utami, Bilangan Fu, kritis, Novel, spiritual
Kali ini, novel Ayu Utami yang terbit pada tahun 2008 ini berhalaman 530 lebih. Cukup tebal, di bandingkan Saman atau Larung, dua novel sebelumnya. Ada catatan kecil pada halaman sampulnya, yang menerangkan bahwa covernya menggunakan kertas impor yang diolah oleh perusahaan kertas dengan ”… menggunakan bahan-bahan dari hutan yang dikelola secara bertanggungjawab dan berkelanjutan.” Memang ketebalan buku tidak hanya berpengaruh kepada pembaca untuk memperhitungkan waktu yang dihabiskannya, atau berapa uang yang harus dikeluarkan untuk membeli novel tebalnya, namun juga nyerempet isu lingkungan hidup. Ayu hendak berkonsisten rupanya, mengkaitkan cover dengan isi novel tebalnya.
Bagaimanakah cerita dalam novel tebal ini? Asyik. Terutama setelah separuh tebal buku. Tetapi, tetap saja, akan lebih asyik jika mulai dari depan. Bilangan Fu dimulai dari pemanjatan tebing Watugunung, di Selatan Pulan Jawa. Melalui catatan harian Sandi Yuda, seorang dari sekumpulan pecinta pendaki tebing, kisah ini bermula. Keasyikan penulis catatan harian adalah berpanjang-panjang. Ini alasan yang membentuk novel ini sebagai kisah yang diceritakan kembali dengan meluas melebar dan ditangani editor yang murah hati. Inti ceritanya bukan lagi soal panjat-memanjat. Secara perlahan cerita mengarah pada peristiwa sosio-religius masyarakat di sekitar Sewugunung, di bawah Watugunung yang dapat bersiul ‘huu..’. Hu atau fu?
Maka dipotret dan dikliping kepercayaan masyarakat terkait dengan isu lingkungan. Mulai dari sajenan, selametan, hantu, tuyul, sirkus, Ratu Laut Selatan hingga pemanjatan bersih, penggundulan hutan, bahkan pendirian pabrik semen…Adalah Parangjati, seorang mahasiswa geologi yang sekolah di Bandung berkampung halaman di sekitar Watugunung, tempat Yuda dan teman-temannya berkemah. Ia membela dan membawa kebudayaan lokal dalam pemahaman kritis. Melalui Parangjatilah, kisah menjadi hidup, berurat dan berdarah. Ia adalah simpul yang menghubungkan tokoh-tokoh cerita lain. Baik orang kota maupun orang-orang desa. Dari Marja yang sintal, Mbok Manyar sang juru kunci dan pawang hujan desa, sampai Pontiman Sutalip kepala desa, Kupu-kupu yang fundamentalis, adiknya hingga Suhubudi, bapaknya sendiri. Parangjati menjadi simpul cerita tentang perebutan kuasa antara fundamentalisme Kupu-kupu, tradisi orang-orang desa, kekerasan militer dan kisah cinta antara Marja dan Yuda.
Tidak heran jika novel ini diperkenalkan sebagai spiritualisme kritisnya Ayu. Nukilan kata, pelesetan nama dan istilah dari Alkitab bertebaran didalamnya. Dengan begini, novel menjadi maklumat ideologi penulis yang berhadapan dengan kekinian jaman. Jaman yang glamor, berteknologi, berdukun, miskin, bodoh, saling tumpang tindih, adalah realita hidup sebenarnya. Dengan menggunakan pisau dari berbagai disiplin ilmu, seperti filsafat, matematika, bahasa dan lain-lain, Ayu membedah persoalan ketuhanan dan lingkungan. Kali ini Ayu tidak menghadapinya dengan dekonstruksi kritis. Melalui novel ini, ia bersikap konstruktif positif kritis. Membangun kembali nilai dan membelanya dari yang telah diruntuhkan modernisme.
