Tabik, Sopir Angkot!

Pagi ini mau ke Jogya.

Setelah semalam mempertimbangkan, mau naik motor atau naik bis, akhirnya diputuskan: naik bis saja. Pertimbangannya supaya tidak terlalu lelah. Jujur saja, sebenarnya ingin naik motor, supaya bisa jalan-jalan menyusuri gang-gang Jogja. Namun harus jujur juga, ketika mau kembali ke Semarang rasanya sangat malas. Energi serasa habis. Bisa-bisa tidak sampai Semarang.

Beberapa kali pernah mengalami kelelahan ketika pulang ke Semarang. Dua kali berhenti, untuk mengatupkan mata. Tentu saja di emperan toko, bukan di hotel. Ketimbang jatuh atau tabrakan sambil tidur, lebih baik tidur sebentar sambil ngiler!

Nah, menuju halte Java mall aku naik angkot. Ada yang aneh dengan sopir angkot ini. Dengan mata, gelengan kepala dan bahasa tubuhnya mempersilakan aku masuk. Tidak tergesa-gesa kejar setoran, angkot berjalan dengan halus. Tidak berteriak teriak ia menawarkan angkot kepada orang-orang yang berdiri di pinggir jalan. Ia juga sangat menikmati pekerjaannya. Tanpa tekanan hidup, kegembiraan yang lembut terpancar dari wajahnya.

Dari tempat duduk dibelakang, nampak rambutnya tumbuh tidak beraturan menyentuh kaos oblongnya, dan agak botak. Seperti seniman yang masih menghidupi kredo: kesemrawutan demi seni yang membebaskan. Hanya saja, seniman atau bukan, sopir yang tidak ku kenal namanya ini telah membawa penumpangnya menikmati perjalanan yang menyenangkan dan membebaskan. Meski sekejap.

Tidak jarang bahkan hampir selalu, naik angkot menjadi perjalanan sangat panjang lebih dari senyatanya. Bukan saja soal  kebiasaan ngetemnya yang sungguh menguji kesabaran penumpang, juga cara mengemudikan yang ugal-ugalan dan sembarangan, keinginan cepat sampai tujuan menjadi waktu yang mulur sedemikian panjang yang mesti diisi dengan doa-doa mohon keselamatan pada Tuhan.

Tapi tidak untuk kali ini. Bahkan, belum sempat berdoa, sudah sampai tujuan. Halte Java mall sudah di seberang jalan. Seribu rupiah tidak sayang kubayarkan untuk pengalaman naik angkot yang menyenangkan.

Entah kenapa, aku tidak jengkel pada sopir angkot. Padahal, biasanya lihat saja sudah malas, karena terkenal ‘sak penake dhewe’, berhenti di tengah atau di pinggir jalan tidak ambil pusing. Seperti tanpa sadar, pagi ini tidak sempat memikirkan kebiasaan jelek sopir angkot. Malah, dibawa berkat untuk menemui kenikmatan kebebasan ala sopir angkot.

Bus Ramayana Patas membawaku ke Yogya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s