Mall Adalah Rumah Kita
21 Des 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in *, Jalan-jalan Tag:kapitalisme, Mall, modernisme, natal, Paragon, spiritualitas
“Mari beribadah, bermain, belajar memasak dan belanja di sini!”
Pagi ini Dama lomba lasy di sini. Dan ini adalah kali pertama, kami menginjakkan kaki di Paragon Mall sejak dibuka 22 April 2010 yang lalu. Posisi bangunan yang strategis di jalan Pemuda 118, sehingga memudahkan menjaring tamu dari bagian barat kota. Nampaknya, mall ini akan menjadi yang paling bergengsi dalam menawarkan gaya hidup hidup modern, canggih, minimalis dan futuristik setelah Java Mall, DP Mall, Citra Land dan Matahari Mall, meskipun masih terus dibenahi. Para pekerja masih mengecat dan membenahi lantai-lantai atas. Lagi
Natal Diakonia 2010
19 Des 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in * Tag:Diakonia, GKJ Wisma Panunggal Mrican, Karitatif, Natal 2010, Reformatif, Transformatif
Setelah pelayanan baptisan pada Kebaktian Siang, acara dilanjutkan dengan Perayaan Natal Diakonia.
Acaranya simpel: Nyanyi, renungan, dan membagi bingkisan yang disebut aksi sosial. Lalu pulang, makan siang di rumah masing-masing…he..he…
Panitia menyediakan 75 bingkisan sembako, yang diperuntukkan bagi 33 warga gereja dan sisanya untuk masyarakat umum. Satu bungkus berisi beras, minyak goreng, teh, roti kering, apalagi ya…kelihatannya yang bawa cukup kerepotan… Lagi
Rapot Anakku
17 Des 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in Keluarga Tag:anakku, Dama, Rapot, Santo Yusup, Tiga tahun
Pagi ini Dama tidak bangun pagi. Tidak sekolah. Tidak mandi. Tidak gosok gigi. Begitu bangun nyusul ayahnya, nonton spongebob di tivi.
Ibunya mandi. Acaranya mau ambil rapot Dama. Selesai berdandan dan mau pamitan, Dama nangis tidak mau ditinggal.
“Mari, Nak dengerin lagu baru, Djogdja Istimewa karya Muhamad Marzuki di laptop ayah!” Dama ikut nyanyi, “Jogja, Jogja memang istimewa, istimewa negrinya, istimewa orangnya…” Ini lagu memang istimewa. Anak yang nangis jadi ketawa.
Istriku pulang, bawa sebuah tas biru berisi 3 map besar. Satu map isinya oretan-oretan maha karya Dama. Satu map berisi nilai-nilai berupa gambar matahari, bintang, bulan dan hati. Kelihatan dari lembar-lembar kerja di sini bahwa anakku hebat. Sehebat orang tuanya, tentu. Mungkin lebih, he he… Terus map yang ke-3 rapot bahasa Inggris Dama. Ini ngga begitu penting. Karena bahasa Inggris dan celotehan anakku toh sama-sama ngga jelas. Meskipun bahasa Inggris penting juga. Tak mengapalah, ngomong pakai bahasa Indonesiapun belum becus. Lagi
Sate Samirono
14 Des 2010 1 Komentar
in Jalan-jalan Tag:Kambing, kuliner, Sate Samirono
Hari ini istimewa. Sudah kuniatkan bahwa siang ini aku akan makan sate kambing Samirono Baru, yang terkenal itu. Mumpung masih di Jogja. Mumpung juga belum sarapan.
Kupesan sate daging dan tengkleng kambing. Dan es jeruk sebagai penggelontor. Setelah nunggu 15 menit datanglah pesanan. Dagingnya sedikit lebih kecil daripada sate di Salatiga. Tapi soal rasa, ga usah ditanya. Ya, rasa daging kambing. Enak. Siraman kecap dan sambel terasa kurang pedes. Minta irisan lombok tidak datang-datang. Tengklengnya, tipis-tipis ringan bumbunya. Berisi tulang sumsum, kaki, pecahan kepala. Pas, dimakan setelah kemanisan kecap dan kepedesan sambel.
Sengaja pesen sate sekaligus tengkleng supaya tahu mana masakan yang istimewa. Menurut saya enak semua, namun tidak istimewa. Menghabiskan 36 ribu rupiah termasuk nasi putih, barangkali sebanding untuk memuaskan rasa penasaran nongkrong di warung yang kondang.








Komentar