‘TUK’

TUK
Bibit nambal timba bocor

Teater Lingkar mempersembahkan ‘TUK’. Sebuah pementasan teater berbahasa Jawa dengan naskah yang ditulis Bambang Widoyo, Sp., dan disutradarai Maston. Ini merupakan pementasan Teater Lingkar yang kesekian ratus. Hanya untuk menegaskan sehingga frase kesekian ratus perlu dicantumkan untuk menggambarkan bahwa pementasan ini dilakukan oleh kelompok teater yang telah memiliki jam terbang tinggi. Akibatnya, ada sebuah pengharapan yang dinantikan bahwa pentas malam ini akan dilakukan oleh aktor-aktris kawakan.

Ah, rasanya saya harus mengingat pengalaman yang dulu-dulu. Suatu ketika pernah nonton ‘End Game,’ yang diaktori oleh tokoh-tokoh teater kawakan Jogya. Ternyata sebagai penonton aku tetap tidak paham. Maksudnya, menonton pementasan teater ternyata tidak selalu mudah, tidak sebatas sebagai penikmat yang menanti dipuaskan. Kadang harus mengerutkan dahi, menebak-nebak apa maksudnya. Apalagi teater yang mengangkat tema puitis yang absurd-absurd. Maklum, pengetahuan dasar tentang seni pertunjukkan masih sangat terbatas. Aktor yang main jempolan pun, jika memang penontonnya tidak memiiliki daya tangkap yang memadai, akhirnya sebuah lakon seperti  dipertaruhkan: Terpahami atau tidak oleh penonton. Suatu pertunjukkan memang harus memenuhi standar kelayakan pentas. Termasuk pemain yang perlu cukup persiapannya. Namun, kesiapan penonton juga perlu. Sehingga bagusnya akting pemain mendapat respon semestinya. Mungkin itulah sebabnya, teater hanya hidup di lingkungan ‘intelektual’ tertentu. Karena sebelum nonton saja perlu ritual batin dulu, agar siap menerima apa pun sambil mempersiapkan apresiasi.

TUK
Menik nagih uang sewa pada Mbok Jiah

Pernah dengar-dengar-mungkin salah dengar- naskah ini disebut-sebut pernah dipentaskan oleh teater di sekitaran Jogya-Solo. Sebuah naskah drama memang bisa saja (dan sering) dimainkan oleh grup yang berbeda dengan sutradara berbeda, interpretasi berbeda, maka menghasilkan pementasan yang beda pula.  Beda atau tidak, aku tidak tahu, karena belum nonton pembandingnya meskipun pernah dengar-dengar.

Menilik dari latar cerita, para tokoh cerita hidup di lingkungan Magersaren (mager sari). Ini tentunya tidak lepas dari persoalan di sekitar tanah dan tembok keraton. Istilah magersari dikenakan bagi orang kebanyakan (bukan keluarga bangsawan) yang hidup dan tinggal dalam waktu yang lama di atas tanah milik keraton. Jika tidak Solo ya Jogya. Sekitar dua kota itu. Pernah dengar kabar bahwa sebenarnya beberapa aset keraton telah berganti kepemilikan. Entah oleh siapa dan bagaimana caranya. Wujudnya bisa tanah, rumah atau benda-benda pusaka. Nah, topik yang diangkat dalam naskah ini adalah isu bahwa tanah magersari akan dijual. Tentu saja hal ini sangat meresahkan bagi orang-orang yang numpang hidup selama berpuluh tahun di atas tanah magersari itu. Jadi, ini sebenarnya isu sensitif di Jogya dan Solo berkaitan dengan kehidupan di lingkungan tembok keraton dan kepemilikan hak pertanahan, ditambah lagi dengan gesekan peraturan perundangan antara yang milik Republik Indonesia dan yang milik keraton.

Di tengah perubahan jaman yang sedang kencang-kencangnya ini, pandangan masyarakat terhadap kehidupan kaum priyayi pun berubah drastis. Jika dulu, masyarakat yang numpang hidup di tanah keraton begitu taksim dan hormat karena diijinkan tinggal di sana dengan gratis atau hanya bayar uang kebersihan, sekarang mereka mudah memandang sinis karena praktek jual beli dan pindah tangan harta pusaka, rumah dan tanah keraton oleh kerabat istana yang sering mengakibatkan mereka menjadi korban pelengkap penderita. Mau menyalahkan tidak bisa. Karena memang sebenarnya mereka tinggal di sana berpuluh tahun hanya numpang tinggal di tanah yang bukan milik mereka. Malah sering dituntut harus berterimakasih oleh  diri mereka sendiri. Tidak menyalahkan juga tidak bisa. Karena mereka gatal, tersinggung harga dirinya dan merasa dijadikan korban. Nah, dengan sedikit pemahaman begini rasanya jadi lebih asyik merenung lakon ‘Tuk.’

