Mall Adalah Rumah Kita

“Mari beribadah, bermain, belajar memasak dan belanja di sini!”

Wauuw…inilah Paragon Mall.

Pagi ini Dama lomba lasy di sini. Dan ini adalah kali pertama, kami menginjakkan kaki di Paragon Mall sejak  dibuka 22 April 2010 yang lalu. Posisi bangunan yang strategis di jalan Pemuda 118, sehingga memudahkan menjaring tamu dari bagian barat kota. Nampaknya, mall ini akan menjadi yang paling bergengsi dalam menawarkan gaya hidup hidup modern, canggih, minimalis dan futuristik setelah Java Mall, DP Mall, Citra Land dan Matahari Mall, meskipun masih terus dibenahi. Para pekerja masih mengecat dan membenahi lantai-lantai atas. Lagi

Sate Samirono

Hari ini istimewa. Sudah kuniatkan bahwa siang ini aku akan makan sate kambing Samirono Baru, yang terkenal itu. Mumpung masih di Jogja. Mumpung juga belum sarapan.

Kupesan sate daging dan tengkleng kambing. Dan es jeruk sebagai penggelontor. Setelah nunggu 15 menit datanglah pesanan. Dagingnya sedikit lebih kecil daripada sate di Salatiga. Tapi soal rasa, ga usah ditanya. Ya, rasa daging kambing. Enak. Siraman kecap dan sambel terasa kurang pedes. Minta irisan lombok tidak datang-datang. Tengklengnya, tipis-tipis ringan bumbunya. Berisi tulang sumsum, kaki, pecahan kepala. Pas, dimakan setelah kemanisan kecap dan kepedesan sambel.

Sengaja pesen sate sekaligus tengkleng supaya tahu mana masakan yang istimewa. Menurut saya enak semua, namun tidak istimewa. Menghabiskan 36 ribu rupiah termasuk nasi putih, barangkali sebanding untuk memuaskan rasa penasaran nongkrong di warung yang kondang.

Tahbisan Pendeta atas Diri Vikaris Timotius Setyanto di GKJ Semarang Timur

Pdt Anung mengawali ibadah

Jam 09.00 kurang 15 menit lagi. Tamu-tamu sudah duduk di bawah tenda maupun di dalam gedung gereja. Rupanya, yang di bawah tenda adalah jemaat yang biasa beribadah di GKJ Semarang Timur. Tidak apa-apalah, kalau jemaat dalam perayaan saat ini duduk di luar gedung, kan setiap hari minggu sudah duduk di dalam gedung gereja. Atau mau milih di balkon? Boleh juga. Sedangkan yang sekarang duduk di dalam adalah tamu-tamu undangan khusus.

Para pendeta sedang mempersiapkan diri. Di lantai satu untuk para pendeta sepuh sedangkan di lantai dua untuk para pendeta muda yang masih bisa turun naik tangga. Ada sekitar…pendeta dalam satu ruangan, tidak heran jadi berdesakan. Tidak ada yang melarang untuk menikmati kudapan dan minum sambil ganti baju, jika sempat. Setelah persiapan cukup, para pendeta berarak memasuki gereja membentuk antrian panjang, kemudian menempati kursi paling depan, di kanan dan kiri.

Dari dekorasi gedung, buku yang tercetak, soundsystem yang ada, para pelayan ibadah yang sudah siap di tempat sebelum pukul sembilan pagi, kelihatan jelas acara ini dipersiapan dengan sungguh-sungguh, didukung dengan sepenuh hati. Tidak terbayang berapa kali song leaders atau paduan suaranya berlatih. Berapa bulan dihabiskan untuk rapat-rapat. O, ya jangan dilupakan, berapa penjahit harus lembur untuk seragam batik panitia demi mendukung acara ini. Bahkan jalan raya yang biasanya kena rob juga sudah ditinggikan pakai beton. Hebat bener, sampai pemerintah kota pun ikut mempersiapakan peristiwa penahbisan ini! Nggak heran, jika sambutan walikota edisi terkini pun telah tercetak dalam buku acara.

