Digendhong Mbah Surip

Tak gendong ke mana-mana 2X… Enak dong mantep dong…daripada kamu naik pesawat (taksi) kedinginan (kesasar)…Mendingan tak gendong to, enak to mantep to…Ayooo kemana

Mbah surip
Mbah surip

Tak gendong ke mana-mana 2X Enak tahu…Where are you going, OK I am boking (my darling) 2X…

Haah…haah…haah

Aku dan Dama tersihir Mbah Surip. Begitu mendengar dan melihat klip lagu “Tak Gendhong” kami bengong. Terpana. Ini lucu dan gila. Tapi hebat. Ini lagu memang lucu, ketika mendengarnya langsung terhibur dan ketawa-ketiwi. Pikiran penat jadi sehat (atau malah tambah sesat? He…he). Bisa jadi jampi stress. Ini lagu hebat. Bayangkan, Dama yang belum genap 2 tahun, tidak berapa kemudian bisa mendendangkannya sambil ketuk-ketuk meja. Biasanya lagu hebat aransemennya rumit. Definisi hebat di sini tidak begitu. Lagu yang hebat adalah yang bisa dinikmati anak kecil dan membuatnya goyang. Sudah.

Lagu ini memang sederhana tapi kaya makna. Enteng di telinga tapi dalem di rasa. Kelihatan seenaknya tapi kena. Maka jadilah magnet bagi Dama dan saya.

Mbah Surip milih judul lagunya dengan Tak  Gendhong. Orang Jawa memiliki beberapa istilah untuk ‘membawa anak’. Misalnya bopong, cengkeweng, emban dan lain sebagainya. Tak Gendhong berarti Dak Gendhong atau Aku Nggendhong (Kamu). Nggendhong seperti (Dewi Persik menjadi) Mbok Jamu yang nggendhong keranjang jamu dipunggungnya. Menggendhong dipunggung bisa dengan jarik. Bisa juga tidak, hanya dengan melingkarkan tangan di pundak atau leher yang nggendhong. Biasanya yang digendhong adalah anak. Anak yang dibawa tetap dapat melihat ke depan dan merasa nyaman. Yang nggendhong adalah orang tua. Rasanya, di sini Mbah Surip tidak sekedar memberi judul.

Lagu Tak Gendhong full kritik. Halus tapi pedas.

Satu. Misalnya, orang Jawa juga punya ungkapan ,”mikul dhuwur mendhem jero”. Artinya, anak atau orang muda punya kewajiban untuk menghormati orang tua setinggi langit dari bumi. Pertanyaannya, lalu apa kewajiban orang tua pada orang muda? Maka, lagu  Tak Gendhong adalah kritik (supaya ada keseimbangan) bagi orang tua yang tidak mau mengalah pada yang muda, orang tua yang tidak mau memberi kesempatan bagi orang muda untuk tampil. Baik tampil di panggung keluarga, tempat kerja, budaya maupun politik. Kewajiban orang tua adalah nggendhong orang muda. Ini tidak mudah, karena proses nggendhong perlu kekuatan ekstra. Padahal jika sudah tua biasanya stamina tidak lagi prima. Pundak bisa pegel. Encok bisa kambuh. Pinggang bisa keseleo. Macem-macem penderitaan bisa timbul dari kesediaan gendhong-menggendhong ini. (Nggak tahu juga kenapa lagu ini naik daun saat peristiwa politik negeri ini lagi meriah-meriahnya.)

Dua. Saat-saat ini kita sering mendengar pesawat  jatuh, kapal tenggelam, bis dan kereta tabrakan, bus way jadi telatan, dsb. Maka tak ayal lagu Tak Gendhong serasa tonjokkan yang tepat sasaran. Bikin malu, K.O. Klenger seketika. Bagaimana tidak, jika segala macem kendaraan tidak ada yang bisa menjamin keselamatan, maka Tak Gendhong dijamin aman, nyaman, asyik dan menjalin kemesraan! 

Tiga. Yang ini lebih tepat bukan kritik, tetapi Mbah Surip ingin mengingatkan prinsip kerja yang disebut melayani. Dalam dunia gendhong-menggendhong, setinggi, sesenior, setua, sekuat, sekaya apa pun jika ingin kerja dengan prinsip melayani, ia harus mau merendahkan diri, baru yang digendhong bisa naik. Setelah nggendhong, ia tidak boleh berjalan tegak atau membusungkan dada, sebab malah bisa jatuh terlentang berbarengan menindih yang digendhong. Ia harus mau jalan dengan sedikit membungkuk merendah. Tanpa prinsip semacam ini, kerja dimanapun hanya didedikasikan untuk mencari keuntungan yang akhirnya hanya saling menjatuhkan. Di tengah nilai-nilai individualisme yang makin menggigit, Mbah Surip mengingatkan sekaligus menawarkan kembali nilai-nilai kebersamaan, kekeluargaan dan kemesraan. Bukan begitu, Mbah?

Tampilan Mbah Surip yang ramah dengan rambut rasta, siap nggendhong siapa saja, kemana-mana.

I love you fool. Eh sorry, full! Haah…haah…haah.

3 thoughts on “Digendhong Mbah Surip

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s