TUK
Pesan-pesan terakhir Mbah Kawit pada Marto dan Lik Bisma

‘Tuk’ bisa berarti macem-macem. Bisa berarti ketemu dan pertemuan, dari kata kepe-thuk atau ga-thuk. Bisa pula berarti sumur, dari kata nge-thuk. Biasanya, pekerjaan menggali sumur akan segera dituntaskan jika airnya sudah ngethuk, merembes mengalir terus-menerus. Baik ‘Tuk’, dalam arti temu maupun tuk dalam arti sumur dapat digunakan bersama-sama di sini. Karena memang cerita ini diletakkan di sekitar sumur. Artinya, disekitar sumur yang airnya ngethuk inilah, orang-orang ketemu, bercakap-cakap, tinggal, bertengkar bahkan meninggal.

Pada jaman kini sumur, WC dan bak mandi sudah jamak diprivatisasi. Hampir setiap rumah mempunyainya. Dan, dalam membangun rumah modern bagian ini tidak boleh lupa dirancang. Bahkan jika mungkin, di setiap kamar ada atau terhubung dengannya. Alasannya bisa macem-macem. Ringkasnya, demi kenyamanan dan kemanusiawian. Maka sumur, WC dan bak mandi di sini menumbuhkan pertanyaan, “Sejak kapan kemanusiawian diukur dengan sumur, WC dan bak mandi?” Lho, iya. Asumsi di balik pertanyaan ini adalah : memiliki sumur, WC dan bak mandi secara privat lebih manusiawi. Dan menggunakan secara secara massal berarti sebaliknya. Memang begitu? Belum tahu juga. Yang pasti, menggunakan secara bersama-sama memang sering tidak nyaman. Nah kalau begitu, apakah tidak nyaman identik dengan tidak manusiawi, dan nyaman berarti segaris dengan manusiawi? Tentu saja harus dilihat nyaman dalam derajat yang bagaimana ‘kan? Lakon ini menyajikan jawabannya, tentunya buka jawaban ya dan tidak.

Setting panggung memiliki tiga titik, yaitu kiri, tengah dan kanan. Di sebelah kiri rumah petak Lik Bismo dan Romli. Di tengah panggung sedikit ke belakang ada sumur, WC dan ember. Di sebelah pojok kanan tempat Soleman, lalu Mbah Kawit dan Bu Dhe Jemprit. Serenteng dua pakaian dijemur. Kesan sumpeg dan marjinal ditonjolkan.

TUK
Kobongan

Adegan diawali Mbah Kawit Tukang Pijet-Kerok mengentas pakaian dijemuran. Lik Bismo Kolor Sumbu Kompor lewat bersepeda dengan rombong jualan berisi sumbu kompor dan kolor. Mbah Kawit tinggal sendirian, disewakan sepetak kamar di tanah magersari oleh keponakannya. Sementara Lik Bismo juga sendiri tidak berkeluarga, demi mengejar mimpi berkarier sebagai dalang. Tema kesendirian yang dapat menggiring dalam kerapuhan dan nelangsa justru dihadirkan dalam suasana keseharian yang natural dan komedik. Muncul Romli Penjahit yang sepi pelanggan bertengkar dengan istrinya karena perselingkuhan. Atau, yang membuat Soleman Makelar kewalahan karena Mbok Jiah memaksa mau menggadaikan radio  lawas. Tapi yang sudah-sudah Mbok Jiah nggak pernah nebus. Tema hidup yang keras mulai tercium diawal permainan. Namun ini juga dihadapi dengan gairah humor yang menggelitik. Bibit Tukang Patri Ember menguatkan roh humor diseputar sumur, menggoda Bu Dhe Jemprit penjual lombok. Nah berikutnya, Menik anak ‘pemilik’ tanah magersari mewartakan bahwa tarif sewa akan dinaikkan. Bukan kabar gembira memang dan tidak perlu bergembira. Sebab, nanti akan disusul dengan isu bahwa tanah magersari akan dijual kepada orang Jakarta. Makanya, sebentar-sebentar tarif sewa dinaikkan, maksudanya supaya pada pergi secara suka rela.

Soleman Makelar pulang kerja dengan gembira, karena akan dapat uang dengan menjual ayam jagonya. Namun, kegembiraan itu berubah jadi kemarahan karena ayam jagonya hilang dari kandang. Informasi dari Mbah Kawit, ayam jagonya telah ditemukan jadi bangkai, mati di dalam sumur. Dan Mbah Kawit telah menjual bangkainya. Maka, Soleman mengencingi sumur itu dan meludahinya. Jengkel kepada sumur sekaligus benci sama Mbah Kawit. Sumur itu telah menelan korban lagi selain sabun dan sikat gigi yaitu ayam jagonya. Dan Mbah Kawit jugalah yang sering memberi sesaji bagi sumur itu. Dalam tafsir Mbah Kawit, sumur itu bisa memberi malapetaka dengan kelakuan Soleman. Bibit tukang patri berniat akan menguras sumur itu dengan bantuan dana dari Bu Dhe Jemprit Bakul Lombok, yang baru saja cuci muka dengan air sumur beraroma pesing itu.

