Kabar Kematian

2Samuel 1: 17-21

Gugur bunga Daud menyanyikan nyanyian ratapan ini karena Saul dan Yonatan, anaknya, dan ia memberi perintah untuk mengajarkan nyanyian ini kepada bani Yehuda; itu ada tertulis dalam Kitab Orang Jujur. Kepermaianmu, hai Israel, mati terbunuh di bukit-bukitmu! Betapa gugur para pahlawan! Janganlah kabarkan itu di Gat, janganlah beritakan itu di lorong-lorong Askelon, supaya jangan bersukacita anak-anak perempuan orang Filistin, supaya jangan beria-ria anak-anak perempuan orang-orang yang tidak bersunat! Hai gunung-gunung di Gilboa! jangan ada embun, jangan ada hujan di atas kamu, hai padang-padang pembawa kematian! Sebab di sanalah perisai para pahlawan dilumuri, perisai Saul yang tidak diurapi dengan minyak.

Kematian dan tragedi sulit dipisahkan. Selalu saja ada kepedihan dan kesedihan yang dibawanya. Orang bisa menangis berhari-hari. Mengalami kesedihan berminggu-minggu, sekalipun telah mengadakan ibadah penghiburan berkali-kali. Tidak sedikit yang menjadi traumatis, dan tak tersembuhkan meskipun tahun-tahun telah lama berlalu.

Maka dari itu, banyak cara diupayakan agar tidak celaka atau mati sia-sia begitu saja. Lihatlah, orang-orang di jalan raya. Mereka menggunakan helm pengaman kepala bagi pengendara sepeda motor. Atau, mengenakan sabuk pengaman bagi pengendara mobil. Jangan lupa pada mereka yang bekerja di ketinggian. Misalnya pembersih kaca hotel berbintang, atau super mal. Mereka menggunakan helm dan sabuk pengaman juga. Para medis menggunakan sarung tangan, masker dan mencuci steril peralatan. Semua ini demi keamanan dan keselamatan bersama, untuk menghindarkan diri dari musibah. Jika ada yang tidak menggunakan peralatan standar keamanan, akan dianggap nekad. (Atau malah ditempatkan sebagai jagoan?)

Namun, apakah jika telah menggunakan peralatan standar keamanan pasti akan selamat terhindar dari kecelakaan dan kematian? Tidak perlu memperpanjang persoalan siapa menjamin apa, tugas manusia adalah mempersiapkan dan memperlengkapi diri sebaikbaiknya, selebihnya urusan Gusti Allah. Dengan demikian, ketika sekuat tenaga mengupayakan agar keselamatan terjadi pada dirinya sendiri dan orang lain dilandasi pengakuan penuh kerendahan hati, bahwa menyangkut hidup dan mati dari pihak manusia tidak ada yang 100% pasti. (Oleh karena itu, lembaga-lembaga asuransi mengajukan persyaratan-persyaratan tertentu, ‘kan?) Daud telah membuktikannya. Ia telah berusaha untuk menghindari tragedi kematian karena perselisihannya dengan Saul. Ia tidak ingin membunuh Saul, karena Saul adalah tokoh besar yang telah diurapi Tuhan. Ia sendiri tidak ingin terbunuh, bahkan sampai mengungsi dan ambil bagian dalam kehidupan bangsa di Filistin, musuh besar Israel. Toh tragedi kematian terjadi juga. Saul (dan Yonatan ) akhirnya mati terbunuh dalam perang melawan Filistin.

Jika saja kita tahu sedikit rahasia kematian, mungkin kita sedikit lebih tenang menghadapinya meskipun tidak mungkin menghindarinya. Benarkah? Ah, tidak juga. Dalam film “Final Destination”, digambarkan bahwa kematian memiliki pola sehingga bisa ditebak ke mana arah kematian menuju. Setelah ini, yang mati adalah ini. Sekalipun film ini menyederhanakan persoalan ‘destinasi’, namun benar juga, bahwa mengetahui ‘sekarang giliran siapa’ (giliranku?) membuat kita tidak tenang. Entah kenapa. Kalau begitu tersedia pilihan:

  1. Tidak usah tahu, sebab cepat atau lambat ia pasti datang.
  2. Lakukanlah segala hal sebaik mungkin mumpung masih hidup, sekalipun tidak tahu
  3. Nggak mau tahu

Pilih 1,2 atau 3 . Tahu nggak tahu, kumpulkan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s