Mall Adalah Rumah Kita

“Mari beribadah, bermain, belajar memasak dan belanja di sini!”

Wauuw…inilah Paragon Mall.

Pagi ini Dama lomba lasy di sini. Dan ini adalah kali pertama, kami menginjakkan kaki di Paragon Mall sejak  dibuka 22 April 2010 yang lalu. Posisi bangunan yang strategis di jalan Pemuda 118, sehingga memudahkan menjaring tamu dari bagian barat kota. Nampaknya, mall ini akan menjadi yang paling bergengsi dalam menawarkan gaya hidup hidup modern, canggih, minimalis dan futuristik setelah Java Mall, DP Mall, Citra Land dan Matahari Mall, meskipun masih terus dibenahi. Para pekerja masih mengecat dan membenahi lantai-lantai atas.

Kami harus daftar ulang. Mestinya jam 10.00 dimulai. Namun diundur sampai jam 10.45 baru dimulai, karena ada acara Natal yang melibatkan gereja terkondang di kota ini. Bising luar biasa karena mengusung soundsystem dan tata lampu ribuan watt, sampai telinga pekak. Ibadah yang semestinya menyentuh hati dan membawa damai secara spiritual, menjadi pagelaran yang meriah dan wah.

Barangkali, beginilah gaya ibadah yang dimaui oleh masyarakat perkotaan; serba gempita, menghibur, warna-warni kostumnya, mengerahkan puluhan bahkan ratusan pendukung acara, dari usia balita, remaja hingga pemuda. Beruntunglah pada masa itu,Yesus lahir di kandang domba yang sepi sederhana, bukan di Kerajaan Herodes yang hingar bingar sehingga proses persalinan Bunda Maria berjalan lancar. Dalam konteks kekinian, tidak salah dong merayakan natal, kelahiran Yesus di mall? Benar, tidak keliru. Karena Allah juga ingin hadir dan menyapa umatNya dalam segala jaman dan semua situasi. Termasuk di mall. Hanya saja menjadi salah dan keliru, jika kelahiran Yesus yang menawarkan kedalamam hidup, hanya sekedar menjadi gaya hidup yang dangkal dan sekedar kosmetik yang gebyar khas modernisme. Nah, disinilah persoalan spiritualitas keagamaan dimulai. Dan tepat di mall ini kita melihat kuasa kapitalisme unjuk gigi. Tentu saja yang ’sukses’ adalah mereka yang berhasil mengawinkan spiritualitas, kapitalisme dan entertainment dengan segala tips dan triknya.

Sekitar pukul 11.00, lomba lasy dimulai. Panitia lomba lasy minta maaf atas keterlambatannya. Katanya, biasanya tidak begini. OK. Dengan kata lain, perayaan Natal yang mestinya mengusung sesuatu yang sakral dianggap sebagai rival oleh Panitia lomba dalam pemanfaatan ruang dan waktu di mall ini. Gila benerrr fenomena ini, sebuah pertarungan terbuka antara yang ‘sakral dan profan’. Nyanyian dan tarian Seribu Lilin belum lagi usai. Jemaat dan penonton (yang sulit dibedakan keduanya) masih duduk di kursi. Namun, pemandu acara sudah meminta mereka untuk menggeser posisinya karena hall akan digunakan lomba. Segera saja, kursi dibongkar dan dibangun pembatas untuk arena lomba. Anak-anak kecil yang tangannya memegang lilin segera bubar bersama dengan orangtua masing-masing dari gereja pendukung acara natal ini. Dalam tempo sesingkat-singkatnya arena lomba lasy telah digelar, menggunakan pembatas tali merah. Anakku Dama menjadi salah satu peserta lomba didalamnya.

(Aku tidak tahu apakah Dama tahu ia sedang lomba, karena aku tidak memberi tahu apa arti lomba dan apa yang harus dilakukan. Ini tidak penting saat ini! Lomba akan berakhir. Dama telah mengubah, mbongkar-pasang untuk kesekian kalinya struktur lasynya. Nampaknya, ia ingin sekali mencipta bentuk-bentuk baru, di luar yang telah diajarkan instrukturnya. Bermainlah dan berkreasilah, jangan pedulikan jika ini lomba!)

Pemandu acara meminta cuci tangan. Dama kaget, karena perintah cuci tangan biasa disampaikan gurunya untuk mengakhiri kegiatan di sekolahnya. Ternyata pemandu acara meminta cuci tangan bagi mereka yang akan mengikuti acara masak-memasak bersama seorang cheff ternama di atas panggung, segera setelah lomba lasy selesai. Jadi bukan ditujukan bagi peserta lomba.

Sekali lagi diperlihatkan semangat yang menghidupi kredo efektif, efisien, hemat dan cermat dan mengabaikan perasaan kemanusiaan. Betapa pemanfaatan ruang dan waktu di mall ini nampaknya dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh pemandu acara pagi ini. Sehingga ritme acara terasa tumpang tindih dan tergesa-gesa. Memang, antara acara natal, lomba lasy dan masak-memasak tidak ada kaitan satu dengan yang lain. Pemandu acara berfungsi sebagai tukang jahit potongan-potongan mozaik yang memaksa kapan dimulai dan kapan berakhir, tanpa peduli cocok, selaras, indah atau tidak acara-acara yang disambung-sambungnya.

Selamat datang di Paragon Mall. Inilah mall, rumah kita. Tempat kita beribadah, bermain, belajar memasak dan belanja bersama. Untuk semua itu ada ongkosnya, dan bayar masing-masing. Di sini menjadi sangat kental terasa, bahwa uang nomor dua. Sedangkan nomor satu tidak ada.

Yuk, mari!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s