Rapot Anakku

Dama Pulang Sekolah

Pagi ini Dama tidak bangun pagi. Tidak sekolah. Tidak mandi. Tidak gosok gigi. Begitu bangun nyusul ayahnya, nonton spongebob di tivi.

Ibunya mandi. Acaranya mau ambil rapot Dama. Selesai berdandan dan mau pamitan, Dama nangis tidak mau ditinggal.

“Mari, Nak dengerin lagu baru, Djogdja Istimewa karya Muhamad Marzuki di laptop ayah!” Dama ikut nyanyi, “Jogja, Jogja memang istimewa, istimewa negrinya, istimewa orangnya…” Ini lagu memang istimewa. Anak yang nangis jadi ketawa.

Istriku pulang, bawa sebuah tas biru berisi 3 map besar. Satu map isinya oretan-oretan maha karya Dama. Satu map berisi nilai-nilai berupa gambar matahari, bintang, bulan dan hati. Kelihatan dari lembar-lembar kerja di sini bahwa anakku hebat. Sehebat orang tuanya, tentu. Mungkin lebih, he he…  Terus map yang ke-3 rapot bahasa Inggris Dama. Ini ngga begitu penting. Karena bahasa Inggris dan celotehan anakku toh sama-sama ngga jelas. Meskipun bahasa Inggris penting juga. Tak mengapalah, ngomong pakai bahasa Indonesiapun belum becus.

Bagiku rapot adalah tafsir atau komentar Bu Guru atas karya dan kelakuan anakku. Jadi ini penting. Memang, aku bayari sekolah anakku, supaya ada tafsir dari sudut pandang berbeda ketimbang orangtuanya. (Maksudnya?!)

Rapotnya

Nilai terendah, 65 (skala Likert) ada pada pelajaran menggambar dan mewarnai. Ini memang sulit untuk Dama. Kalau nggambar diusuk-usuk melebar-menyempit, ekpresif banget. Tidak rapih dan berlubang di mana-mana. Kalau aku yang menilai kuberi 95, karena dia mungkin mengikuti gaya Affandi  ketika nggambar jago tarung. Maklumlah baru 3 tahun ngerti apalah dia tentang gambar dan warna. Aku pun yang setua ini baru sebatas bisa memaknai betapa berharga gambar dan warna pada lembaran-lembaran rupiah…

Ada lembar perintah dari Bu Guru: menggambar binatang. Gambarnya sama sekali bukan bintang. Hanya coretan-coretan berbentuk garis dan kurva warna biru dan coklat. Di bawahnya ada tulisan Bu Guru: “gambar Pak Kayung (Karung) di jalan. Sukanya duduk di rumput. Sambil menunggu uang. Trus bu Vera ngasih uang.” He..he..anakku nggambar sambil cerita kepada Bu Guru, terus Bu Guru mencatat ceritanya. Tapi ngga ada binatangnya. Ngga ada nilainya.

Lembar karya lainnya. Gambar kotak warna coklat. Di dalamnya ada oret-oretan orang-orangan (?). Bu Guru memberi teks: Gambar mobil Dama. mobilnya mau ke Solo tempatnya Bu Dhe Tias”. He..he..Dama ngga punya mobil. Orang tuanya juga tidak. Imajinasinya boleh juga…

Jadi, Dama suka bercerita. Dan memang nilai-nilai tertinggi dicapai pada bidang bahasa. Pemahaman kata dan kalimat=8,5. Berkomunikasi lisan=8,3. Greeting (bahasa Inggris, 8,5). Wuehhh…ternyata, bicaranya yang cadel malah mendapat nilai yang tinggi dari gurunya daripada saya.

Nilai rata-rata, dari kemampuan moral, kompetensi sosial, bahasa, kognitif, motorik, seni, komputer dan bahasa Inggris, semuanya B, 70-79.

Ngga tau dah mau jadi apa besok. Karena bakatnya bahasa, mungkin jadi penerjemah, presenter, penceramah, guru, penyair, atau apalah.

Tapi, Dama sendiri, yakin kalau ditanya mau jadi apa, dia akan menjawab, “Mau jadi (petugas) pemadam kebakaran”. Kenapa? “Karena pemadam itu baik, suka menolong orang!” (Nah, lho!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s