Wisanggeni Lair

Wisanggeni Lair
Gareng, Janaka, Dresanala, Wisanggeni

Malam Jumat Kliwon 1 Sura ini, Teater Lingkar di TBRS mempersembahkan lakon wayang kulit Wisanggeni Lair, dengan Ki dalang M Brahim. Tidak seperti  pentas Jumat Kliwonan yang lalu-lalu, tampaknya 1 Sura malam ini sedikit istimewa. Sebelum pentas Ki Dalang M Brahim berwawancara dengan beberapa budayawan dan seniman di panggung, di antara gamelan.Pentas baru dimulai sekitar setengah sepuluh malam. Kursi penonton belum penuh. Di depan kursi-kursi, karpet di bawah sudah berjejer penonton. Di karpet ini visual lebih jelas, namun audionya kurang. Jika ingin jelas audionya, mesti mendekat ke speaker yang ada di sudut-sudut ruang ini.

Mendengar dan melihat gaya Ki Dalang M Brahim, sayup-sayup dan samar-samar seperti diingatkan pada gaya Ki Dalang Manteb Sudarsono. Visualisasi, sabetan, cengkok suluk, antawacana dan teatrikalnya seperti Manteb.  Hanya saja, Ki Dalang Ibrahim lebih jelas vokalnya, dan lebih mengundang gerrr penonton dengan leluconnya yang nyerempet-nyerempet maupun yang jelas-jelas porno. Penonton yang biasanya bubaran setelah goro-goro, dibuat bertahan sampai pentas berakhir dengan jurus-jurus yang ‘menjurus’ itu.

Alkisah, Raja Dewasrani jatuh cinta pada Dewi Dresanala. Dinyatakanlah kepada para kerabatnya, niat untuk melamar sang dewi pujaan. Dewasrani mutung, meninggalkan tahta, karena merasa tidak semua kerabatnya mendukung. Malah ada yang memberi nasehat agar ia mengurungkan saja niatnya. Pertama, karena Dewi Dresanala adalah anak dewa, yaitu Dewa Brahma. Kedua, ini yang pokok: Dresanala sudah punya suami, yaitu Janaka.

Aneh juga, jika para kerabat Dewasrani tampak hormat pada Janaka dalam soal perkawinan atau soal perempuan. Sampai-sampai Dewasrani diminta untuk mengurungkan niatnya. Bukankah Janaka punya banyak perempuan yang telah menjadi istrinya? Apa salahnya, jika satu untuk Dewasrani? Mungkin Janaka tidak keberatan karena masih banyak stok. Rasanya, perlu juga untuk dicek dengan teliti, apakah Janaka pernah tergila-gila pada perempuan yang sudah punya suami lalu merampoknya? Betapa ramainya, jika perampokan perempuan dibalas dengan perampokan juga. Okelah, soal rampok-merampok dalam pewayanganan lebih banyak porsi laki-laki. Namun, bagaimana dengan perempuan Dewi Dresanala yang memang cinta mati dengan Sang Arjuna, Laki-laki Dunia? Inilah masalahnya: Dresanala tidak mau menikah dengan Dewasrani, meskipun punya kemungkinan lebih! Lebih kaya, lebih jantan dan lebih sakti. Jika sudah begini mau apa lagi. ‘Talenta’ yang dipunyai Janaka memang mengundang iri bagi sesama lelaki.

Para setiawan mengikuti Dewasrani yang mencari Dewi Dresanala. Di tengah jalan ketemu barisan Pandhawa. Bala Dewa, Kresna, serta Werkudara dan anak-anaknya. Hancurlah barisan Dewasrani, jadi bulan-bulanan pasukan Pandhawa yang sedang mencari Janaka, karena hilang dari peredaran.

Di kediaman Dewa Brahma, Janaka dipermalukan oleh mertuanya. Sang Dewa Brahma merendahkan Janaka yang dipandangnya tidak mampu membahagiakan istrinya, Dewi Dresanala. Makanan, pakaian, rumah yang dikonsumsi Janaka adalah makanan manusia, yang sama sekali berbeda derajatnya dengan apa yang dibutuhkan para dewa-dewi. Janaka diusir. Dewasrani menjumpai Dresanala. Dresanala menolaknya. Dresanala yang sedang hamil tua tidak lama kemudian melairkan. Si jabang bayi hendak dibunuh oleh Dewa Brahma dengan dicemplungkan ke kawah Candradimuka.  Ternyata, di kawah itu malah si anak jadi memiliki inti kekuatan api. Batara Narada yang sedang kena sangsi tidak boleh ngantor di kahyangan, menolong Dresanala dan anaknya. Dresanala mencari Janaka. Anaknya dipelihara oleh Narada dan diberi nama Wisanggeni, yang berarti ‘bisanya api’. Setelah besar Wisanggeni mencari bapaknya.

Maka Janaka dicari oleh tiga pihak. Yaitu oleh Pandhawa, Dresanala dan Wisanggeni. Kebolehan Ki Dalang M Brahim ditunjukkan dengan kepiawaiannya memainkan sabetan dengan sangat cepat dan tak terduga dalam adegan peperangan. Baik perang antara Barisan Pandhawa dengan barisan Dewasrani, maupun Janaka dengan cakil dan teman-temannya (gara-gara). Aplaus penonton tidak hanya sekali dua terdengar. Bahkan ketika menjelang pagi, lelucon-leluconnya mampu mengusir kantuk. Adegan Wisanggeni mencari bapaknya juga menjadi bahan humor yang mestinya bisa jadi adegan menghiba-hiba. (Manteb Sudarsono sering membuat penonton teriris-iris hatinya dengan adegan yang semacam ini.)

Akhirnya, Janaka, para Pandhawa, Dresanala dan Wisanggeni bertemu pada jam dua pagi lebih sedikit.

Pentas berakhir.

One thought on “Wisanggeni Lair

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s