Kebaikan dan Kejahatan dalam Agama
07 Des 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in * Tag:agama, Baik dan Jahat, Dialog, Kategorisasi, Tipologi
Dalam sejarah telah terbukti bahwa banyak kekerasan terjadi atas nama agama. Namun juga tidak dapat dimungkiri bahwa agama juga memberikan banyak kebaikan. Itulah sebabnya agama mencerminkan dua wajahnya sekaligus secara fenomenologis: sebagai sumber kebaikan dan kejahatan. Contoh agama sebagai sumber kekerasan atau kejahatan yang terkenal adalah Perang Salib, yang telah merenggut ribuan nyawa dari pihak Muslim maupun Kristen atas nama Tuhan dan ayat-ayat suci. Atau, contoh yang up to date, adalah tindakan kekerasan kepada sekelompok agama malah atas nama penodaan agama dan orang rela bunuh diri untuk menjadi ‘pengantin’ bom bunuh diri. Namun, juga tak terhitung jumlahnya, demi agama banyak orang rela menjadi martir atau mati sahid untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. Ibu Theresa di Kalkuta India salah satu contohnya. Atau, Mas Trimo yang Muslim bekerja dengan begitu tekun sebagi cleaning service selama puluhan tahun di lingkungan Kristen. Intinya, agama dapat menggerakkan orang untuk berbuat jahat atau berbuat baik. Dahsyat bukan daya ledak yang tersembunyi dalam agama?
Para penganut agama sering mengibarkan ‘truth claim’, bahwa agamanyalah yang paling benar. Sebenarnya tidak masalah, jika tidak ditambahkan: …dan agama yang lain adalah salah, kliru, luput! Mengapa? Karena kebenaran agama sebenarnya masih abstrak dan baru menjadi konkret jika penganutnya mewujudnyatakannya dalam tindakan keseharian. Menjadi lucu bin ajaib, jika saya mengatakan bahwa agama saya adalah paling benar tetapi saya sebagai penganutnya menegakkan klaim itu sambil membakar toko, yang jelas-jelas melanggar aturan! Atau saya menyatakan bahwa agama sayalah yang paling dipenuhi kasih Allah, tetapi saya malah menebarkan fanatisme dan kebencian atas nama Allah.
Berkaitan dengan agama lain, biasanya terdapat 3 tipologi atau kategorisasi, yaitu eksklusif, inklusif dan pluralis. Namun, boleh dong jika kali ini ditambah satu, jadi ada 4:
1. Eksklusifis
Pandangan ini menyatakan bahwa agamanya sendirilah yang paling benar. Ini sebenarnya malah bagus bagi keimanan pribadi. Sebab, tidak mungkin saya mengatakan bahwa agama lain adalah paling benar. Jika demikian maka iman saya sebenarnya ada pada agama lain itu. Persoalan baru dimulai ketika dikatakan dengan silogisme berikut ini: Karena agama saya paling benar maka agama lain pasti salah. Logika kalimat ini kelihatannya tak bermasalah. Justru maslah baru saja dikibarkan. Masalahnya: Beriman bukan hanya soal logika, iman juga menyangkut emosi. Apakah tidak akan emosi, jika dikatakan bahwa agama saya pasti salah oleh orang lain? Biasanya, dialog yang sejati tidak akan berjalan jika modelnya begini. Oleh karena itu paling banter kita hanya bisa mengatakan: Agama saya paling benar, DAN saya melihat pada agama lain pada beberapa hal TIDAK SAYA SETUJUI. Ada kata DAN di sana yang menunjukkan bahwa antara agama saya dan agama orang lain, tidak selalu harus merupakan hubungan sebab akibat melulu yang bersifat kontradiktif dan selalu konflik. Serta frase TIDAK SAYA SETUJUI mengingatkan bahwa ada pengakuan jujur secara subyektif dari pribadi saya, yang memungkinkan bagi orang lain untuk menanggapinya secara berbeda: mungkin saja bagi orang lain justru yang terbaik. Demikian pula sebaliknya.
2. Inklusifis
Ini adalah pemahaman bahwa Tuhan yang menyelamatkan saya juga akan menyelamatkan orang lain. Barangkali ini bisa ditafsirkan dari dua arah: Pertama, ini berarti Tuhan yang saya sembah melalui agama saya, bukan hanya menyelamatkan saya melainkan juga menyelamatkan oran lain meskipun mereka berbeda agama dari saya. Ini karena Tuhan yang saya sembah itu sungguh-sungguh ‘super’. Kedua, agama lain itu baik-baik saja, tetapi perannya ‘hanya; sebagai pengarah yang menuju pada Tuhan yang saya sembah melalui agama saya. Agama lain diakui keberadaannya, namun agama sayalah yang menyempurnakannya. Orang yang inklusifis berarti telah membuka diri bahwa Tuhan yang disembahnya juga bukan hanya ‘miliknya’ sendiri, tetapi juga ‘diperbolehkan dimiliki’ oleh orang lain.
