Mbah Sagiyem Penjual Pecel

31 Juli 2009
Sagiyem

Sagiyem

“Saya, ‘baru’ 14 tahun jualan pecel. Kira-kira semenjak mulai pembangunan mall dan pertokoan di Simpang Lima ini.” Begitu Mbah Sagiyem memulai kisahnya. Berikutnya, ia mengaku usianya 60 tahun dan belum ingin ‘pensiun’. Namun melihat kerut diwajahnya yang ayu dan merasakan wibawanya, mungkin lebih dari itu. Perlu tafsir tersendiri untuk menentukan waktu kira-kira berapa lama ia berjualan dan berapa tahun usianya.

“Dulu, saya jualan di sana. Siapa saja boleh jualan. Rame, nggak kaya sekarang. Banyak larangan.” Ia menunjuk lapangan Simpang Lima. Sekarang ia mangkal dekat parkiran matahari mall, sisi jembatan penghubung ke Citraland. Di bawah tenda yang telah pudar warna oranyenya, ia menggelar dagangannya bersama dengan gudeg dan penjual pecel lainnya. Baca entri selengkapnya »


Rekaman Gambar Tuhan

30 Juli 2009

Sabda Pagi

Recorder

Recorder

Anak-anak cucu akan beribadah kepada-Nya, dan akan menceritakan tentang TUHAN kepada angkatan yang akan datang (Mazmur 22: 31).

Candra berumur tiga tahunan. Dulu, ia adalah anak perempuan yang pendiam. Baik di gereja. Di rumah maupun di tempatnya bermain. Namun, sejak masuk pre-school, ia sering menyanyi sendiri. Nyanyiannya tentang angka, huruf, binatang dan teman-temannya. Kadang, ia menyanyi di ruang tamu. Kadang di depan cermin. Atau, kadang di kamar mandi. Betapa orang tuanya senang melihat hal ini. Nampaknya, Candra merekam pelajaran di ‘sekolah’-nya dengan baik. Kemudian, sesampainya di rumah, rekaman itu ‘diputar ulang’.

Seperti spon, anak memilik daya serap yang tinggi. Mata dan telinganya menjadi perekam yang sangat peka. Baca entri selengkapnya »


Merayakan Malam Jumat Kliwon bersama Dalang Ki Enthus Susmono

30 Juli 2009
Dasamuka Gugur oleh Ki Enthus Susmono

Dasamuka Gugur oleh Ki Enthus Susmono

Jalanan padat merayap. Arus lalu lintas tidak lancar. Parkir motor dan mobil para peziarah menyita ruas jalan di sekitar pemakaman umum. Setiap hari Kamis, malam Jumat Kliwon pemandangan seperti ini sering dijumpai. Aroma dupa, kembang mawar, kembang melati berbaur dengan wangi martabak goreng dan arum manis. Ditingkahi dengan bunyi-bunyian mainan anak-anak. Kuburan yang biasanya sepi dan wingit, justru ketika malam Jumat Kliwon ini menjadi pasar malam tiban. Jaman telah berubah, berubah jugalah cara merayakan malam Jumat Kliwon. Bukan dengan merenung dalam hening, melainkan ‘tapa ngrame’ alias menghidupi hingar-bingar. Makin meriah makin asyik.

Entah ada kaitannya atau tidak dengan malam Jumat Kliwonan, Teater Lingkar menyelenggarakan pertunjukkan wayang reguler, setiap malam Jumat Kliwon. Tentu bekerja sama dengan lembaga pemerintah, swasta dan para sponsor. Idealisme yang konsisten semacam ini perlu diapresisasi dan dibela, di tengah ‘pertempuran’ keras nilai-nilai peradaban.

