Ketika Cinta Bertasbih

Poster FilmIni film tentang cinta. Mestinya ditonton juga dengan cinta. Bukan dengan curiga. Sekali lagi, tidak perlu bersyak wasangka. Lho, belum apa-apa kok sudah memperingatkan! Memangnya ada apa? Lha, iya. Bagaimana tidak disinggung tentang curiga dan syak wasangka, jika dalam iklannya disebut-sebut sebagai film dakwah? Begitu mendengar tentang dakwah saja, langsung pasang kuda-kuda. Benar, tidak? Tidak! Tidak ada nikmatnya bercuriga. Jika hati penuh cinta, panorama Mesir tidak akan sia-sia. Tidak ada garansi, ketika nonton film ini akan memuaskan dahaga dan keingintahuan kita. Namun percayalah, bahwa banyak hal bisa ditimba, seperti bergalon-galon air Sungai Nil bisa diambil. Jadi, tidak perlu bercuriga terlebih dahulu. Dan, film inipun langsung dibuka dengan sekilas cerita, Pak Din Samsudin (Ketua Muhamadiyah) baru saja berdialog dengan Paus di Roma. Pulangnya, mampir di Kedutaan Indonesia di Mesir.

Ketika Cinta Bertasbih bercerita tentang sekelompok mahasiswa Indonesia yang kuliah di Aleksandria, Mesir. Mereka berasal dari Bangkalan, Kartasura, Jakarta, Palembang, Aceh, dsb. Dalam film ini, setiap tokoh memiliki pergumulannya sendiri, namun bermuara pada satu tema: cinta dan pernikahan. Tokoh utamanya, Azam, seorang mahasiswa yang nyambi jadi pengusaha tempe. Melalui dia, film ini memiliki dahan pokoknya, yang merangkai tokoh-tokoh dalam persinggungannya dengan cerita. Eliana, seorang putri Duta Besar dan artis sinetron yang sering tampil di layar kaca Indonesia, mengagumi Furqon, seorang mahasiswa S2 yang sedang mempersiapkan tesis. Ternyata Furqon ‘telah ada ikatan’ dengan Ana, yang sedang mengajukan proposal S2, tentang penelitianSyariah yang akan berlangsung di Malaysia. Sedangkan Azam pengusaha tempe mengagumi Eliana putri Dubes. Sering Eliana pesan konsumsi pesta-pesta di kedutaan kepada Azam. Ternyata Azam lihai membuat ikan bakar, soto lamongan dan lain-lain selain membuat tempe. Menurut Pak Ali (orang kepercayaan Eliana), Azam lebih tepat dengan Ana daripada dengan Eliana. Eliana terlau tinggi, terlalu berbeda jauh tingkatnya. Namun, Azam akhirnya tahu bahwa Ana yang dimaksud Pak Ali, telah memiliki ikatan dengan Furqon. Pada akhir film, akhirnya Ana pun tahu bahwa Abdulah adalah Azam, yang telah menolongnya (dan temannya) ketika mengambil buku-buku yang tertinggal di Bus karena peristiwa kecopetan.

Kisah cinta Fadli agak sedikit lain. Ia tidak langsung bersinggungan dengan Azam. Intinya, pacar Fadli menikah dengan orang lain, yaitu seorang ustad di kampung. Gara-garanya, Fadli tidak tegas mengatakan, menyatakan cintanya. Jadilah, pacarnya ‘disambar’ orang. Fadli tidak menerapkan jurus JK, “Lebih cepat, lebih baik.”

Dalam cerita ini, ada tiga buah kejadian yang berkaitan dengan kehidupan di Mesir sebagai setting cerita. Yang pertama, ketika ada seorang tamu yang hendak bermalam. Ternyata ia adalah penjahat yang dicari-cari polisi. Jelas saja, pondokan mahasiswa-mahasiswa Indonesia  ini menjadi sasaran penggeledahan petugas. Fadli sock, sampai pingsan. Kejadian kedua, kecopetan teman Ana yang kemudian mempertemukan mereka dengan Azam. Kejadian ketiga, Furqon tertular aids dan hampir mengalami pemerasan dari penjahat perempuan. Ketiga kejadian ini menarik. Disadari atau tidak, ketiga kejadian tersebut seolah membawa pesan: Hati-hati, Bung! Ini Mesir, banyak penjahat, copet dan AIDS! Semoga saja, maksudnya tidak begitu. Tidak menjadi kampanye negatif untuk pariwisata Mesir, yang telah memberi ijin syuting di sana. Hanya mengapa Mesir, ya? Apakah jika diganti Indonesia atau Thailand akan mengubah cerita cinta ini? Piramidnya bisa diganti Borobudur, Pagoda atau Menara Kembar. Atau mungkin, di Malaysia boleh juga. (Ah, kenapa terlintas Manohara di kepalaku…).