Pdt Nomolas mimpin penahbisan

Seperti dugaanku, acara berjalan dengan baik-bagus malah-karena dipersiapkan dengan matang. Ibadah bagian awal dipimpin oleh Pdt Anung didampingi oleh semacam lektris yaitu Bu Tika (:istri Pak Anung. Pak Anung ngga mau didampingi jika bukan Bu Tika). Sedangkan penahbisannya oleh Pdt Nomolas yang didahului solo song oleh sang vikaris. Maklum, Mas Peyok dulunya adalah penyanyi. Kotbah sulung tentu saja oleh pendeta yang terbaru, Pdt Timotius. Bacaan yang dipilih, dari 2 Timotius 2:1-13, temanya tentang memenuhi panggilan pelayanan dengan setia. Ini nasehat Rasul Paulus untuk Timotius muda jaman dulu, yang diaktualkan kembali oleh Pdt Timotius muda di masa kini. Ini memang pesan untuk yang namanya Timotius, jadi bagi hadirin yang namanya bukan Timotius boleh tidak mendengarkan…he…he!

Pada intinya, acara dibagi dua. Pertama acara ibadah penahbisan, dan kedua seremonial dalam arti sambutan-sambutan. Keduanya berjalan lancar, dan sebelum jam dua belas telah selesai. Maka, makan siang dan snack tambahan silakan di bawa pulang, untuk makan siang bersama di rumah masing-masing.

Privisiat, Mas Peyok!

Tirakatan 16 Agustus 2010

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00WIB. Orang-orang sudah berkumpul, duduk lesehan di tengah jalan beralaskan karpet. Snack dalam kardus putih kecil sudah dibagikan. Nampaknya sudah tidak ada yang ditunggu lagi. Maka acara pun dimulai.

Mba Menik yang ditugaskan menjadi pembawa acara, menyapa hadirin dan menjelaskan acaranya. Pertama-tama adalah doa oleh Pak Honggo. Kedua, menyanyikan Indonesia Raya dan mengheningkan cipta. Ketiga sambutan Pak RT dan keempat potong tumpeng dan ramah tamah. Kelima acara spontanitas. Dengan gayanya, Mba Menik mempersilakan bagi Ibu-ibu yang sudah sepuh untuk pulang duluan jika tidak kuat lagi, tapi dengan syarat kalau acara sudah selesai. Wah, ya sama saja tidak memberi prioritas…!

Menarik, Pak Honggo yang lama tidak terlihat berkumpul dengan warga RT ditunjuk menjadi pendoa. Dulu, Pak Topo yang sering ditunjuk. Pak Topo adalah ayah dari Pak Honggo. Mungkin Pak RT dan panitia ingin memberi kesempatan bahwa dari keluarga besar ini harus melanjutkan tradisi menjadi pendoa di lingkungan sini. Gaya bapak-anak berbeda. Jika Pak Topo berdoa di luar kepala, enak saja ngobrol sama Tuhan pake bahasa Arab dan lancar, tidak demikian dengan Pak Honggo.  Pak Honggo kelihatan sangat  terpelajar dengan selembar kertas berisi teks doa, seperti mahasiswa-mahasiswa ketika berargumentasi dengan membawa catatan ringkas berisi data-data. Tapi, kepada Tuhan ‘kan tidak mungkin beradu adu fakta.

Lagu Indonesia Raya dan lagu mengheningkan cipta dinyanyikan dengan berdiri, dipimpin seorang ibu yang menjadi dirigen. Karena lupa tidak membunyikan garpu tala untuk mengambil nada dasar, suara yang diambil ternyata terlalu rendah, sehingga nggereng-nggereng. Tak apalah, Indonesia Raya tetap meluncur. Entah kenapa, jika menyanyikan Indonesia Raya tiba-tiba muncul sentimentilnya, ada rasa haru yang menyeruak di dada. Fals atau blero nggak mempengaruhi keharuan ini. Entah kenapa, lalu Ibu dirijen ini berubah dalam imajinasi saya menjadi Adi MS ketika mimpin orkestra. Mungkin, karena lagu ini sarat makna penuh keagungan (tapi tetap tidak ada hubungannya antara ibu dirijen kami dengan Adi MS).

Pak RT tidak suka basa-basi. Tidak suka berpanjang kata dalam sambutannya. Maka singkat saja ia memberi sambutan lalu ramah tamah. Ada dua tumpeng. Satu tumpeng dipotong Pak RT dan diberikan pada pemudi remaja. Sedangkan satunya dipotong oleh mantan Bu RT (Sepuh) dan diberikan oleh BU RT terkini kepada salah satu nenek yang sudah sulit menyelonjorkan kakinya. Kedua-dua tumpeng bersayur gudangan. Lauknya ayam gorng, ikan asin, rempeyek, kerupuk, tidak ketinggalan tahu-tempe. Bukan karena tidak doyan sehingga nasi tumpeng tersisa, harap dimaklumi bahwa mereka baru saja berbuka di rumah masing-masing.

