Murka

1Samuel 20: 30-34

DasamukaLalu bangkitlah amarah Saul kepada Yonatan, katanya kepadanya: “Anak sundal yang kurang ajar! Bukankah aku tahu, bahwa engkau telah memilih pihak anak Isai dan itu noda bagi kau sendiri dan bagi perut ibumu? Sebab sesungguhnya selama anak Isai itu hidup di muka bumi, engkau dan kerajaanmu tidak akan kokoh. Dan sekarang suruhlah orang memanggil dan membawa dia kepadaku, sebab ia harus mati.” Tetapi Yonatan menjawab Saul, ayahnya itu, katanya kepadanya: “Mengapa ia harus dibunuh? Apa yang dilakukannya?” Lalu Saul melemparkan tombaknya kepada Yonatan untuk membunuhnya. Maka tahulah Yonatan, bahwa ayahnya telah mengambil keputusan untuk membunuh Daud. Sebab itu Yonatan bangkit dan meninggalkan perjamuan itu dengan kemarahan yang bernyala-nyala. Pada hari yang kedua bulan baru itu ia tidak makan apa-apa, sebab ia bersusah hati karena Daud, sebab ayahnya telah menghina Daud.

 

Ini jaman bebas. Jadi, bebas untuk marah-marah. Semua orang merasa punya hak untuk marah seenaknya. Sayangnya, tidak semua orang menyadari bahwa kena marah itu sama sekali tidak ada enaknya. Bikin enek malah. Rasanya, belum begitu lama kita menyaksikan di layar tv, rakyat sudah bisa marah-marah dengan lancar (baik dan benar?). Misalnya para pengungsi yang rumahnya terendam lumpur panas di Sidoarjo sangat marah, karena mereka merasa ‘dikerjain’ terus-terusan. Para penghuni sebuah asrama militer marah karena merasa terancam akan digusur. Para buruh marah karena merasa tidak mendapatkan penghasilan yang layak dan kurangnya fasilitas keamanan dan kenyamanan kerja. Tentu saja yang menjadi rival mereka tidak menyerah. Kadang, malah tidak kalah sangar sambutannya. Yah, sekarang, orang-orang mudah naik darah. Benar atau salah itu perkara nanti. Yang penting marah, ah!

Apakah marah menyelesaikan segala soal? Atau, justru menambah masalah?

Yonatan menyampaikan alasan bahwa Daud tidak dapat ikut perjamuan karena sedang mudik. Jadi, Daud lebih memilih bersilaturahmi dengan keluarganya di desa daripada mengikuti perjamuan di istana. Ini pelecehan. Saul marah bukan main karena merasa direndahkan. Berhak dong Saul marah. Apalagi ia adalah raja. Maka marah menjadi murka. Dalam Amsal 14:29 dikatakan bahwa orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan. Nampaknya, Saul juga memperlihatkan kebodohannya ketika mengatakan,”Anak sundal yang kurang ajar! Bukankah aku tahu, bahwa engkau telah memilih pihak anak Isai dan itu noda bagi kau sendiri dan bagi perut ibumu?” Jika Yonatan anak sundal, maka Saul sebagai bapaknya adalah bapak sundal, kan? Anehnya, kemarahan Saul tidak membuat mental Yonatan ciut. Malah Yonatan balas marah kepada bapaknya. Apel jatuh tidak jauh dari pohonnya. (Ternyata ada gen pemarah dalam diri Saul dan Yonatan, ya..) Ia lalu pergi dengan membawa kemarahan yang bernyala-nyala, sekaligus kesedihan yang mendalam untuk sahabatnya, Daud. Artinya, kemarahan Saul tidak menyelesaikan persoalan, malah nambah masalah.

Iya, kenapa mudah marah ya? Tersinggung berakibat marah. Merasa direndahkan lalu marah. Merasa terancam kedudukannya jadi marah. Nasehat yang bagus bagi jaman yang telah dipenuhi gen pemarah dari Efesus 4:26,”Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu”. Tafsir gaya bebasnya: Bolehlah marah, tapi jangan lama-lama! Kapan boleh marah? Ya, misalnya jika sedang menghadapi orang sukar yang suka mempersulit keadaan pas melakukan kesalahan dan mempersalahkan orang lain. Bolehlah marah. Hanya masih ada catatannya. Catatannya pertama, jika marah itu efektif, marahlah (!?). Saul membuat tombak terbang ke arah Yonatan. Yonatan malah marah. Ini tidak efektif. Maka marah menjadi tidak beralasan untuk membuat piring  (be-) terbang (-an). Kedua, marahnya jangan lama-lama dan jangan sering-sering. Sekalipun belum jelas benar hubungan antara marah dengan tekanan darah dan stroke, yang jelas, marah=naik darah.

 

“Marah=Pemborosan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s