Panah Cinta dari Yonathan

Arjuna1 Samuel 20:18-23

Kemudian berkatalah Yonatan kepadanya: “Besok bulan baru; maka engkau nanti akan ditanyakan, sebab tempat dudukmu akan tinggal kosong. Tetapi lusa engkau pasti akan dicari; engkau harus datang ke tempat engkau bersembunyi pada hari peristiwa itu, dan duduklah dekat bukit batu. Maka aku akan memanahkan tiga anak panah ke samping batu itu, seolah-olah aku membidik suatu sasaran. Dan ketahuilah, aku akan menyuruh bujangku: Pergilah mencari anak-anak panah itu. Jika tegas kukatakan kepada bujang itu: Lihat anak-anak panah itu lebih ke mari, ambillah! —maka datanglah, sebab, demi TUHAN yang hidup, engkau selamat dan tidak ada bahaya apa-apa. Tetapi jika begini kukatakan kepada orang muda itu: Lihat anak-anak panah itu lebih ke sana! —maka pergilah, sebab TUHAN menyuruh engkau pergi. Tentang hal yang kita janjikan itu, antara aku dan engkau, sesungguhnya, TUHAN ada di antara aku dan engkau sampai selamanya.”

Aku masih ingat, namanya Willi. Ia murid terpandai di kelas kami. Kelas 3 SD Pius di Cilacap waktu itu. Sering kali kami melewatkan jam-jam istirahat di sela-sela pelajaran dengan bermain kelereng. Ia sangat suka bermain kelereng, entah kenapa. Hanya saja, ia sering berbuat curang. Tidak terlalu jujur, terutama kepadaku. Kepada teman yang lain kelihatannya tidak. Tetapi aku membiarkannya. Atau tertawa dan melanjutkan ketidakjujurannya. Karena toh, ia tidak akan pernah menang melawan aku. Sama seperti ketika ulangan matematika, ia membiarkan saja waktu aku menconteknya. Atau ketika pelajaran menggambar, aku sering meliriknya, “Bagus bener gambarnya!” Tibalah waktunya, ketika ketika ia dipanggil untuk berdiri di depan kelas. Aku tidak terkejut, sebab ibu guru kelas kami sering memanggil murid-muridnya yang nilainya paling bagus untuk menerima hadiah, seperti pensil, penghapus, buku tulis dan sebagainya. Dan, Willi paling sering berdiri di sana. Namun, kali ini berbeda. Bu guru mengumumkan bahwa Willi akan pindah sekolah di Semarang mengikuti ayah-bundanya. Hari-hari selanjutnya aku baru tahu kalau itu berarti tidak ada lagi permainan kelereng, tidak ada lagi contekan matematika dan tidak ada lagi gambar yang bagus. Entah kenapa, hari-hari selanjutnya aku sering menangis jika ingat Willi. Bahkan, romantime 25 tahun yang lalu ini  masih juga sanggup untuk mengalirkan airmataku. Akhirnya, pengalaman kehilangan Willi ini membuatku sedikit mencicipi apa yang disebut ikatan kasih persahabatan. Sekalipun dalam wujudnya yang sederhana dan emosional.

(Sekarang aku bertugas di Semarang, dan terus masih bertanya, “Dimanakah kamu, Willi?”)

Kisah dramatis Yonathan dan Daud mengungkapkan tentang kedalaman persahabatan. Sampai-sampai Yonathan berani menyelamatkan sahabatnya itu, meskipun dari rencana ayahnya sendiri. Cinta kasih Yonathan kepada Daud telah membuatnya menjatuhkan pilihan, lebih baik berkomplot dengan Daud, dari pada patuh kepada ayahnya sendiri. Dengan sandi panah ia hendak memberi tahu, apakah sahabatnya masih diterima atau ditolak dalam keluarganya: jika panahnya lebih kemari berarti datanglah. Lebih ke sana berarti pergilah jauh-jauh supaya selamat. Panah Yonathan bukan untuk membunuh, namun panahnya adalah tanda kasih yang menyelamatkan.

Persahabatan memang mengasyikkan. Betapapun dalam perjalanannya sering membuat pedih dan sakit. Kisah Yonathan dan Daud mengungkapkan bahwa persahabatan berdiri di atas dua dasar. Dasar yang pertama, persahabatan harus dibangun dengan ikatan cinta kasih. Yesus mengkristalkannya dengan ungkapan, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”(Yohanes 15:13). Tanpa cinta kasih, persahabatan hanya akan dimanfaatkan oleh salah satu pihak untuk mengambil nyawa pihak lain. Bukan saling memberikan nyawa kepada yang lain. Dengan demikian tujuan persahabatan adalah membuat orang selamat, damai dan sejahtera melalui apa yang dapat kita lakukan. Dasar kedua, ikatan persahabatan berguna untuk melindungi diri dari kejahatan. Bahkan persahabatan dapat digunakan untuk melawan kejahatan. Bukan justru untuk berbuat kejahatan. Biasanya, ikatan kebersamaan pelaku kejahatan disebut gerombolan. Maka, sebutlah ikatan kasih pelawan kejahatan sebagai persahabatan!

“Persahabatan bagai kepompong
Merubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
Na…na…na….na….na…na….”
(Sind3ntosca)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s