King

Poster Film KingSutradara            : Ari Sihasale
Skenario              : Dirmawan Dinata
Pemain                 : Rangga Raditya, Lucky Martin, Surya Saputra, Mamiek Prakosa, Ariyo Wahab
Produksi              : Alenia Pictures

Ini film bagus untuk ditonton bersama keluarga. Terutama untuk mengisi liburan saat ini, bagus juga ditonton bersama anak-anak. Bagi orang tua bisa introspeksi diri, sudah betul belum cara mendidik anak-anak. Sekaligus sebagai bahan tambahan untuk lebih memahami dunia anak. Bagi anak-anak, bisa belajar tentang arti kerja keras, persahabatan, dan hormat kepada orang tua.

Melalui King, Ari Sihasale sebagai sutradara semakin mengukuhkan dirinya dalam dunia sinema. Sebagaimana film Denias, ia menyuguhkan gambar yang indah. Baik dari panorama alam maupun dari kesederhanaan rumah-rumah desa. Asap yang berasal dari tungku desa menembus genting-genting kusam di pagi hari. Suguhan romantis tanpa banyak kata. Selain itu, adegan-adegan diperhitungkan dengan rapi dan mengalirkan kekuatan cerita. Anak kampung di pelosok Banyuwangi jadi juara  badminton Asia, terasa masuk akal dan nikmat. Sentuhan sutradara memang harus diakui, tentu tanpa mengesampingkan peran yang lain.

Para pemain mampu menghidupkan cerita. Mamiek Prakosa menjadi Pak Tejo, seorang komentator badminton kelas kampung, pengumpul bulu angsa untuk dibuat kok. Sifat keras, kebapaan, ambisi, nasionalisme dan pergulatan batin seorang duda yang mendidik seorang anak dibawakan dengan baik. Nilai plusnya, ia berperan tanpa menghilangkan citra jenakanya. Lucky Martin yang berperan sebagai Raden layak diberi apresiasi tersendiri. Kocak dan nakalnya, agak di luar batas sebagai anak. Guntur diperankan Rangga Raditya penuh penjiwaan. Karakternya sensitif, lugu, pekerja keras, khas anak desa yang sederhana. Tambahannya, ia sedang menanggung obsesi bapaknya, orang sekampung dan dirinya sendiri. Emosi penonton terbangun, dan mampu menyentil syaraf haru.

Adalah Pak Tejo dan Guntur, anaknya yang masih SD. Halaman rumah mereka adalah lapangan badminton. Setiap kali diadakan pertandingan, penonton tidak hanya ramai menyaksikan pertandingan. Tetapi juga ingin mendengarkan komentatornya, Pak Tejo. Sampai-sampai dibelikan sound system baru. Guntur juga sering bertanding di lapangan badminton depan rumahnya itu. Namun tidak bisa mengalahkan Raino, perangkat desa. Terang saja, Raino seorang dewasa dan Guntur hanya anak kecil. Di sini, digambarkan tentang semangat, ambisi seorang anak yang ingin menang. Sementara si bapak tidak pernah membesarkan hati, tetapi malah menghadiahi dengan hukuman dan nasehat yang menyakitkan bagi si anak. Suatu kali, Guntur bertanding dengan raket pinjaman. Karena, raket kayunya sudah melengkung. Akibat smesnya yang keras, raket pinjaman senarnya putus. Maka atas inisisatif Raden, digantilah senar raket dengan senar gitar curian. Tidak berhasil, digantilah dengan senar balon yang juga curian. Penonton ketawa ngekek. Disidanglah Guntur beramai-ramai oleh yang punya gitar, penjual balon, yang punya raket dan bapaknya. Penonton berkeluh, diaduk emosinya. Pak Tejo meminta maaf sambil membiarkan televisinya tetap ada di rumah Raino si empunya raket, sebagai bentuk pertanggungjawaban. Ada lagi. Ketika Pak Tejo setor bulu angsa, Raden mengetahui kalau di tempat itu ada klub badminton Banyutumangkis yang membuka pendaftaran. Maka Raden bersama temannya ngamen jathilan di kota untuk biaya pendaftaran. Setelah Raden diterima, latihan dan sempat digojlog, ternyata ia pake nama Guntur. Dengan kata lain, Radenlah yang berinisiatif mendaftarkan Guntur di klub itu tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. Guntur pun latihan dan mendapat tempat di hati sang pelatih. Tetapi mendapat iri temannya, calon rival di perebutan beasiswa bulutangkis Djarum di Kudus. Ketika Guntur akan ikut seleksi di Kudus, maka Pak Tejo menggadaikan motornya. Setelah itu diadakan upacara penglepasan ala kampung. Ketika seleksi Guntur tidak menginap di hotel, tetapi bermalam di atas pickup, di bawah langit malam. Hasil seleksi ditunggu. Jalan ke rumah Guntur diberi tanda arah oleh teman-teman, supaya Pak Pos tidak kesasar. Harap-harap cemas dan hampir putus asa. Guntur diterima dan dipakaikan jaket oleh Liem Swie King. Idola bapaknya. Setelah 2 tahun berlatih kemudian menjadi juara Asia, yang pertandingannya di TV ditonton orang sekampung di lapangan badminton di halaman rumahnya.

Beberapa adegan sengaja diulang untuk memberi penekanan tema ataupun artistik. Misalnya, adegan di sekitar tungku desa, adegan Guntur bikin kopi untuk bapaknya, adegan bersepeda, dan adegan rumah pohon. Juga gambar bayang pohon-pohon disela sinar matahari yang menembus kabut pagi. Pengulangan adegan dan gambar ini berhasil sesuai dengan tujuannya. Tema dan artistik yang baik berhasil menyapa dan menyentuh penonton.

Siapkan tisu atau saputangan, Anda!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s