Mahkota Uban

Sabda Pagi
Mazmur 21: 4
Sebab Engkau menyambut dia dengan berkat melimpah; Engkau menaruh mahkota dari emas tua di atas kepalanya.

ketopong
ketopong

“Barang siapa bersyukur hidupnya bahagia. Ini adalah resep sederhana, yang sudah terkenal di mana-mana. Sayang, harganya mahal dan barangnya langka. Pantes, tidak banyak orang yang mampu menjangkau bahagia. Dari golongan miskin atau kaya bisa bahagia, asal mau hidup sederhana. Seperti saya ini juga berhak bahagia!”
Pak Kiman menggolongkan dirinya sebagai orang yang sederhana ‘lahir-batin’. Secara lahir semua orang sudah tahu, karena memang rumahnya hampir bersih dari perabot ini-itu. Secara batin banyak juga yang mengakui. Apalagi dengan rambutnya yang telah putih, dan keriput diwajahnya. Beberapa lagi tidak hendak ngaku. Yang lain berkomentar,”Wait and see-lah, sebab hati manusia lebih dalam dari lautan”.

Mengenai rambut putihnya, ia berbeda pendapat dengan Bu Kiman. Bu Kiman agak suka menyemir rambut. Agak, artinya tidak selalu. Malah rambut Bu Kiman sering tampil dua warna. Sebelah depan rambut hitam (asli masih hitam atau semiran sulit dibedakan) dan samping belakang berwarna putih uban. Ketika Bu Kiman tidak ada di rumah, Pak Kiman berkata, “Kalau Bapak sih, nggak pernah menyembunyikan. Rambut putih beruban hampir rata begini, ya sudah. Memang sudah saatnya. Inilah rambut mahkota. Hadiah di hari tua. Tidak ada yang lebih berharga dari mahkota bukan?” Syukurlah Bu Kiman sedang ke pasar, jadi nggak dengar.

Ah, Pak Kiman baiklah. Setuju saja jika mahkota itu berharga. Setuju, jika mahkota tempatnya di kepala. Setuju juga jika hidup itu mesti sederhana dan disyukuri. Bahkan setuju pula, jika Pak Kiman menghayati ubannya sendiri sebagai mahkota. Tetapi nanti dulu kalau soal pernyataan rambut putih adalah hadiah di hari tua. Belum tentu. Lha, anak muda sekarang saja banyak rambutnya putih beruban. Apalagi yang nge-punk, rambutnya malah mejikuhibiniu!

Sedikitnya dua orang yang berhak memakai mahkota. Satu, ia adalah raja, maka mahkota bermakna kuasa. Kira-kira seperti raja Daud misalnya. Dua, ia adalah pemenang. Misalnya, jaman Yunani kuna pemenang lari marathon dianugerahi mahkota daun. Di sini mahkota menjadi simbol kemenangan, apapun wujudnya. Pak Kiman memang bukan raja, ia adalah orang biasa seperti kita-kita. Dan ia bangga punya uban di kepala. Baginya, inilah mahkota!
Sebenarbenarnya, ia adalah pemenang! Ia layak syukuran karena ditetapkan sebagai juara bertahan, karena ia tetap dapat bertahan dalam kesederhanaan hingga sekarang. Sesungguhsungguhnya, yang baginya kesederhanaan, lebih pas bagi orang lain untuk diterjemahkan sebagai kesulitan utawa penderitaan.

One thought on “Mahkota Uban

  1. Bagi saya mahkota pak Kiman “dlm hal uban” yang sesungguhnya adalah kalau beliau benar2 bisa menikmati peralihan warna rambutnya itu, dan tidak resah dengan semirnya bu Kiman atau bu Kiman2 yg lain .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s