Cita-cita, kerja dan doa

Sabda Pagi

Mazmur 6: 2-6

Ya TUHAN, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu. Kasihanilah aku, TUHAN, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, TUHAN, sebab tulang-tulangku gemetar, dan jiwakupun sangat terkejut; tetapi Engkau, TUHAN, berapa lama lagi? Kembalilah pula, TUHAN, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu. Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu; siapakah yang akan bersyukur kepada-Mu di dalam dunia orang mati?

Semalam Michael Jackson (MJ) dimakamkan. The King of Pop telah meninggalkan dunia, memberi kenangan dan keharuan yang dalam. Peristiwa ini mengingatkan pada karya-karyanya di studio, maupun di pentas  yang sukses dan melegenda. Konon, meskipun ia telah tiada, masih sanggup mendatangkan uang jutaan dollar. Ia adalah raja konser spektakuler namun kesepian. Nyanyiannya menyegarkan hati penggemarnya. Tapi lahir dari hidupnya yang kering. Tidak berlebihan rasanya jika ia mencari-cari kesejukan spiritualitas. Aksi panggungnya mampu mengerakkan tubuh penonton. Meskipun ia merasa bermasalah dengan tubuhnya sendiri. Yang kemudian membawanya pada operasi-operasi plastiknya. Kita menjadi maklum, bahwa bagaimanapun Sang Raja juga manusia biasa. Ia punya pergumulan sendiri dalam mengisi hidup yang dibawa hingga ke pemakamannya.

Ini mengingatkan bahwa manusia memiliki obsesi dan masalah sendiri-sendiri. Anak-anak mempunyai ‘kekecilan’ dan merindukan tumbuh ‘kebesarannya’. Kaum muda mempunyai ‘kejelekan’ dan memimpikan ‘ketampanan/kecantikan’ dirinya atau pasangannya. Orang tua mempunyai ‘kegelisahan’ dan menginginkan ‘kemapanan.’ Hal-hal inilah yang mengisi hidup mereka. Sukses tidaknya tergantung seberapa kuat api semangat untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Dan, seberapa basah spirit yang ada untuk memberi kesejukan diri.

Doa Pemazmur mengungkapkan kesungguhan dalam menjalani pergumulan hidup, “selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu. Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu; siapakah yang akan bersyukur kepada-Mu di dalam dunia orang mati? Ia sedang merintih dalam doa mengharap perjumpaan dengan Allah. Ia ingin kuat. Sebelum maut menjemput, hidup harus diisi dengan kesungguhan, apa pun itu! Selama jiwa masih dikandung raga, yang dipikirkan adalah bagaimana cara mengisi hidup, mewujudkan cita-cita, menghadapi pergumulan dan memecahkan masalah.

Maka, penuhi hidup dengan kerja menuju mimpi dan doa akan menyempurnakannya.

One thought on “Cita-cita, kerja dan doa

  1. ‘Keramaian’ yang kita tampilkan seringkali lahir dari ‘kesunyian’ diri kita. Tidak ada yang bisa memprediksi kapan ‘keramaian’ dan ‘kesunyian’ itu hadir. Tetapi yang pasti adalah melalui cita, kerja dan doa Allah telah menyediakan segala sesuatu indah pada waktunya. Seindah hari ini, 9 Juli 2009 dimana Pak Pendeta Teguh berulang tahun. Tuhan Yesus memberkati…Amin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s