Kali ini, Ki Enthus Susmono menyajikan Dasamuka Gugur. Beliau dikenal sebagai dalang yang ekspresif. Menurut ukuran normal, seringkali kata-katanya dianggap terlalu vulgar dan cabul. Jika sudah tahu begini dan tetap nonton berarti memang sudah siap untuk di-vulgar-i dan di-cabul-i. Jika tidak siap dan tidak mau, ya, jangan nonton! Selain itu, ia juga dikenal sebagai dalang yang kreatif menciptakan berbagai bentuk sungging. Dari wayang sejempol sampai segede orang beneran, dengan model dan bentuk yang berbeda. Ia juga memiliki kemampuan untuk menyajikan wayang golek. Sungguh besar energi yang dimilikinya. Memangku jagad permainan selama minimal 6 jam bukanlah pekerjaan main-main. Stamina perlu diatur.
Malam ini, Ki Enthus sungguh menyajikan kemampuan mendalangnya powerfull. Terutama di ¾ permainan. Didukung para awak gamelan berpakaian biru yang kompak, pesinden yang mampu mendukung suasana, menjadikan kemeriahan pesta Jumat Kliwonan di bawa dalam gedung Taman Budaya Raden Saleh sungguh terasa. Ger-geran tidak habis-habisnya. Nampaknya, Ki Enthus tidak mau terikat erat dengan struktur narasi atau pembagian babak secara konvensional. Dengan santai ia mengatakan, “Indrajit menyiapkan pasukan raksasa, siap menggempur pasukan kera Prabu Rama. Prabu Rama bingung dan minta konsultasi kepada Semar. Jadi, sekarang waktunya ‘goro-goro’.” Demikian juga ‘kata-kata sulit’ dihabisi, malah tidak jarang menggunakan bahasa Indonesia. Gendhing dan tembang-tembang baru diciptakan. Termasuk tembang dalam irama rap. Kritik (sarkastik) dilontarkan. Agak mengejutkan, karena kali ini tidak ditampilkan campur sari dan ‘pengajian’. Entah sejak kapan ditinggalkan. Mungkin dihilangkan dan digantikan dengan ‘wayang goleknya.’ Penonton belum bubar sampai akhir pertunjukkan. Mungkin karena endingnya yang tak terduga.
Semacam inilah upaya Ki Enthus agar wayang kulit tetap memiliki tempat di jaman ini. Usaha yang baik dan menyegarkan. Dan akan lebih afdal lagi jika ‘struktur cerita versinya’ sedikit lebih tertata. Sebab, penonton masa kini telah lebih siap menerima versi yang berbeda. Tentunya sambil mengatur tenaga agar ¼ di bagian akhir ke’enthusannya tidak luntur oleh kelelahan.

Dasamuka Gugur adalah lakon wayang yang mengisahkan tentang matinya Dasamuka oleh Anoman. Sebuah lakon yang menggambarkan harapan, bahwa angkara murka akan terkalahkan. Semoga terjadi di alam nyata. Suatu waktu.


Kembali kepada Allah

29 Juli 2009

Sabda Pagi
Orang yang mencari TUHAN akan memuji-muji Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya! Segala ujung bumi akan mengingatnya dan berbalik kepada TUHAN; (Maz 22: 27-28)

Rumah di Tengah Sawah

Rumah di Tengah Sawah

Mall Citraland sepi, tidak seramai biasanya. Nampaknya, pameran perumahan oleh developers telah berlangsung beberapa hari. Maket-maket dipajang di lantai bawah. Berbagai  model dan tipe rumah ditawarkan. Beberapa orang terlibat dalam percakapan serius dengan penjaga. Mereka suami-istri muda usia. Mungkin sedang mencari rumah idaman yang dirasa cocok. Beberapa lagi, nampak sudah berusia. Mungkin sudah punya rumah, tapi ingin punya investasi properti. Dari satu stand ke stand lain tertata rapi. Cuci mata menjadi menyenangkan.

Hmm, mengapa orang mencari rumah? Sebab, rumah bukan hanya sekedar sebentuk bangunan tempat tinggal. Baca entri selengkapnya »


Memuji Tiada Henti

28 Juli 2009

Sabda Pagi
Pujilah Dia, hai segenap anak cucu Yakub, muliakanlah Dia, dan gentarlah terhadap Dia, hai segenap anak cucu Israel! Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajahNya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya (Maz 22: 24,25).

Tuhan tidak hanya memberi kehidupan. Tetapi, ia juga merawatnya. Dicurahkannya berkat setiap saat. Ia tidak pernah absen, tidak pernah lupa pada ciptaanNya. Betapa berbahagianya manusia. Hanya saja, manusia tidak setiap saat taat. Tidak setiap waktu memuji dan bersyukur kepadaNya. Sekalipun, ini dapat menghilangkan kebahagiannya. Baca entri selengkapnya »