Memang topik utama Film Ketika Cinta Bertasbih adalah perkawinan. Tema yang sudah banyak digarap baik melalui cerpen, cerbung, novel, ataupun sinetron. Jadi, film ini diharapkan menawarkan kekhususan dari tentang perkawinan. Jika tidak, barangkali novelnya tidak akan difilmkan (maafkanlah saya, yang tidak pernah baca novelnya. Maafkanlah juga, jika terjadi salah ketik ejaan dan salah sebut). Film “Ketika Cinta Bertasbih” menyajikan corak perkawinan yang Islami (menurut saya, sekilas). Sebagai titik dasar pemikiran teologis perkawinan ini sendiri, dinyatakan melalui Azam (kalau tidak luput) bahwa perkawinan adalah ibadah. Perkawinan adalah sesuatu yang luhur, harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh dan dijaga kesuciannya. Nah, nilai perkawinan yang baik-baik inilah, yang ditawarkan melalui film ini. Penawaran nilai yang baik inilah yang disebut dakwah. Tentu saja, ini pemahaman yang kutangkap setelah nonton. Lanjutannya, dakwah adalah proposal nilai hidup yang baik-baik untuk diwartakan. Disyiarkan, salah satunya melalui film ini. Apakah dengan muatan yang bagus ini, kita masih bercuriga dengan istilah dakwah semacam ini? Ya, memang harus diakui bahwa ada sebagian yang lain, tentang dakwah yang dimaknai secara berbeda oleh yang memaknai.  

Apakah sesuatu yang baik dan luhur akan lebih mudah diterima? Ah, tidak juga. Jika mudah, tentu tidak akan banyak darah martir yang telah mengalir. Mengapa tidak mudah? Sebab, untuk mempertahankan keluhuran nila-nilai, ternyata cara dan bentuk harus disesuaikan. Dimodifikasi. Contohnya di sini, klaim luhur tentang pernikahan adalah ibadah, sebagaimana dalam film ini. Digambarkan, para tokohnya memiliki nilai ideal tentang kesucian hubungan antara perempuan dan laki-laki. Para tokoh laki-laki mengidealkan sikap hidup yang (harus) bertanggung jawab, berani dan tegas menghadapi dan memutuskan persoalan hidup. Baik bagi diri sendiri, teman maupun keluarga. Kesan bahwa laki-laki suka kekerasan dan suka main paksa, main kuasa barangkali memang dihindari dalam film ini. Sebaliknya, laki-laki harus terbuka atas segala kemungkinkan. Bahkan seorang ayah (Kyai ‘Dedi Mizwar’), menyerahkan keputusan kepada anak perempuannya (Ana) dengan siapa, dimana dan bagaimana perkawinan akan dilangsungkan. Para tokoh perempuan juga diidealkan memiliki nilai keanggunan, kemandirian, keberanian untuk memiliki posisi tawar, baik untuk menolak pinangan maupun untuk mengajukan syarat perkawinan. Dikisahkan juga bahwa perempuan boleh mengeluarkan pendapat yang berbeda, yang sensitif, misalnya tentang poligami (dalam diri Ana misalnya. Ia katakan bahwa ia tidak mengharamkan poligami. Hanya saja poligami seperti jengkol. Selama masih sanggup sebagai istri, ia tidak mau suaminya berpoligami, sebab ia tidak suka bau jengkol. Nah, lho! Jika nikah adalah ibadah, maka alur runtutnya; pelaku poligami adalah pelaku ibadah yang sungguh berupaya memenuhi kewajibannya. Ah, seru juga jika ini digali lebih dalam lagi agar menemukan bau-bau yang lain selain jengkol)

Melalui film ini kita menjadi sedikit mengerti pergumulan muslim (atau pergumulan Kang Abik sebagai penulisnya) tentang perkawinan (Bagi yang telah memutuskan untuk tidak kawin, film ini tidak menyediakan diskusi tentang selibat). Ada jejak-jejak dinamika pemahaman dan kebiasan tentang perkawinan, yang semula patuh saja dijodohkan, dalam film ini justru diungkapkan tentang kelonggaran (-dari oang tua agar anaknya-) menentukan sendiri calon pasangannya. Sambil tetap memegang nilai ketaatan anak pada orang tua. Kita juga jadi tahu, bahwa Kairo menjadi kota tujuan belajar mahasiswa Indonesia. Setidaknya, mereka yang bersekolah di sana harus bisa minimal bahasa Inggris dan Arab.

Film ini mencoba menawarkan jawaban dalam kehidupan modern yang penuh pergulatan. Memang pada hakekatnya, kehidupan adalah persoalan manusia yang bergelut dengan nilai-nilai. Maka, film ini adalah film dakwah agar manusia semakin bernilai, semakin berbudaya. Kita tunggu jilid 2 (3,4 atau 5)-nya.Antrian panjang di depan loket

One thought on “Ketika Cinta Bertasbih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s