Setelah kenyang, tibalah saat untuk spontanitas. Keluarga Mu’taqim mendonorkan hadiah-hadiah malam ini untuk memeriahkan suasana di tambah dua dari Mba Menik sendiri. Namun, para peserta tidak bangkit antusiasnya untuk mendapatkan hadiah. Mungkin kekenyangan. Sehingga pembawa acara kehabisan trik untuk memaksa hadirin terlibat memeriahkan acara. Akhirnya, main tunjuk saja. Ada yang mau. Tentu saja ada yang tidak karena tampil dalam acara semacam ini memang harus siap malu. Karena mau hujan, akhirnya hadiah dihabiskan dengan acara menjawab pertanyaan secara berebutan. Dan, peminatnya banyak. Yah, akhirnya memang ketahuan: lebih suka rebutan di akhir acara daripada tertib tampil satu per satu sejak awal.

Kali ini, acara diadakan lesehan, tidak duduk di kursi. Pak RT menjelaskan, bahwa setelah taraweh panitia tidak cukup waktu untuk mempersiapkannya. Juga untuk menghemat tenaga, tidak perlu membereskan banyak perkakas setelah acara berlangsung. Itulah sebabnya, malam ini kami makan pakai tangan, karena tidak tersedia sendok. Jika pakai sendok tentu harus pinjam dulu dan harus ada yang mencucinya.

Tabik, Sopir Angkot!

Pagi ini mau ke Jogya.

Setelah semalam mempertimbangkan, mau naik motor atau naik bis, akhirnya diputuskan: naik bis saja. Pertimbangannya supaya tidak terlalu lelah. Jujur saja, sebenarnya ingin naik motor, supaya bisa jalan-jalan menyusuri gang-gang Jogja. Namun harus jujur juga, ketika mau kembali ke Semarang rasanya sangat malas. Energi serasa habis. Bisa-bisa tidak sampai Semarang.

Beberapa kali pernah mengalami kelelahan ketika pulang ke Semarang. Dua kali berhenti, untuk mengatupkan mata. Tentu saja di emperan toko, bukan di hotel. Ketimbang jatuh atau tabrakan sambil tidur, lebih baik tidur sebentar sambil ngiler!

Nah, menuju halte Java mall aku naik angkot. Ada yang aneh dengan sopir angkot ini. Dengan mata, gelengan kepala dan bahasa tubuhnya mempersilakan aku masuk. Tidak tergesa-gesa kejar setoran, angkot berjalan dengan halus. Tidak berteriak teriak ia menawarkan angkot kepada orang-orang yang berdiri di pinggir jalan. Ia juga sangat menikmati pekerjaannya. Tanpa tekanan hidup, kegembiraan yang lembut terpancar dari wajahnya.

Dari tempat duduk dibelakang, nampak rambutnya tumbuh tidak beraturan menyentuh kaos oblongnya, dan agak botak. Seperti seniman yang masih menghidupi kredo: kesemrawutan demi seni yang membebaskan. Hanya saja, seniman atau bukan, sopir yang tidak ku kenal namanya ini telah membawa penumpangnya menikmati perjalanan yang menyenangkan dan membebaskan. Meski sekejap.

Tidak jarang bahkan hampir selalu, naik angkot menjadi perjalanan sangat panjang lebih dari senyatanya. Bukan saja soal  kebiasaan ngetemnya yang sungguh menguji kesabaran penumpang, juga cara mengemudikan yang ugal-ugalan dan sembarangan, keinginan cepat sampai tujuan menjadi waktu yang mulur sedemikian panjang yang mesti diisi dengan doa-doa mohon keselamatan pada Tuhan.

Tapi tidak untuk kali ini. Bahkan, belum sempat berdoa, sudah sampai tujuan. Halte Java mall sudah di seberang jalan. Seribu rupiah tidak sayang kubayarkan untuk pengalaman naik angkot yang menyenangkan.

Entah kenapa, aku tidak jengkel pada sopir angkot. Padahal, biasanya lihat saja sudah malas, karena terkenal ‘sak penake dhewe’, berhenti di tengah atau di pinggir jalan tidak ambil pusing. Seperti tanpa sadar, pagi ini tidak sempat memikirkan kebiasaan jelek sopir angkot. Malah, dibawa berkat untuk menemui kenikmatan kebebasan ala sopir angkot.

Bus Ramayana Patas membawaku ke Yogya

Previous Older Entries

Maste

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.