Persekutuan Doa I di Tahun 2011 (Keluarga Besar Bu Tutik)

Minggu malam ini hujan. Cuaca jadi sejuk. Setelah kebaktian sore acara dilanjutkan dengan persekutuan doa (PD). Dan ini adalah PD yang pertama di tahun 2011. Bu Tutik Blok D syukuran, cucunya yang ada di Manado telah lahir. Bu Badrun (orang sini nyebutnya begitu, atau Bu Tutik ingin berdoa dan bersuka cita bersama.

O, ya nama cucunya Natalia Kalista Ardiani Laluan. Natalia, lahir bulan Desember, tanggal 18. Kalista nggak tahu artinya. Katanya cantik. Ardiani, mesti singkatan Ariel dan Dian, ayah-ibunya. Laluan nama keluarga besar pihak laki-laki. Nama yang trendi.

Sebenarnya, undangan dari pihak keluarga jam 18.30 WIB. Karena hujan, maka baru dimulai sekitar jam 19.15. Kalau soal alasan saya bisa tambah-tambahkan dengan lebih terinci. Pertama, bubaran kebaktian saja baru jam 18.15. Terus pulang ke rumah.  Cari tempat foto kopi untuk kidungan nanti. Ternyata hari minggu dan sudah malam tidak mudah cari tempat foto kopi. Baru ketemu jam 19.00 kurang 10 menit. Nah, kelihatannya jadi wajar jika terlambat dan dimulai telat, jam 18.30 tepat lebih satu jam. Apakah sudah kelihatan wajar dan mengharukan?

Keluarga sudah berkumpul. Anak-anak, putra mantu, saudara-saudara  sudah komplit. Ya, memang keluarga Dian-Ariel Laluan ada di Manado beserta Natalia. Jadi, malam ini kami harus berdoa dengan lebih sungguh-sungguh supaya jarak Semarang-Manado tidak jadi halangan. Ceritanya, ini ngirim doa via interlokal. Kami bersyukur, ngirim doa tidak harus bayar pulsa. Semoga mereka yang ada di Manado diberkahi Tuhan dan dapat ikut merasakan yang kami rasakan di tempat ini.

Anggota blok D sendiri ada sekitar 15 orang. Cukup ramai dan meriah.

Sabdanya bertema tentang “gambar.” Ringkasnya, dalam Matius 22:15-22 yang berkisah soal boleh tidaknya membayar pajak. Ini bukan soal pajaknya, yang disorot adalah gambar kaisar pada mata uang. Artinya, uang  dengan gambar kaisar adalah milik kaisar. (Maka berikanlah pajak kepada kaisar!)  Dalam Kejadian 1:27, manusia adalah gambar (citra) Allah. Mestinya, manusia memberikan seluruh hidupnya bagi Allah. Seperti apa memberikan hidup penuh totalitas? Lihatlah kisah Janda ‘kaya’ (kata kaya pakai tanda kutip, karena biasanya disebut janda miskin) yang mempersembahakan dua peser dalam peti persembahan. Suatu mata uang terkecil masa itu. Namun Yesus justru menunjuk bahwa janda ini memberi lebih banyak daripada semua orang (berpunya) yang hadir dan berpersembahan. Jawabnya jelas, karena sekalipun yang diberikan jumlahnya kecil, namun karena yang sedikit itu adalah bagian terbesar hidup yang dimilikinya, maka janda miskin ini menjadi teladan bagaimana memberi hidup kepada Tuhan dengan seutuhnya. Nah, jika Allah adalah Pemurah dan telah menghidupi manusia, sewajarnya manusia sebagai gambarNya mesti pemurah dan memberi hidupnya, seperti janda miskin, eh ‘kaya’ ini.

Kisah ini memang radikal, dan memaksa kita untuk meredefinisi dan memahami secara baru apa itu kaya dan apa itu miskin. Kalau boleh di-bombastis-kan neh: Disebut miskin, bukan karena tidak punya harta, melainkan tidak punya hati untuk memberi. Disebut kaya, bukan karena punya banyak harta, melainkan karena ia banyak berderma. Nah, lho! Artinya, (tidak punya banyak atau punya cuma sedikit) tidak ada alasan untuk tidak memberi hidup.

Singkat cerita, setelah kami mengunyah makanan rohani, kami dijamu nyonya rumah dengan makanan mewah dan membuat kami bergairah. Yakni sambel pedas..…Sambel super pedas ini menarik perhatian (Aih, ya tentu saja dengan segala lauk pauknya, ada sate, ayam goreng, opor…dll. Bayangkan…he he). Betapa tidak mewah, sekarang harga cabai rawit saja mencapai 80 sampai 90 ribu perkilo! Silakan beli di warung 2000 rupiah. Paling-paling dikasih 4 buah dan dikaretin…! Bersyukur, makanan pokok kita bukan cabai, tetapi tetap nasi. Di sini sambel yang mahal itu begitu berlimpah. Mau?

Biarlah, yang pedas dan mahal cuma cabai. Kita mesti belajar sebagai gambar Allah yang Pemurah. Mulailah dengan murah senyum, Bu…!

(Dua bulan yang lalu, Pak Badrun meninggal. Keluarga juga menghendaki PD. Dan sekarang, keluarga besar minta diselipin doa untuk mendiang sekalian. Doanya apaan nih…Yap, Tuhan adalah penguasa kehidupan dan kematian. Allahnya orang hidup dan orang mati, tho? Serahkanlah yang lahir dan mati kepada Tuhan! Inggih saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s