Merayakan Perpisahan

11 Juni 2009

1 Samuel 20:41-43

…lalu tampillah Daud dari sebelah bukit batu; ia sujud dengan mukanya ke tanah dan menyembah tiga kali. Mereka bercium-ciuman dan bertangis-tangisan. Akhirnya Daud dapat menahan diri. Kemudian berkatalah Yonatan kepada Daud: “Pergilah dengan selamat; bukankah kita berdua telah bersumpah demi nama TUHAN, demikian: TUHAN akan ada di antara aku dan engkau serta di antara keturunanku dan keturunanmu sampai selamanya.” Setelah itu bangunlah Daud dan pergi; dan Yonatanpun pulang ke kota.

 

Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Ini slogan perjuangan yang menggairahkan. Rentetan berikutnya, sekali merdeka tetap merdeka! Lebih kurang ini bermakna, jika hendak meraih kejayaan, bersekutulah, bersatulah. Jangan tercerai berai begitu! Yang harus diingat, ini semboyan perang kemerdekaan tahun 45 an. Semboyan ini menjadi senjata canggih yang tidak kalah dengan bazoka dan tank tentara lawan. Lagi-lagi, harus dingat betul: Jangan sampai, karena sudah terbiasa bersekutu, bersatu, gotong-royong atau dengan kata lain main keroyokan, jadi nggak mau meraih kejayaan kalau sendirian! Mestinya, jika berani main keroyokan, berani pula main sendirian! Jaman tidak terus menerus perang. Tidak terus menerus ada bantuan atau gratisan. Ada waktu untuk persatuan, kesatuan, persekutuan dan perkoncoan. Ada juga waktu untuk kesendirian. Soalnya, kesendirian memang membawa perbawa ampuh: rapuh dan rawan. Baca entri selengkapnya »