Mbah Sagiyem Penjual Pecel

Sagiyem
Sagiyem

“Saya, ‘baru’ 14 tahun jualan pecel. Kira-kira semenjak mulai pembangunan mall dan pertokoan di Simpang Lima ini.” Begitu Mbah Sagiyem memulai kisahnya. Berikutnya, ia mengaku usianya 60 tahun dan belum ingin ‘pensiun’. Namun melihat kerut diwajahnya yang ayu dan merasakan wibawanya, mungkin lebih dari itu. Perlu tafsir tersendiri untuk menentukan waktu kira-kira berapa lama ia berjualan dan berapa tahun usianya.

“Dulu, saya jualan di sana. Siapa saja boleh jualan. Rame, nggak kaya sekarang. Banyak larangan.” Ia menunjuk lapangan Simpang Lima. Sekarang ia mangkal dekat parkiran matahari mall, sisi jembatan penghubung ke Citraland. Di bawah tenda yang telah pudar warna oranyenya, ia menggelar dagangannya bersama dengan gudeg dan penjual pecel lainnya.

Setiap hari, ia memasak 6-7 kilogram sayuran. Kecuali hari Minggu, ia menyiapkan 11-12 kilogram. Maklum, hari Minggu adalah hari terpadat di Simpang Lima. Banyak orang olahraga, jalan dan lari pagi. Atau, hanya sekedar cuci mata.

Mbah Sagiyem tinggal di jalan Mataram. Bertiga dengan teman dan keponakannya, ia menempati 1 ruangan yang sama. Dari tempat tinggalnya di Semarang ini, setiap hari harus ditempuhnya dengan naik becak pulang-pergi. Tukang becak langganannya akan mengantarnya pulang sekitar jam 3 sore, sebelumnya mampir ke pasar Johar. Untuk apalagi jika bukan untuk belanja sayuran, persiapan besok hari. Transportasi langganannya ini sehari jalan dibayar Rp 20.000.

Mbah Sagiyem asli Pedan, Klaten. Beranak 3. Dua di Sumatera, satu di Klaten. Cucunya juga 3. Satu dari masing-masing anak. Sebulan 2 kali, Mbah Sagiyem pulang ke Klaten, naik travel. “Naik kendaraan biasa, bingung, terlalu banyak naik turun.”

Dalam usianya yang senja, ia masih ingin terus bekerja. Meskipun anak-anak setia mengiriminya uang setiap setengah tahun 1 kali. Atau pas lebaran. Ia memang ingin terus cari uang. supaya tetap bisa makan, beli baju, beIi ikan, nyumbang dan nyunatkan cucu-cucu keponakan. “Aku masih punya keinginan. Jadi, ya harus kerja,” katanya.

Karier sebagai penjual pecel memang harus ‘gemi, nastiti lan ngati-ati’. Sebuah kebijaksanaan khas Jawa untuk hidup sederhana, hemat dan berhati-hati. Bagaimana tidak, untuk bisa mangkal di trotoar bawah ini  saja, seorang penjual pecel harus mengeluarkan ratusan ribu rupiah untuk membayar segala macam pungutan. Belum termasuk makan sehari-hari dan transportasi. Mulai dari retribusi, uang sampah, ongkos kebersihan, uang keamanan, iuran sosial, dll.

“Jualan saya ini tidak mengenal friser. Jadi seger. Sayuran yang tidak habis dan dimasukkan friser jadi hambar.” Begitu penjelasan Mbah Sagiyem. Namun, pilihan cara penyajian yang demikian membuatnya harus bekerja sedikit lebih keras dan lebih cerdas dari yang lain, jika tidak ingin rugi.  Maka perhitungan dan membaca tanda-tanda alam, mau hujan atau tidak, akan banyak pengunjung atau tidak, harus cermat dan tepat. Tidak boleh terlalu sering meleset.

Penjual pecel juga besar godanya. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa banyak penjual pecel yang juga ‘mengkomersialkan dirinya’. Ini stigma yang tidak enteng. Khususnya penjual pecel pada malam hari, di trotoar atas. Syukurlah, bahwa Mbah Sadiyem berjualan pada pagi hari, di trotoar bawah, dan sudah tua pula.

Jualan pecel memang jualan sayur hijau. Hanya saja, meniti karier di bidang ini sulit naik daun. Bukan berarti tidak ada sukses. Warung pecel Bu Sumo di Jl. Kyai Saleh salah satu contoh warung pecel yang sukses dan berjaya hingga kini. Waniti karier seperti Mbah Sagiyem ini, berjalan seperti di jalan sempit di antara sedan dan becak. Mesti hati-hati, tidak boleh lengah. Entah sampai kapan. Mbah Sagiyem telah menunjukkan bahwa dirinya adalah pejuang kehidupan yang tidak kenal kata menyerah.

O, ya. Untuk 1 ditambah setengah porsi pecel, 1 sate ati-ampela ayam, 1 tempe dan segelas teh panas harganya Rp 12.000. Ini termasuk mahal untuk pecel kampung. Tapi ini pecel kaki lima di daerah hotel berbintang, Horison dan Ciputra. Apalagi dikemas dalam keramahan ala Sagiyem, awas ketagihan!

2 thoughts on “Mbah Sagiyem Penjual Pecel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s