Bilangan Fu

CoverKali ini, novel Ayu Utami yang terbit pada tahun 2008 ini berhalaman 530 lebih. Cukup tebal, di bandingkan Saman atau Larung, dua novel sebelumnya. Ada catatan kecil pada halaman sampulnya, yang menerangkan bahwa covernya menggunakan kertas impor yang diolah oleh perusahaan kertas dengan ”… menggunakan bahan-bahan dari hutan yang dikelola secara bertanggungjawab dan berkelanjutan.” Memang ketebalan buku tidak hanya berpengaruh kepada pembaca untuk memperhitungkan waktu yang dihabiskannya, atau berapa uang yang harus dikeluarkan untuk membeli novel tebalnya, namun juga nyerempet isu lingkungan hidup. Ayu hendak berkonsisten rupanya, mengkaitkan cover dengan isi novel tebalnya.

Bagaimanakah cerita dalam novel tebal ini? Asyik. Terutama setelah separuh tebal buku. Tetapi, tetap saja, akan lebih asyik jika mulai dari depan. Bilangan Fu dimulai dari pemanjatan tebing Watugunung, di Selatan Pulan Jawa. Melalui catatan harian Sandi Yuda, seorang dari sekumpulan pecinta pendaki tebing, kisah ini bermula. Keasyikan penulis catatan harian adalah berpanjang-panjang. Ini alasan yang membentuk novel ini sebagai kisah yang diceritakan kembali dengan meluas melebar dan ditangani editor yang murah hati. Inti ceritanya bukan lagi soal panjat-memanjat. Secara perlahan cerita mengarah pada peristiwa sosio-religius masyarakat di sekitar Sewugunung, di bawah Watugunung yang dapat bersiul ‘huu..’. Hu atau fu?

Maka dipotret dan dikliping kepercayaan masyarakat terkait dengan isu lingkungan. Mulai dari sajenan, selametan, hantu, tuyul, sirkus, Ratu Laut Selatan hingga pemanjatan bersih, penggundulan hutan, bahkan pendirian pabrik semen…Adalah Parangjati, seorang mahasiswa geologi yang sekolah di Bandung berkampung halaman di sekitar Watugunung, tempat Yuda dan teman-temannya berkemah. Ia membela dan membawa kebudayaan lokal dalam pemahaman kritis. Melalui Parangjatilah, kisah menjadi hidup, berurat dan berdarah. Ia adalah simpul yang menghubungkan tokoh-tokoh cerita lain. Baik orang kota maupun orang-orang desa. Dari Marja yang sintal, Mbok Manyar sang juru kunci dan pawang hujan desa, sampai Pontiman Sutalip kepala desa, Kupu-kupu yang fundamentalis, adiknya hingga Suhubudi, bapaknya sendiri. Parangjati menjadi simpul cerita tentang perebutan kuasa antara fundamentalisme Kupu-kupu, tradisi orang-orang desa, kekerasan militer dan kisah cinta antara Marja dan Yuda.

ayu  http://www.indomedia.com/Intisari/1998/september/sex.htmTidak heran jika novel ini diperkenalkan sebagai spiritualisme kritisnya Ayu. Nukilan kata, pelesetan nama dan istilah dari Alkitab bertebaran didalamnya. Dengan begini, novel menjadi maklumat ideologi penulis yang berhadapan dengan kekinian jaman. Jaman yang glamor, berteknologi, berdukun, miskin, bodoh, saling tumpang tindih, adalah realita hidup sebenarnya. Dengan menggunakan pisau dari berbagai disiplin ilmu, seperti filsafat, matematika, bahasa dan lain-lain, Ayu membedah persoalan ketuhanan dan lingkungan.  Kali ini Ayu tidak menghadapinya dengan dekonstruksi kritis. Melalui novel ini, ia bersikap konstruktif positif kritis. Membangun kembali nilai dan membelanya dari yang telah diruntuhkan modernisme.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s