Menjadi Pusat Perhatian
05 Feb 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in Pagi, Sabda Tag:caper, renungan pagi, sepi ing pamrih rame ing gawe
Bacaan Alkitab: Yohanes 7:1-18
Jaman ini adalah jaman kapital. Ukurannya: jika layak, kenapa tidak ‘dijual’? Maka, iklan menjadi dunia tersendiri yang menarik perhatian. Sebab, melalui iklan orang mencuri perhatian. Melalui iklan orang memberi perhatian. Tidak jarang, kualitas nomor sekian. Nomor satu: yang penting diperhatikan! Inilah yang disebut politik dagang. Atau dagang politik. Tidak jarang terjadi gesekan, yang satu mengharapkan yang lain jatuh. Dalam gemuruhnya iklan dagang maupun iklan politik ini, keheningan Sabda perlu didengarkan suaraNya.
Ketika itu Yesus sedang menjadi pusat perhatian, lebih tepatnya menjadi tokoh kontroversial jaman itu. Yohanes memberikan catatan, “Dan banyak terdengar bisikan di antara orang banyak tentang Dia. Ada yang berkata: “Ia orang baik.” Ada pula yang berkata: “Tidak, Ia menyesatkan rakyat.” (Yohanes 7:2). Tidak heran ia dicari banyak orang. Sebagian memuji, sebagian lagi menghendaki Ia mati. Di tengah situasi seperti ini, Ia justru tampil di muka umum, untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan Allah bagiNya. “Jawab Yesus kepada mereka: “Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku” (Yohanes 7:16). Dengan membuka diri, keadaan menjadi lebih terang. Karena menjadi jelas siapa dan bagaimana ‘kualitas’ Yesus. BagiNya, menjadi pusat perhatian bukan untuk menarik keuntungan bagi diriNya sendiri. Sekali lagi, untuk menyatakan karya Allah melalui pengajaranNya. Sekalipun sangat besar harga yang harus ditanggungNya. Jika menggunakan bahasa pemazmur, “Orang-orang yang membenci aku tanpa alasan lebih banyak dari pada rambut di kepalaku; terlalu besar jumlah orang-orang yang hendak membinasakan aku, yang memusuhi aku tanpa sebab; (Maz 69:4).
Tentu saja, menjadi pusat perhatian dalam kasus Yesus adalah paradoks jaman ini, bukan? Sekarang kita menyaksikan begitu banyak orang yang berupaya mencari perhatian sebagai tujuan. Selanjutnya, jika telah menjadi pusat perhatian siap untuk meraih tujuan berikutnya. Padahal, dalam kasus Yesus ini, menjadi pusat perhatian adalah efek samping dari apa yang dilakukannya. Ia bekerja dengan setia, tanpa bertujuan menjadi pusat perhatian, ”Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya” (Ibrani 12: 3,5,11).
Masih cari perhatian?
Ingatlah, barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi barangsiapa mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya (Yoh 7:18). Sepi ing pamrih, rame ing gawe!
Tuhan Melihat Geliat Ulat
25 Jul 2009 2 Komentar
in Pagi, Sabda Tag:kasihani kami, kepompong, Kristus, Tuhan melihat, ulat
Sabda Pagi
Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak. Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya:”Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?” (Mazmur 22: 7-9)
Ulat- kepompong-kupu-kupu. Ini adalah proses metamorfosa. Ulat yang menjijikkan jadi kupu-kupu yang indah. Yang buruk rupa berubah jadi cantik penuh warna. Di sana ada harapan bahwa ‘habis gelap terbitlah terang. Setelah mengalami penderitaan, datanglah kesukaan. Kematian digantikan kebangkitan. Nah soalnya, bagaimana jika jadi ulat terus, tak (atau belum?) pernah jadi kupu-kupu? (Yuk dijawab bareng-bareng pakai koor: “kasihan deh, Lu!” Ah, raja tega!) Lagi
Mahkota Uban
23 Jul 2009 1 Komentar
in Pagi, Sabda Tag:bahagia, juara bertahan, mahkota, pemenang, uban
Sabda Pagi
Mazmur 21: 4
Sebab Engkau menyambut dia dengan berkat melimpah; Engkau menaruh mahkota dari emas tua di atas kepalanya.
“Barang siapa bersyukur hidupnya bahagia. Ini adalah resep sederhana, yang sudah terkenal di mana-mana. Sayang, harganya mahal dan barangnya langka. Pantes, tidak banyak orang yang mampu menjangkau bahagia. Dari golongan miskin atau kaya bisa bahagia, asal mau hidup sederhana. Seperti saya ini juga berhak bahagia!”
Pak Kiman menggolongkan dirinya sebagai orang yang sederhana ‘lahir-batin’. Secara lahir semua orang sudah tahu, karena memang rumahnya hampir bersih dari perabot ini-itu. Secara batin banyak juga yang mengakui. Apalagi dengan rambutnya yang telah putih, dan keriput diwajahnya. Beberapa lagi tidak hendak ngaku. Yang lain berkomentar,”Wait and see-lah, sebab hati manusia lebih dalam dari lautan”. Lagi
Komentar dan janji
10 Jul 2009 2 Komentar
in Pagi, Sabda Tag:capres, janji, komentar, pemilu, wapres
Sabda Pagi
Mazmur 7:3-6
Ya TUHAN, Allahku, jika aku berbuat ini: jika ada kecurangan di tanganku, jika aku melakukan yang jahat terhadap orang yang hidup damai dengan aku, atau merugikan orang yang melawan aku dengan tidak ada alasannya, maka musuh kiranya mengejar aku sampai menangkap aku, dan menginjak-injak hidupku ke tanah, dan menaruh kemuliaanku ke dalam debu.
Bermacam tanggapan terhadap quick count di TV. Ada yang puas. Ada yang mengatakan cukup menghargai. Ada yang langsung mengucapkan selamat atas terpilihnya ‘presiden dan wapres by quick count’. Ada yang masih menunggu hasil resmi KPU. Ada juga yang mengatakan bahwa pihaknya telah dicurangi atau dirugikan. Barangkali masih banyak komentar lainnya yang akan menyusul. Pada intinya, komentar, tanggapan, pernyataan itu diberikan setelah suatu peristiwa terjadi. Artinya kejadian lebih duluan disusul komentar belakangan. Lagi










Komentar