Kuasa Lapar

1 Samuel 21: 1-7

TengklengSampailah Daud ke Nob kepada Ahimelekh, imam itu. Dengan gemetar Ahimelekh pergi menemui Daud dan berkata kepadanya: “Mengapa engkau seorang diri dan tidak ada orang bersama-sama dengan engkau?”  Jawab Daud kepada imam Ahimelekh: “Raja menugaskan sesuatu kepadaku, katanya kepadaku: Siapapun juga tidak boleh mengetahui sesuatu dari hal yang kusuruh kepadamu dan yang kutugaskan kepadamu ini. Sebab itu orang-orangku telah kusuruh pergi ke suatu tempat.  Maka sekarang, apa yang ada padamu? Berikanlah kepadaku lima roti atau apapun yang ada.”  Lalu jawab imam itu kepada Daud: “Tidak ada roti biasa padaku, hanya roti kudus yang ada; asal saja orang-orangmu itu menjaga diri terhadap perempuan.”  Daud menjawab imam itu, katanya kepadanya: “Memang, kami tidak diperbolehkan bergaul dengan perempuan, seperti sediakala apabila aku maju berperang. Tubuh orang-orangku itu tahir, sekalipun pada perjalanan biasa, apalagi pada hari ini, masing-masing mereka tahir tubuhnya.”  Lalu imam itu memberikan kepadanya roti kudus itu, karena tidak ada roti di sana kecuali roti sajian; roti itu biasa diangkat orang dari hadapan TUHAN, supaya pada hari roti itu diambil, ditaruh lagi roti baru.  Maka pada hari itu juga ada di sana salah seorang pegawai Saul, yang dikhususkan melayani TUHAN; namanya Doeg, seorang Edom, pengawas atas gembala-gembala Saul.

 

Jelas terpampang: Ngamen hari Jumat! Tanpa ragu, pelayan toko menghampiri pengamen itu dan berkata, “(Toko) Yang lain saja, Pak.” Dengan santai pengamen itu menjawab,”Yang lain sudah. Tinggal (Toko) sini yang belum”. Jari pelayan toko menunjuk tulisan spidol merah dikertas karton coklat,”Ngamen hari Jumat. Lha ini kan hari Kamis, Pak!” Pengamen menjawab, “Kalau Jumat aku ngamen, Mbak. Sekarang Kamis, jadi aku ngemis. Ngemis ya nggak apa-apa, lah. Lapar Kamis mosok, makan Jumat, Mbak!”

Dengan alasan lapar, satria bergitar ini mau juga dianggap pengemis. Yang penting dapat uang untuk makan. Baginya, tidak ada perbedaan gengsi yang signifikan antara pengamen dan pengemis. Tidak akan kenyang, jika orang lapar nasi hanya makan gengsi. Sampai di sini, tidak akan ada orang yang membantah. Ia benar. Hanya saja, ia telah menyalahgunakan jabatan sehingga dapat mengakibatkan konflik horisontal, antara mereka yang berjabatan pengamen dan yang berjabatan pengemis. Sebab, tetap saja berbeda antara pengamen dan pengemis. Pelayan toko harus tahu perbedaan ini, sehingga tidak tertipu dan luluh hanya karena jabatan yang dikaburkan oleh pengamen yang sungguh sudah kenyang mengalami rasa lapar.

Rasa lapar juga telah mendorong Daud untuk menyalahgunakan jabatan sekaligus menggunakan ketidaktahuan Imam Ahimelek. Karena sang Imam tidak tahu bahwa status Daud telah menjadi buron bukan lagi pejabat terhormat kepercayaan Saul, maka ia memberikan 5 roti sajian untuk Tuhan diberikan kepada Daud yang lapar. Daud senang-senang saja menerimanya, dengan mengaku bahwa ia (dan pengikutnya yang belum kelihatan) sungguh tahir secara lahir. Siapa yang tahu? Yang jelas, Daud telah menyalahgunakan jabatannya (status sekarang: buron) dan ketidaktahuan Imam Ahimelek. Lahir mengaku tahir, dalamnya hati siapa yang tahu?

Ketika rasa lapar mulai timbul, sesungguhnya dapat dirasakan kuasanya. Ia dapat menjelma penuh daya cipta. Entah menjadi pengamen, pengemis, orang kepercayaan, imam, penipuatau perampok. Ia minta terus menerus dipuaskan. Dan manusia terus memeliharanya dengan penuh setia. Ini tidak aneh, karena manusia tidak bisa hidup tanpa rasa lapar. Ini menjadi pengingat, agar sang lapar tidak menjadi begitu mudah berkuasa dengan segala macam cara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s