Sabda Pagi
Ia ingat bahwa mereka itu daging, angin yang berlalu, yang tidak akan kembali. Mereka tidak ingat kepada kekuasaan-Nya, kepada hari Ia membebaskan mereka dari pada lawan (Mazmur 78: 39,42 (baca 39-51)).
Masih ingat lagu kocak ini?
…
Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya 2X
Ingat, ingat ingat ingat, cuma ingat kuncinya 2X
…
Ya, ini adalah lagu dari Kuburan Band.
Semua orang pernah lupa. Semua orang pernah bermasalah dengan daya ingatnya. Tetapi tidak semua orang pernah berpikir untuk membuatnya sebagai lagu. Ingat dan lupa mestinya berkaitan dengan peristiwa yang pernah atau sedang terjadi. Baik menimpa diri sendiri atau orang lain. Tentu saja kejadian yang langsung mengenai diri sendiri, berpeluang lebih lama diingat daripada mengenai orang lain. Masalahnya, kata lupa terlalu sering dijadikan kambing hitam oleh manusia yang ingin seenaknya. Tidak bisa mengerjakan tugas, alasannya lupa (Sekarang lupa, padahal… dulu belum pernah bisa). Malas bersih-bersih rumah, alasannya lupa (Sekarang lupa, padahal…malas). Tidak punya uang beli oleh-oleh untuk orang di rumah alasannya lupa (Sekarang lupa, padahal…tidak punya uang). Dan, kalimat “Sekarang lupa, padahal…” titik-titiknya bisa diisi sesuai dengan pengalaman pribadi.
Pemazmur mewartakan pada kita tentang ingat dan lupa. Israel tidak ingin mengingat bagaimana Allah telah menyelamatkan mereka dari Mesir. Mereka justru diselamatkan, ketika Mesir kena macam-macam tulah. Dari tulah sungai darah hingga kematian anak-anak sulung di Mesir. Mereka juga mudah melupakan berkat Allah di padang gurun. Barangkali, mereka lupa karena Allah tidak menolong mereka secara langsung. Artinya Allah menolong melalui tulah yang menimpa bangsa Mesir. Tidak menyelamatkan Israel pindah langsung ke Kanaan. Barangkali. Tetapi tidak juga. Bukankah, cerita tentang mukjijat Allah yang memberi makan dan memberi minum di padang gurun adalah ungkapan bahwa Allah senantiasa menyentuh kehidupan manusia secara langsung? Tidak keliru.
Perjalanan bangsa Israel di masa lalu adalah perjalanan manusia. Artinya cerminan pergumulan nyata kita-kita juga. Manusia yang pengin hidup seenak-enaknya, tetapi tidak ingin terikat dengan ingatannya yang menuntun pada Tuhan dan kebaikan. Manusia yang malas dan tidak ingin belajar dari masa lalunya. Pemazmur mengajak kita untuk merenung, “Ia setia berkarya dalam berbagai peristiwa. Kita bisa banyak belajar dan mengambil hikmahnya. Maukah kita mengingat-ingatnya?”
Lupa, sekali dua pasti pernah terjadi. Tapi lupa memang mengundang bahaya, apalagi jika telah menjadi kebiasaan. Bayangkan, mereka yang berprofesi akrab dengan sejata bom dan lupa sandi atau lupa mengunci…! Boleh lupa, tetapi resiko ditanggung sendiri.
Ayo, aja lali karo Gusti!
(Catatan: Karena diingatkan oleh Mba Nia, maka saya menambahkan bahwa ‘lupa’ yang dimaksud di sini bukan karena sebab fisik yang menyerang syaraf. Misalnya alzheimer. ‘Lupa’ di sini lebih dikarenakan ‘kebiasaan’ untuk lupa. Terimakasih)




