Tuhan Melihat Geliat Ulat

Sabda Pagi
  
Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak. Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya:”Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?” (Mazmur 22: 7-9)

kepompong
kepompong

Ulat- kepompong-kupu-kupu. Ini adalah proses metamorfosa. Ulat yang menjijikkan jadi kupu-kupu yang indah. Yang buruk rupa berubah jadi cantik penuh warna. Di sana ada harapan bahwa ‘habis gelap terbitlah terang. Setelah mengalami penderitaan, datanglah kesukaan. Kematian digantikan kebangkitan. Nah soalnya, bagaimana jika jadi ulat terus, tak (atau belum?) pernah jadi kupu-kupu? (Yuk dijawab bareng-bareng pakai koor: “kasihan deh, Lu!” Ah, raja tega!)

Keri adalah seorang suami dan ayah dari dari dua orang anak. Sekarang ia sedang bingung. Istrinya sudah lama tidak dikasih uang belanja. Kedua anaknya masuk tahun ajaran baru. Perlu buku dan seragam. Jelas ini harus dibayar dengan uang. Bukan daun. Belum untuk jajan di warung atau pinggir jalan. Utang sudah jatuh tempo beberapa bulan yang lalu. Jika ia di rumah, tetangga rajin berkunjung. Satu-persatu mereka tanya, “Apakah sudah ada  uang untuk nyicil utang?” Malu berkaki seribu selalu antri di depan pintu. Anak yang bungsu tidak mau sekolah. Minder karena cacat tubuhnya, katanya. Sebenarnya, dokter sana-sini sudah kasih nasehat: harus operasi. Apalah daya, pengobatan alternatif dapat menghiburnya untuk sementara. Ia tidak bekerja apa pun sekarang. Berpuluh surat lamaran telah dikirimkan. Siang malam nunggu, tak ada pula panggilan. Bah! Mana modal istri sudah habis untuk makan sehari-hari! Pusing tujuh puluh tujuh kali tujuh keliling. Ia tidak minta dikasihani. Ia minta uang.

Ia adalah (bagian) kita. Serasa harapan tempat bergantung putus benangnya. Seperti ulat, hanya bisa menggeliat di tempat. Hanya bisa menunggu durian runtuh. Atau, dipatok ayam!

Tolonglah kami Tuhan…”Tuhan kasihani, Kristus kasihani, Tuhan kasihani kami!” (Nyanyian KJ 42)

2 thoughts on “Tuhan Melihat Geliat Ulat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s