Rasa Tidak Pernah Bohong

 

1Samuel 22:11-16

Dewi Keadilan www.epochtimes.co.idinternasional.phpid=101Lalu raja menyuruh memanggil Ahimelekh bin Ahitub, imam itu, bersama-sama dengan seluruh keluarganya, para imam yang di Nob; dan datanglah sekaliannya menghadap raja. Kata Saul: “Cobalah dengar, ya anak Ahitub!” Jawabnya: “Ya, tuanku.” Kemudian bertanyalah Saul kepadanya: “Mengapa kamu mengadakan persepakatan melawan aku, engkau dengan anak Isai itu, dengan memberikan roti dan pedang kepadanya, menanyakan Allah baginya, sehingga ia bangkit melawan aku menjadi penghadang seperti sekarang ini?” Lalu Ahimelekh menjawab raja: “Tetapi siapakah di antara segala pegawaimu yang dapat dipercaya seperti Daud, apalagi ia menantu raja dan kepala para pengawalmu, dan dihormati dalam rumahmu? Bukan ini pertama kali aku menanyakan Allah bagi dia. Sekali-kali tidak! Janganlah kiranya raja melontarkan tuduhan kepada hambamu ini, bahkan kepada seluruh keluargaku, sebab hambamu ini tidak tahu apa-apa tentang semuanya itu, baik tentang perkara kecil maupun perkara besar.” Tetapi raja berkata: “Engkau mesti dibunuh, Ahimelekh, engkau dan seluruh keluargamu.”

Selalu menjadi pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai: mengurai keadilan. Sebab ketidakadilan berkeliaran di sekitar kita, dan membuat semuanya kusut. Kita bergaul intim dengannya tiap saat. Sangat akrab, mengenalnya dengan baik dan lengket. Kita sama-sama tahulah itu. Dan, kita sama-sama berpura-pura tidak tahu. Tutup mata, telinga, mulut dan aman. Maka, menjadi sulit untuk membedakan yang benar dan yang salah, yang adil dan yang tidak adil. Memang ada batas yang harus disingkap: antara berpura-pura dengan  yang tidak. Ini pun masih sulit untuk membelahnya.

Namun, rasa tidak pernah bohong. Yaitu rasa sakit akibat disalahkan. Imam Ahimelek merasakan betapa menyakitkannya ketidakadilan itu. Ketika itu, Saul menuduhnya bersekongkol dengan Daud. Ahimelek menolak tuduhan dengan dua alasan. Pertama, Daud adalah orang kepercayaan Saul, menantu raja (beristerikan Mikhal) dan kepala pengawal, serta terhormat. Kedua, ia merasa tidak tahu apa-apa. Itulah sebabnya Ahimelek memberi roti, pedang dan perawatan rohani. Kedua alasan pembelaan berdasar tindakan tulus itu ternyata undangan bagi putusan hukuman mati. Inilah dunia Saul. Dunia yang menjadikan Saul sebagai satu-satunya norma. Dunia yang sakit. Betapa tidak adilnya dunia, ketika yang sungguh tidak tahu apa-apa dengan mata telinga dan mulut terbuka duduk di kursi terdakwa. Ketika yang jujur malah hancur! O, Malangnya Imam Ahimelek!

Bukankah Dewi Keadilan akan mengganjar kebaikan dengan hadiah, bukan musibah? Kejahatan akan dibalas dengan hukuman, bukan kenikmatan? Bayangkan jika ini terjadi, hidup akan simpel, sederhana bahagia. Sayangnya manusia sering mencuri pinjam pedang dan timbangan Dewi Keadilan yang buta. Dan, ketika malas mengembalikannya ia menjadi Saul dimana-mana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s