Tuhan Melihat Geliat Ulat

25 Juli 2009

Sabda Pagi
  
Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak. Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya:”Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?” (Mazmur 22: 7-9)

kepompong

kepompong

Ulat- kepompong-kupu-kupu. Ini adalah proses metamorfosa. Ulat yang menjijikkan jadi kupu-kupu yang indah. Yang buruk rupa berubah jadi cantik penuh warna. Di sana ada harapan bahwa ‘habis gelap terbitlah terang. Setelah mengalami penderitaan, datanglah kesukaan. Kematian digantikan kebangkitan. Nah soalnya, bagaimana jika jadi ulat terus, tak (atau belum?) pernah jadi kupu-kupu? (Yuk dijawab bareng-bareng pakai koor: “kasihan deh, Lu!” Ah, raja tega!) Baca entri selengkapnya »