Kunjungan ke GKJ Puri Asih Demak

Agus Kristiana, Ketua Majelis GKJ Puri AsihHari ini, aku punya janji akan ke Kedondong, Demak. Ingat GKJ Puri Asih, ingat tanggal unik pendewasaannya. Tanggal delapan(8), bulan delapan (8/Agustus), tahun dua ribu delapan (2008), jam delapan (8) dimulai, dihadiri oleh delapan (8) gereja di Klasis Semarang Timur (sponsornya Salep 88,…nggak je!).

Aku sudah ditunggu, Pak Nomolas, Mas Anung dan Mas Bowo di teras. Mereka sudah menunggu sejak jam setengah lima.

“Piye, to Mas. Wong setengah lima kok meh jam lima tembe teka!” Pak No menyambutku.

“Lha, piye neh! Mas Anung kandha yen jam lima, lho!” Aku membela diri

“Bener pa Mas Anung? Jare jam lima!?” Pak No tanya sambil teriak, Mas Anung sedang di dapur.

“Ra isa. Jam setengah lima, Mas! Wis…!” Mas Anung senyam-senyum.

“Wah, ya mohon disori! Kerusakan pada antena saya, bukan pada televisi Anda.” Sambil menyandarkan motor, aku minta maaf pada udara terbuka.

Nggak pakai lama, kami langsung masuk mobil.  Mas Anung jadi driver. Aku penumpang yang akan duduk manis, di samping Mas Bowo. Pak No duduk di depan selaku komandan lapangan. Jam lima kurang lima mobil diberangkatkan. Ngampiri Pak Eka Lasa, lalu menuju Gereja Kristen Jawa Puri Asih.

Di jalan macet-macet, sebab ini jam sibuk. Banyak orang pulang kantor. Wah, kayak di Jakarta saja pakai macet! Ya, di seputaran Genuk sini memang sering macet. Kosa kata ‘macet’ menjadi lebih sering didengar dan digunakan orang-orang desa, yang bepergian naik sepeda. Sementara kiri-kanan mereka mobil dan truk tronton.

Sampai di Gereja Kristen Jawa Puri Asih Kedondong, Demak sudah malam, setengah tujuh lebih lima. Kelihatannya masih sepi. Hanya lima-enam orang di dalam gereja. Di dapur telah tersedia nasi, opor-oporan, dan jambu air. Di meja ada air putih dan wedang jahe. Di halaman yang plesterannya masih baru anak-anak bermain.

Acara dibuka dengan renungan oleh Pak Eka Lasa sebagai pendeta konsulen. Setelah itu baru makan. Sambal, krupuk, ayam dan tempe goreng, lodeh jantung pisang, dan lain-lain. Tidak ada swike. Bagiku, inilah acara inti perkunjungan. Acara lain memang penting-penting. Tetapi intinya di sini; makan bareng.

Belum genap satu tahun pendewasaan GKJ Puri Asih dari GKJ Demak. Rasanya sih baru kemarin sore, sekarang telah begitu banyak kemajuan secara kasat mata. Sekalipun  jauh, mereka berusaha ikut kegiatan-kegiatan klasikal di Semarang. Ini tentunya butuh pengorbanan yang tidak sedikit, baik tenaga maupun dana. Pusat perhatian majelis dan jemaat GKJ Puri Asih Kedondong sekarang adalah persiapan pemanggilan pendeta, setelah setahun dewasa. Panitia telah dibentuk. Syarat-syarat penjaringan pendeta memang telah ditetapkan. Tetapi akan berkembang mengiukuti proses. Bertambah malam, wajah mereka semakin mengerut ngantuk. Warga yang hadir setelah mereka lelah bekerjaMaklum, sebagian besar dari mereka telah lelah bekerja seharian di ladang. Atau buruh bangunan. Beberapa diantaranya guru.

Dalam tahun 2008 APBG mereka sekitar 60 jutaan. Sebuah angka yang kecil bagi gereja besar. Tetapi, angka ini adalah lambang kebergairahan iman dari jemaat yang sederhana. Dari angka rupiah ini, nampak nyala semangat kebangkitan yang besar.

Jam setengah sepuluhan malam lebih kami pulang sebagaimana kontrak di awal acara. Tidak lupa jambu air dan sekotak snack kami ambil sebagai oleh-oleh orang dirumah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s