Ngobrol Adalah Ibadah

joyNamanya Pak Gepeng. Ia orang yang terkenal di gereja kami sebagai orang yang supel dan simpel. Supel, sekalipun sudah menginjak usia 68 tahun, rajin bergaul dengan dengan orang lain. Ada saja materi dan cara dia membuka percakapan. Dimana saja dan kapan saja. Pokoknya ia sungguh orang tua yang gaul. Sering orang yang diajak bicara sudah malas dan mulas, namun ia belum puas-puas. Simpel, karena ia orang yang sederhana. Sungguh, tidak neko-neko. Bahan percakapan tidak berat-berat. Ia tidak mempercakapkan tentang koalisi partai politik, atau kasus pembunuhan oleh pejabat tinggi. Bahan percakapannya sederhana, yaitu tentang rok Bu Iik yang terlalu tinggi, tentang Pak Ook yang tidak ramah, atau tentang kotbah pendeta yang membosankan. Spontan saja ia ungkapkan. Tanpa berpikir panjang, lepas saja ngomong begini begitu.  Singkatnya, tema obrolan favoritnya adalah ‘ngrasani tanpa pretensi’. Sungguh, ia tidak merasa bersalah sama sekali dengan apa yang diungkapkannya. Baginya ngobrol adalah ibadah, yang hukumnya wajib. Tidak boleh tidak. Karena ini kebutuhan.

Suatu ketika, pernah kejadian obrolan Pak Gepeng hampir membawa maut. Mulut Pak Gepeng mau disobek-sobek jauh sebelum Tukul Arwana menggunakan jargon itu di Empat Mata. Yah, mungkin tersungging, Pak Alis naik darah lalu, ”Dasar Gepeng Pendeng, cangkem wed…! (Tuuuuuuuuut, sensor.) Tak suwek-suwek cangkemmu sisan!” Begitu teriak Pak Alis kepada Pak Gepeng, dengan gaya Semarangan. Padahal ketika itu Pak Gepeng masih sebagai pejabat di gereja. Wah, seru nian!

Kemarin pagi, Pak Gepeng kena tegur majelis gereja karena ngobrol dalam keteduhan ibadah. Bayangkan, ia ngajak ngobrol seorang jemaat di gereja. Merasa terganggu, orang yang diajak ngobrol lapor ke majelis. Majelis diminta oleh orang itu agar menghentikan Pak Gepeng ngobrol. Maka, Pak Gepeng kena semprit. Kartu kuning, karena Pak Gepeng melakukan pelanggaran ganda: Pertama, di gereja kok ngajak ngobrol. Kedua, yang diajak tidak mau kok maksa. Maka majelis menjadikan peristiwa dalam kebaktian ini menjadi tema keprihatinan pastoral, sambil menghitung persembahan.

Nah, akankah Pak Gepeng bertobat dari kebiasaannya ini? Jangan terlalu optimistis. Sebab, ia sungguh menghayati bahwa menjadi orang Kristen itu harus ramah. Dan ramah adalah ibadah yang tinggi nilainya. Jadi, ia tidak merasa bahwa gaya hidupnya bermasalah. Demikian juga orang lain yang bermasalah sekalipun, ia dekati dengan ramah. Artinya, masalah yang ada pada dirinya dan orang lain bukan masalah baginya. No problem. Justru ia sangat berterimakasih jika ada masalah, yang akan menjadi sumber kaya materi obrolan.

Kok jadi ngobrolin Pak Gepeng, ya? Tampaknya ngrasani, ngobrolin orang lain dapat menjadi virus menular, yang lebih dahsyat dari H1N1. Alias virus flu babi. Kita semua terinfeksi. Tapi, masak tidak ada segi positifnya ngrobol soal ngobrol dalam ibadah?

Ini dia, ada ide tolol: Bagaimana, agar ngobrol menjadi salah satu bagian dalam struktur liturgi/ibadah dalam gereja? Nah, lo! Maksudnya? Maksudnya, jika ngobrol dengan Tuhan dalam liturgi disebut berdoa. Entah doa pribadi atau doa berjemaah. Entah doa pembuka atau penutup. Tidak persoalan dan tidak ada yang mempersoalkan. Nah sekarang, bagaimana agar ngobrol dengan sesama manusia, dengan orang lain yang duduk di kiri-kanan, depan-belakang kita, diperkenankan diperbolehkan, bahkan disediakan tempat dalam tata ibadah? Setidaknya dengan demikian, Pak Gepeng tidak dianggap sebagai ‘trouble maker’, karena prakteknya telah menjadi legal. Mungkin tidak akan kena semprit lagi, atau dikartumerahkan. Namanya juga sekedar ide tolol. Saya yakin tidak akan ada yang menanggapi. Sebab, yang menanggapi ide tolol dapat dikategorikan dalam gerombolan orang tol…(tuuuuut, sensor). Oleh karena itu, dengan suka cita saya memperpanjang sedikit ketololan saya.

