Tirakatan 16 Agustus 2010

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00WIB. Orang-orang sudah berkumpul, duduk lesehan di tengah jalan beralaskan karpet. Snack dalam kardus putih kecil sudah dibagikan. Nampaknya sudah tidak ada yang ditunggu lagi. Maka acara pun dimulai.

Mba Menik yang ditugaskan menjadi pembawa acara, menyapa hadirin dan menjelaskan acaranya. Pertama-tama adalah doa oleh Pak Honggo. Kedua, menyanyikan Indonesia Raya dan mengheningkan cipta. Ketiga sambutan Pak RT dan keempat potong tumpeng dan ramah tamah. Kelima acara spontanitas. Dengan gayanya, Mba Menik mempersilakan bagi Ibu-ibu yang sudah sepuh untuk pulang duluan jika tidak kuat lagi, tapi dengan syarat kalau acara sudah selesai. Wah, ya sama saja tidak memberi prioritas…!

Menarik, Pak Honggo yang lama tidak terlihat berkumpul dengan warga RT ditunjuk menjadi pendoa. Dulu, Pak Topo yang sering ditunjuk. Pak Topo adalah ayah dari Pak Honggo. Mungkin Pak RT dan panitia ingin memberi kesempatan bahwa dari keluarga besar ini harus melanjutkan tradisi menjadi pendoa di lingkungan sini. Gaya bapak-anak berbeda. Jika Pak Topo berdoa di luar kepala, enak saja ngobrol sama Tuhan pake bahasa Arab dan lancar, tidak demikian dengan Pak Honggo.  Pak Honggo kelihatan sangat  terpelajar dengan selembar kertas berisi teks doa, seperti mahasiswa-mahasiswa ketika berargumentasi dengan membawa catatan ringkas berisi data-data. Tapi, kepada Tuhan ‘kan tidak mungkin beradu adu fakta.

Lagu Indonesia Raya dan lagu mengheningkan cipta dinyanyikan dengan berdiri, dipimpin seorang ibu yang menjadi dirigen. Karena lupa tidak membunyikan garpu tala untuk mengambil nada dasar, suara yang diambil ternyata terlalu rendah, sehingga nggereng-nggereng. Tak apalah, Indonesia Raya tetap meluncur. Entah kenapa, jika menyanyikan Indonesia Raya tiba-tiba muncul sentimentilnya, ada rasa haru yang menyeruak di dada. Fals atau blero nggak mempengaruhi keharuan ini. Entah kenapa, lalu Ibu dirijen ini berubah dalam imajinasi saya menjadi Adi MS ketika mimpin orkestra. Mungkin, karena lagu ini sarat makna penuh keagungan (tapi tetap tidak ada hubungannya antara ibu dirijen kami dengan Adi MS).

Pak RT tidak suka basa-basi. Tidak suka berpanjang kata dalam sambutannya. Maka singkat saja ia memberi sambutan lalu ramah tamah. Ada dua tumpeng. Satu tumpeng dipotong Pak RT dan diberikan pada pemudi remaja. Sedangkan satunya dipotong oleh mantan Bu RT (Sepuh) dan diberikan oleh BU RT terkini kepada salah satu nenek yang sudah sulit menyelonjorkan kakinya. Kedua-dua tumpeng bersayur gudangan. Lauknya ayam gorng, ikan asin, rempeyek, kerupuk, tidak ketinggalan tahu-tempe. Bukan karena tidak doyan sehingga nasi tumpeng tersisa, harap dimaklumi bahwa mereka baru saja berbuka di rumah masing-masing.

Setelah kenyang, tibalah saat untuk spontanitas. Keluarga Mu’taqim mendonorkan hadiah-hadiah malam ini untuk memeriahkan suasana di tambah dua dari Mba Menik sendiri. Namun, para peserta tidak bangkit antusiasnya untuk mendapatkan hadiah. Mungkin kekenyangan. Sehingga pembawa acara kehabisan trik untuk memaksa hadirin terlibat memeriahkan acara. Akhirnya, main tunjuk saja. Ada yang mau. Tentu saja ada yang tidak karena tampil dalam acara semacam ini memang harus siap malu. Karena mau hujan, akhirnya hadiah dihabiskan dengan acara menjawab pertanyaan secara berebutan. Dan, peminatnya banyak. Yah, akhirnya memang ketahuan: lebih suka rebutan di akhir acara daripada tertib tampil satu per satu sejak awal.

Kali ini, acara diadakan lesehan, tidak duduk di kursi. Pak RT menjelaskan, bahwa setelah taraweh panitia tidak cukup waktu untuk mempersiapkannya. Juga untuk menghemat tenaga, tidak perlu membereskan banyak perkakas setelah acara berlangsung. Itulah sebabnya, malam ini kami makan pakai tangan, karena tidak tersedia sendok. Jika pakai sendok tentu harus pinjam dulu dan harus ada yang mencucinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s