3. Pluralis
Pusat dari semua agama adalah yang illahi. Semua agama setara, sebagai jalan menuju Tuhan menurut caranya masing-masing. Sering kita menjadi tergoda atau tersentil jika dikatakan: semua agama sama. Maksudnya dari kategori pluralis dengan kata sama adalah sama-sama menuju Allah. Jika kita masih tidak terima berarti masalahnya ada pada kita, yaitu kita ada di tahap eksklusif atau inklusif. Pada bagian pluralis ini tidak ada agama yang lebih unggul atau diakui sebagai setara karena sama-sama menuju Realitas Absolut atau Tuhan. Ini penting untuk menyadarkan kita bahwa agama selalu terarah pada Realitas Abslut atau Tuhan. Adakah yang tidak? Itulah intinya. Namun, pluralis juga mengesankan bahwa dengan menyatakan bahwa semua agama sama atau setara berarti telah membuat ‘agama’ tersendiri dalam pengertian tertentu. Bahkan, seorang pluralis yang begitu getol memaksakan pendapatnya, malah bisa terjatuh untuk disebut sebagai pluralis-eksklusif.
4. Perspectivalist (post liberalis)
Dalam perspectivalist agama tidak dipandang sebagai obyek lagi, namun disadari sebagai pembentuk cara pandang yang membantu memahami dunia dan memberinya makna. Hindu, Buddha dan sebagainya, dirasakan sungguh membantu karena menolong umatnya untuk melihat dunia yang bermakna ini. Seseorang menjadi baik karena cara pandang yang dianut melalui agamanya. Demikian pula sebaliknya, jika jahat itu disebabkan cara pandang yang dianut melalui agamanya juga. Pada bagian keempat ini kita jadi tahu, bahwa agama sebagai sumber kebaikan atau kejahatan disebabkan karena cara pandang yang tersedia oleh suatu hubungan antara aku dan agamaku.
Maka, sekarang kita bisa melihat dengan lebih jelas, sebenarnya kita ada di posisi mana: Pertama, kedua, ketiga, atau keempat. Boleh juga double, yang pertama dengan yang keempat, misalnya. Triple juga bisa. Bahkan menyatakan diri bahwa saya dalam diriku ini terdapat keempatempatnya juga boleh. Mengapa? Karena ini kan ‘hanya tipologi kategorisasi’, yang bermanfaat untuk memudahkan (karena manusia sebenar-benarnya sulit untuk dipetakan). Asal aku memang begitu, benar dan sadar.
Karya pengasihanNya lebih dari yang kita pikirkan
15 Jan 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in * Tag:Gereja Kristen Jawa Wisma Panunggal Mrican Semarang, Kebaktian Emeritasi, Pelayanan, Pendeta GKJ
Kebaktian Emeritasi atas diri Pdt. Emeritus Sulendra Partoatmodjo telah dilaksanakan di GKJ Wisma Panunggal Mrican Semarang pada hari Jumat, 14 Januari 2011, tepat pukul lima sore. Sekitar 330 tamu hadir sebagai jemaat ikut berdoa, mendukung dan merasakan kesaksian Pdt. Em. Sulendra Partoatmodjo atas perjalanan pelayanannya selama 30-an tahun, yang menjadi tema kebaktian emeritasi, “Karya pengasihanNya lebih dari yang kita pikirkan.” Lagi
Mall Adalah Rumah Kita
21 Des 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in *, Jalan-jalan Tag:kapitalisme, Mall, modernisme, natal, Paragon, spiritualitas
“Mari beribadah, bermain, belajar memasak dan belanja di sini!”
Pagi ini Dama lomba lasy di sini. Dan ini adalah kali pertama, kami menginjakkan kaki di Paragon Mall sejak dibuka 22 April 2010 yang lalu. Posisi bangunan yang strategis di jalan Pemuda 118, sehingga memudahkan menjaring tamu dari bagian barat kota. Nampaknya, mall ini akan menjadi yang paling bergengsi dalam menawarkan gaya hidup hidup modern, canggih, minimalis dan futuristik setelah Java Mall, DP Mall, Citra Land dan Matahari Mall, meskipun masih terus dibenahi. Para pekerja masih mengecat dan membenahi lantai-lantai atas. Lagi
Natal Diakonia 2010
19 Des 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in * Tag:Diakonia, GKJ Wisma Panunggal Mrican, Karitatif, Natal 2010, Reformatif, Transformatif
Setelah pelayanan baptisan pada Kebaktian Siang, acara dilanjutkan dengan Perayaan Natal Diakonia.
Acaranya simpel: Nyanyi, renungan, dan membagi bingkisan yang disebut aksi sosial. Lalu pulang, makan siang di rumah masing-masing…he..he…
Panitia menyediakan 75 bingkisan sembako, yang diperuntukkan bagi 33 warga gereja dan sisanya untuk masyarakat umum. Satu bungkus berisi beras, minyak goreng, teh, roti kering, apalagi ya…kelihatannya yang bawa cukup kerepotan… Lagi
Dimanakah Ibu Mesach?
03 Feb 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in * Tag:Gereja, GKJ Wisma Panunggal Mrican Semarang, Ibu Mesach, Umat
Alamat rumahnya di Jl. Bukit Cemara Permai VII Blok DL no. 8. Terletak di sekitaran Perumahan Bukit Kencana Jaya.
Tampak sepi dari luar. Ternyata rumah ini dalam proses penguasaan BTN. Entah apa maksudnya. Yang jelas, pemilik rumah diminta segera menghubungi BTN. Kira-kira demikianlah stiker yang tertulis di kaca-kaca jendela.
Rasanya sudah sangat lama tidak berjumpa dengan Ibu Mesach. Mungkin, aku yang kurang memperhatikan. Dan hari ini, aku menemukan rumahnya kosong.
Jadi, sekarang Ibu Mesach ada di mana?








Komentar