TUK
Kobongan

O, ya. Adegan jahil lainnya terjadi ketika Bu Dhe Jemprit baru pulang dari pasar dengan menanggung besarnya hasrat buang hajat. Sayangnya, WC sedang dipakai Romli Penjahit. Maka, jadilah Bu Dhe Jemprit buang hajat di sekitar sumur. Tiada air, maka tiada cebok. Sedangkan Soleman makelar masih ada di situ dan menyaksikan adegan seronok itu. Persoalan ketidakyamanan, karena menggunakan WC ramai-ramai se RT menyeruak segar di sini.

Barangkali saja, memang beginilah cara jenius masyarakat menghadapi hidup yang sulit. Sesuatu yang ‘ngganjel,’ ganjil dan getir disikapi dengan humor. Isu bahwa komplek magersari akan dijual, dibongkar semakin menguat. Ini pun dihadapi dengan humor. Misalnya, Marto Tambal Ban mengatakan bahwa ia senang-senang saja. Sebab, setidaknya ia akan dapat uang pesangon untuk menyekolahkan anaknya sampai jadi dokter.

Hanya Mbah Kawit s yang paling histeris. Ia paling tidak siap menghadapi tragedi kemanusiaan ini. Jika hanya tidak nyaman ia telah jalani berpuluh tahun. Tapi tidak untuk penggusuran, karena ia menerima wasiat dari Den Mas Darso yang punya tanah ini menyatakan, bahwa semua orang boleh tinggal di sini. Tidak bayar asal rukun. Nah, ketika sudah tua ia dilayani oleh ibunya Menik yang ganjen sebagai pembantu. Entah kenapa, lama-lama lengket dan ketika itu Ibunya Menik hamil. Jadilah, ya Menik itu. Padahal Den Mas Darso itu mandul. Terbukti dari dua istrinya terdahulu tidak beranak dan akhirnya bercerai. Jadi ketahuan bahwa Ibunya Menik hamil dengan orang lain. Sampai Den Mas Darso jatuh sakit-sakitan. Ketika Den Mas darso meninggal itulah hartanya jatuh ke tangan Ibunya Menik dan sekarang tanah ini dikelola oleh Menik. Begitu cerita Mbah Kawit. Kemudian Mbah Kawit membuat sesaji di sekitar sumur yang bertujuan untuk menolak, menjauhkan dan membatalkan segala macam jual beli dengan doa-doanya itu.

TUK

Hingga akhirnya komplek Magersaren terbakar. Orang-orang panik. Kebakaran menghabisi harapan hidup orang-orang yang numpang diatasnya. Penonton dibawa pada ingatan tentang kebakaran pasar-pasar yang hampir selalu disertai alasan listrik ‘kongslet’ sebagai penyebabnya, sebagai cara mengusir pedagang dan membangun pasar baru. Nah, adegan kebakaran inipun menggiring pikiran sebagai cara penyelesaiaan dari isu penggusuran dan penjualan Magersaren. Kebakaran dalam pandangan Mbah Kawit juga akibat kesembronoan manusia yang tinggal di atasnya. Misalnya, Soleman yang mengencingi sumur. Mbah Kawit mati dalam keprihatinan akan hilangnya kemanusiawian ini. Adegan mengharukan dimulai ketika Lik Bisma Kolor sumbu Kompor memberi sambutan dan menghantar kematian Mbah Kawit.

Barangkali, tanda-tanda kehidupan yang tidak manusiawi dimulai dari ketidaknyamanan. Dan bagi mereka yang terpaksa dan tidak punya nilai tawar akan menjalaninya dengan dibiasakan senyaman mungkin. Namun ketika kehidupan terancam, saat itulah kemanusiawian menggugat. Dan jika yang tidak manusiawi itu terjadi maka disebut tragedi.

Bagusnya pementasan naskah ‘Tuk’ ini ialah tetap terpeliharanya ketegangan, antara tragedi dan komedi yang diselimuti isu tentang penggusuran kebakaran dan ketidakjelasan siapa dalangnya. Serasa ada teror yang ditebar dan dibawa pulang ke rumah.

TUKDi sini adalah Semarang bukan Jogya atau Solo. Tentu akan lebih mudah dibayangkan seputar kehidupan ‘tanah kapling’, daripada komunitas magersari. Sumpek, pesing dan gelisahnya kurang lebih sama. Kemeriahannya yang beda. Barangkali saja ini bisa menjadi pancingan penghayatan para pelakunya. Asal saja dijaga kesadaran bahwa kehidupan di magersaren tidak sesuram dan sesangar kehidupan di tanah kapling. Karena masih dijaga oleh patron patriarkhal dan sedikit pakewuh (yang mulai luntur). Oleh karena itu, interpretasi teks dalam dialog yang penuh kemarahan bisa dimunculkan opsi lain: Tidak langsung dan vulgar tetapi sedikit ditahan dan dipendam, dengan nuansa nylekit yang tidak kalah dahsyat efeknya. Jika akan ditambah ornamen mungkin ada pada bagian kebakaran. Adegan ini masih tersedia ruang yang cukup untuk bereksplorasi.

Teater Lingkar sebagai komunitas teater di Semarang dengan jam terbang tinggi telah berhasil menghidupkan naskah ini. Jadi, jikalau berharap pun sebenarnya wajar-wajar saja. Selamat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s