Begini. Pernah beberapa kali saya jadi ‘penonton’ atau penikmat peribadahan di gereja Katolik. Jika tidak salah ingat, ada salah satu acara salam-salaman di antara umat. Sambil mereka ngomong sesuatu. Pating nggremeng, nggak begitu jelas. Demikian juga di Gereja Kristen Indonesia, dalam liturginya yang baru, sekarang ada juga saat bagi jemaat untuk salam-salaman dan berkata-kalau tidak salah-“salam damai”. Kira-kira, mereka melakukan ini setelah mendapatkan berita pengampunan dari Allah. Barangkali alur pikirannya adalah, setelah mendapatkan pengampunan dari Allah, sudah semestinya manusia saling mengampuni dan hidup dalam pengampunan. Bagus bener!

Di sini, dalam bayangan saya kemudian, betapa ibadah yang hidup seperti sebuah perarakan karnaval. Bukan saja perarakan baris berbaris. Masih ingat upacara bendera 17-an? Pernah nonton di TV? Ini perarakan baris berbaris. Tujuannya mengibarkan bendera duplikat Sang Saka Merah Putih. Ini peristiwa sakral kebangsaan. Jika Anda adalah anggota Paskibraka, haram hukumnya ngobrol dengan teman dalam satu peleton. Bisa-bisa Anda dipulangkan sebelum menginjak halaman Istana Negara. Nah, biasanya selain upacara 17-an, kemudian dilanjutkan dengan berbagai karnaval. Ada yang jalan kaki, mengenakan berbagai baju yang adat maupun baju desain kontemporer. Ada juga yang naik sepeda. Ini disebut sepeda hias. Ada juga yang naik mobil. Ini disebut Mobil hias. Malah kadang kendaraan ini tidak lagi sekedar dihias, tetapi ‘disulap’ menjadi wujud yang lain. Inilah pesta karnaval. Perarakan karnaval adalah teater jalanan. Artinya, penonton pun terlibat secara emosional. Mereka boleh bersorak dalam memberi sambutan. Sedangkan yang disambut boleh menimpali lagi dengan lebih heboh. Bukan hebohnya yang hendak diungkap. Tetapi interaksinya, antara sesama anggota karnaval, dan interaksi antara pelaku dan penonton. Bukankah karnaval menjadi hidup karena adanya interaksi ini, sampai akhirnya nanti semua peserta melewati jalanan dalam rangka memperingati Agustusan.

Nah, betapa hebohnya ibadah karnaval ini. Karena memang disediakan ruang untuk ngobrol, berkomunikasi di antara peserta, dan antara peserta dengan penonton.

Sekali lagi, ini karnaval. Bukan upacara bendera. Dan, jangan sampai terjadi, ngobrol dalam upacara bendera 17-annya. Menggangu kekhusyukan. Dapat dianggap tidak nasionalis.

Artinya, ibadah yang hikmat seperti upacara bendera itu tetap harus jalan. Hanya saja, (ide tololnya:) berikanlah juga ruang untuk berinteraksi dan berkomunikasi sekedar mengulurkan tangan dan sebaris kalimat seperti di gereja Katolik atau di GKI, di antara jemaat. Atau diciptakan bentuk yang lain.

Sekalipun sudah ada wadah begini, bukan berarti Pak Gepeng boleh sembarangan seenaknya ngobrol. Ia harus belajar keras, jika perlu mengikuti kursus singkat, untuk berbicara singkat: sebaris kalimat saja. Sekalipun ruang ini kecil bagi Pak Gepeng, saya pikir ia sudah berterimakasih boleh ngorol dalam ibadah dengan tidak kena tegur majelis. Saya yakin sebelumnya, bahwa majelis yang menegur juga tidak enak, karena sebagai sesama warga gereja, sekalipun menjengkelkan, Pak Gepeng tetap rajin persembahan.

Jadi(-kanlah), ngobrol dalam gereja adalah (sebagai) ibadah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s