RISMA PERMAK

Sebenarnya tidak sulit untuk menemukan kios jahit Risma. Karena berada di jalan Delik Sari, tepatnya RT 06 RW 10. Sepotong jalan kecil yang cukup ramai. Bangunan mirip pos kamling bertengger di sayap jalan, di depan rumah orang tua Solichin. Terdapat jalan kampung di bawah kios jahit, tempat lalu lalang para tetangga.

Solichin dan Susi
Solichin dan Susi

Kios jahit ini telah buka 07.30. Tutup jam 17.00. Setelah itu, bisa ditemui di rumahnya, Banteng Raya RT 3 RW 3.

Risma Permak digawangi oleh M.Solichin bersama Susianti, sang istri. Menerima perbaikan celana dan berbagai pakaian. Nampaknya, cukup banyak pelanggan yang memanfaatkan jasa permak di sini, jika melihat tumpukan celana dan baju yang ada. Namanya juga Risma Permak, tentulah bidang utamanya permak, bukan membuat celana. Sekalipun bisa dan telah teruji mampu membuat celana, Solichin lebih menyukai permak.Karena menjahit harus dikerjakan secara terus menerus, berkesinambungan. Memerlukan energi dan konsentrasi yang lebih besar daripada permak.Solichin dan Susi dikaruniai putra-putri:Melani Kusuma Ningrum, Karisma Nurfianti dan Muhamad Roshan. Nama Risma Permak berasal dari nama salah satu anaknya, yang meninggal karena sakit tidak lama setelah dilahirkan. Jadi usaha jahit yang dijalankan adalah sebuah pengabadian pada anaknya, yang dihayati melalui kerja.

Melalui permak ini, jika dirataratakan sebulan paling tidak 2,5 sampai 3 juta.Bisa kurang, namun sering lebih. Tidak heran jika sekarang, Solichin telah punya rumah sendiri, tidak ngontrak lagi. Tentu saja, dapurnya sekarang lebih terjamin menanak nasi, dengan lauk yang lebih komplit tentunya. Bisa bayar listrik tidak nunggak. Bisa ikut macem-macem arisan. Juga bisa sedikit membantu orang tua.

Dulu, Solichin adalah tenaga penjaga keamanan gereja kami. Dengan upah sekitar 300 ribu rupiah sebulan. Sementara Solichin bekerja di gereja, istrinya belajar dan magang njahit di kios yang nempel gereja. Lama-lama Solichin melihat bahwa ada peluang untuk hidup dari menjahit. Sambil tetap jaga gereja secara bergilir, waktu luangnya digunakan untuk belajar njahit.

Jika mengingat masa itu, sungguh diperlukan keberanian untuk mengambil keputusan: terus jaga gereja atau menekuni njahit yang masih asing baginya. Sekarang, ia telah sedikit-sedikit merasakan buahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s