Bom Teroris

Nampaknya di Indonesia sering terjadi sesuatu yang berseri, meskipun itu bukan sinetron. Ada bom Bali I dilanjutkan dengan bom Bali seri II. Bom Mariot seri I dan sekarang telah diproduksi seri II. Ditambah dengan Ritz Carlton. Belum terhitung ledakan di Kedutaan Besar Australia, dll.

Besar harapan, tidak akan ada ledakan bom lagi, apalagi yang berseri. Semoga saja harapan ini tidak hanya tinggal harapan seperti yang sudah-sudah. Sulitkah untuk menghidupi harapan di bumi Indonesia? Siapa yang berani jamin? Yang menjamin tentu saja harapan. Siapa lagi?

Sebelum menabur benih harapan, marilah kita lihat cocok tidaknya tanah di Indonesia sebagai tempat bertumbuh. Kita pastilah tahu, negara ini adalah negara pulau. Itu berarti, memiliki garis pantai yang sedemikian panjang, dan ribuan daratan yang terpisah satu sama lain. Pastilah kita tidak tahu berapa banyak orang keluar masuk lintas perbatasan negara setiap hari. Maka, diperlukan dana besar untuk membeli kapal-kapal patroli yang mengawasi laut. Atau buat pagar kawat di perbatasan. Atau, beli kamera satelit yang memeloti daratan, siapa tahu ada orang melakukan serangan darat atau sengaja membakar hutan. Atau beli teknologi sebagai kelengkapan intelejen demi keamanan negara. Ada teori yang masih perlu diuji sahih tidaknya, bahwa kekacauan terjadi karena perut tidak terisi. Dan, orang Indonesia makin hari makin banyak yang ngaku perutnya kosong nggak bisa makan. Ledakan bom dianggap sebagai protes paduan suara dari perut tak terisi  itu. Tetapi, bom meledak tidak hanya sekali. Itu artinya negara tidak punya kemampuan duit untuk beli ini- itu, sekalipun untuk mengamankan dirinya sendiri, dan untuk mengisi perut rakyatnya agar tak keroncongan. Sementara bom terus meledek dan meledak. Jadi, harapan yang siap kita deder, akan jatuh di tanah keras. Perlu usaha dan doa yang tidak kalah keras agar bisa hidup dan tumbuh. Banyak yang tsudah tidak berani berharap, karena takut kecewa. Mungkin, di sini memang tidak perlu harapan, karena di sini yang diperlukan adalah kerja dan kerja. Sebentar saja melamun, akan ketinggalan kita.

Selain aparat, kita juga memiliki kewajiban menjaga dan menegakkan kedamaian sekitaran saja. Sering kita menduga, mungkin dia, dia atau dia terlibat jaringan terorisme.  Sayangnya, dugaan yang tepat tidak mudah dilakukan tanpa data dan kajian fakta. Kita lebih sering menggantikan data dengan apriori.  Apriori inilah yang setia mengantar kita pada kekagetan. Betapa kagetnya, ketika sahabat dekat yang santun, saleh dan tampak taat ibadahnya dikatakan sebagai teroris! Data dan fakta telah sering bicara. Tetapi kita sering pura-pura lupa dan tidak mendengarkannya.

Persoalannya mungkin bukan pada telinga. Tetapi pada mata budi yang tidak waspada. Harus diakui bahwa tidak ada yang keliru dengan kesalehan, kesantunan atau ketatan beribadah. Bahkan ini adalah nilai-nilai luhur dambaan manusia. Bisa jadi mata budi telah berapriori: membunuh tidak dibenarkan dalam ajaran apa pun dimanapun. Pada titik ini nampak, apriori menggantikan data dan kajian fakta, sehingga sekarang mata menjadi kaget, kelilipan bom. Teroris telah mengungkapkan ajaran militansi total faktualnya: mati bunuh diri adalah tiket ke surga.

Ada juga yang menduga, bahwa teror dilakukan oleh orang iseng kurang kerjaan. Padahal, justru teror dipersiapkan secara sistematis, metodis, targetnya jelas, ada kaderisasi, pelatihan dan dasar-dasar ideologi. Kita menganggapnya kelakuan orang iseng, padahal mereka serius bekerja, pantas saja kita sering kecolongan.

Ini jaman demokrasi, di mana berbeda tidak dilarang. Dan, yang seringkali mencemaskan adalah sikap yang seolah membenarkan untuk meniadakan eksistensi liyan. Itulah sebabnya pembangunan demokrasi beriringan dengan perkembangan hukum dan hak asasi manusia sebagai tanggul humanisme. (Masih teringat ketika Amrozi Cs. dihukum mati, ia mendapat sambutan hangat luar biasa dari kerabat dan kawan-kawannya) Jika, benteng ini rapuh, maka hidup di negeri ini ongkosnya terasa sangat mahal.

Coba saja lihat, mereka yang kehilangan anggota keluarganya, entah ayah, ibu, adik, kakak atau sahabat dekat dan para tetangga! Berapa besar dana dan waktu untuk melakukan cek DNA, menghadirkan keluarga korban dan pelaku? Berapa jumlah istri dan anak-anak yang ditinggalkan pelaku pemboman bunuh diri, dan bagaimana kisah akhir hidup mereka? Belum lagi ditambah dengan biaya dan pengorbanan untuk pengintaian dan pengejaran? Berapa kali salah tangkap? Mudah-mudah berita semacam ini segera berlalu dan penghitungan suara pemilu presiden dan wapres segera dilanjutkan KPU.

2 thoughts on “Bom Teroris

  1. Hanya satu yang bisa mengubah dunia, dan menghentikan dunia teroris yaitu kasih. kalau saja ada kasih di hati sodara kita itu, bom2 itu tak perlu bertebaran.. tak berseri seperti sinetron.

  2. Kalau begitu yang berseri mestinya kisah kasih , ya…”Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap” (1 Korintus 13:8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s