1Samuel 22:6-10
Hal itu terdengar oleh Saul, sebab Daud dan orang-orang yang bersama-sama dengan dia telah diketahui tempatnya. Adapun Saul ada di Gibea, sedang duduk di bawah pohon tamariska di bukit, dengan tombaknya di tangan dan semua pegawainya berdiri di dekatnya. Lalu berkatalah Saul kepada para pegawainya yang berdiri di dekatnya: “Cobalah dengar, ya orang-orang Benyamin! Apakah anak Isai itu juga akan memberikan kepada kamu sekalian ladang dan kebun anggur, apakah ia akan mengangkat kamu sekalian menjadi kepala atas pasukan seribu dan atas pasukan seratus, sehingga kamu sekalian mengadakan persepakatan melawan aku dan tidak ada seorangpun yang menyatakan kepadaku, bahwa anakku mengikat diri dengan anak Isai itu? Tidak ada seorangpun dari kamu yang cemas karena aku, atau yang menyatakan kepadaku, bahwa anakku telah menghasut pegawaiku melawan aku menjadi penghadang seperti sekarang ini.” Lalu menjawablah Doeg, orang Edom itu, yang berdiri dekat para pegawai Saul, katanya: “Telah kulihat, bahwa anak Isai itu datang ke Nob, kepada Ahimelekh bin Ahitub. Ia menanyakan TUHAN bagi Daud dan memberikan bekal kepadanya; juga pedang Goliat, orang Filistin itu, diberikannya kepadanya.”
“Aduh, sebentar lagi briefing!” Bukan hanya satu dua anak-anak dalam perkemahan yang mengeluh. Hampir semua tidak suka kata ini. Barangkali hanya kakak pembina yang suka. Breifing di perkemahan ini tidak hanya berarti pengarahan singkat dalam upacara kecil. Sebaliknyalah yang sering terjadi. Briefing bisa berarti interogasi berkepanjangan. Disertai dengan hukuman yang diada-adakan, demi terselenggaranya pembinaan kepatuhan dan ketaatan yang baik dan benar. Yang terjadi, banyak adik-adik yang mengakui kesalahan. Dihukum jalan jongkok tiga kali putaran. Ada yang suka rela. Lebih banyak yang tidak suka dan tidak rela. Setiap pagi dan sore diadakan briefing. Setiap kali pula ada jalan jongkok. Kesimpulannya ada dua. Pertama, hukuman akan tetap ada selama ada briefing. Jika ingin tidak ada hukuman maka briefing ditiadakan saja. Ini disukai adik-adik. Atau, kedua, memang kesalahan selalu ada, maka diperlukan briefing. Jika tidak ingin di-briefing, maka jangan melakukan kesalahan. Ini disukai kakak pembina. Mendengar kata briefing, telinga yunior serasa diteror. Atau sebaliknya, justru serasa candu yang dirindu, ketika yang yunior naik pangkat jadi senior. Baca entri selengkapnya »
Ditulis oleh jarankepang 