Rasa Tidak Pernah Bohong
23 Jun 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in Pagi, Sabda Tag:Ahimelek, Dewi Keadilan, keadilan, ketidakadilan
1Samuel 22:11-16
Lalu raja menyuruh memanggil Ahimelekh bin Ahitub, imam itu, bersama-sama dengan seluruh keluarganya, para imam yang di Nob; dan datanglah sekaliannya menghadap raja. Kata Saul: “Cobalah dengar, ya anak Ahitub!” Jawabnya: “Ya, tuanku.” Kemudian bertanyalah Saul kepadanya: “Mengapa kamu mengadakan persepakatan melawan aku, engkau dengan anak Isai itu, dengan memberikan roti dan pedang kepadanya, menanyakan Allah baginya, sehingga ia bangkit melawan aku menjadi penghadang seperti sekarang ini?” Lalu Ahimelekh menjawab raja: “Tetapi siapakah di antara segala pegawaimu yang dapat dipercaya seperti Daud, apalagi ia menantu raja dan kepala para pengawalmu, dan dihormati dalam rumahmu? Bukan ini pertama kali aku menanyakan Allah bagi dia. Sekali-kali tidak! Janganlah kiranya raja melontarkan tuduhan kepada hambamu ini, bahkan kepada seluruh keluargaku, sebab hambamu ini tidak tahu apa-apa tentang semuanya itu, baik tentang perkara kecil maupun perkara besar.” Tetapi raja berkata: “Engkau mesti dibunuh, Ahimelekh, engkau dan seluruh keluargamu.”
Selalu menjadi pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai: mengurai keadilan. Sebab ketidakadilan berkeliaran di sekitar kita, dan membuat semuanya kusut. Kita bergaul intim dengannya tiap saat. Sangat akrab, mengenalnya dengan baik dan lengket. Kita sama-sama tahulah itu. Dan, kita sama-sama berpura-pura tidak tahu. Tutup mata, telinga, mulut dan aman. Maka, menjadi sulit untuk membedakan yang benar dan yang salah, yang adil dan yang tidak adil. Memang ada batas yang harus disingkap: antara berpura-pura dengan yang tidak. Lagi
Teror Briefing
22 Jun 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in Pagi, Sabda Tag:Briefing, Orang sulit, Teror
1Samuel 22:6-10
Hal itu terdengar oleh Saul, sebab Daud dan orang-orang yang bersama-sama dengan dia telah diketahui tempatnya. Adapun Saul ada di Gibea, sedang duduk di bawah pohon tamariska di bukit, dengan tombaknya di tangan dan semua pegawainya berdiri di dekatnya. Lalu berkatalah Saul kepada para pegawainya yang berdiri di dekatnya: “Cobalah dengar, ya orang-orang Benyamin! Apakah anak Isai itu juga akan memberikan kepada kamu sekalian ladang dan kebun anggur, apakah ia akan mengangkat kamu sekalian menjadi kepala atas pasukan seribu dan atas pasukan seratus, sehingga kamu sekalian mengadakan persepakatan melawan aku dan tidak ada seorangpun yang menyatakan kepadaku, bahwa anakku mengikat diri dengan anak Isai itu? Tidak ada seorangpun dari kamu yang cemas karena aku, atau yang menyatakan kepadaku, bahwa anakku telah menghasut pegawaiku melawan aku menjadi penghadang seperti sekarang ini.” Lalu menjawablah Doeg, orang Edom itu, yang berdiri dekat para pegawai Saul, katanya: “Telah kulihat, bahwa anak Isai itu datang ke Nob, kepada Ahimelekh bin Ahitub. Ia menanyakan TUHAN bagi Daud dan memberikan bekal kepadanya; juga pedang Goliat, orang Filistin itu, diberikannya kepadanya.”
“Aduh, sebentar lagi briefing!” Bukan hanya satu dua anak-anak dalam perkemahan yang mengeluh. Hampir semua tidak suka kata ini. Barangkali hanya kakak pembina yang suka. Breifing di perkemahan ini tidak hanya berarti pengarahan singkat dalam upacara kecil. Sebaliknyalah yang sering terjadi. Briefing bisa berarti interogasi berkepanjangan. Disertai dengan hukuman yang diada-adakan, demi terselenggaranya pembinaan kepatuhan dan ketaatan yang baik dan benar. Yang terjadi, banyak adik-adik yang mengakui kesalahan. Dihukum jalan jongkok tiga kali putaran. Ada yang suka rela. Lebih banyak yang tidak suka dan tidak rela. Setiap pagi dan sore diadakan briefing. Setiap kali pula ada jalan jongkok. Kesimpulannya ada dua. Pertama, hukuman akan tetap ada selama ada briefing. Jika ingin tidak ada hukuman maka briefing ditiadakan saja. Ini disukai adik-adik. Atau, kedua, memang kesalahan selalu ada, maka diperlukan briefing. Jika tidak ingin di-briefing, maka jangan melakukan kesalahan. Ini disukai kakak pembina. Mendengar kata briefing, telinga yunior serasa diteror. Atau sebaliknya, justru serasa candu yang dirindu, ketika yang yunior naik pangkat jadi senior. Lagi







Komentar