Kebaikan dan Kejahatan dalam Agama

Dalam sejarah telah terbukti bahwa banyak kekerasan terjadi atas nama agama. Namun juga tidak dapat dimungkiri bahwa agama juga memberikan banyak kebaikan. Itulah sebabnya agama mencerminkan dua wajahnya sekaligus secara fenomenologis: sebagai sumber kebaikan dan kejahatan. Contoh agama sebagai sumber kekerasan atau kejahatan yang terkenal  adalah Perang Salib, yang telah merenggut ribuan nyawa dari pihak Muslim maupun Kristen atas nama Tuhan dan ayat-ayat suci. Atau, contoh yang up to date, adalah tindakan kekerasan kepada sekelompok agama malah atas nama penodaan agama dan orang rela bunuh diri untuk menjadi ‘pengantin’ bom bunuh diri. Namun, juga tak terhitung jumlahnya, demi agama banyak orang rela menjadi martir atau mati sahid untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. Ibu Theresa di Kalkuta India salah satu contohnya. Atau, Mas Trimo yang Muslim bekerja dengan begitu tekun sebagi cleaning service selama puluhan tahun di lingkungan Kristen. Intinya, agama dapat menggerakkan orang untuk berbuat jahat atau berbuat baik. Dahsyat bukan daya ledak yang tersembunyi dalam agama?

Para penganut agama sering mengibarkan ‘truth claim’, bahwa agamanyalah yang paling benar. Sebenarnya tidak masalah, jika tidak ditambahkan: …dan agama yang lain adalah salah, kliru, luput! Mengapa? Karena kebenaran agama sebenarnya masih abstrak dan baru menjadi konkret jika penganutnya mewujudnyatakannya dalam tindakan keseharian. Menjadi lucu bin ajaib, jika saya mengatakan bahwa agama saya adalah paling benar tetapi saya sebagai penganutnya menegakkan klaim itu sambil membakar toko, yang jelas-jelas melanggar aturan! Atau saya menyatakan bahwa agama sayalah yang paling dipenuhi kasih Allah, tetapi saya malah menebarkan fanatisme dan kebencian atas nama Allah.

Berkaitan dengan agama lain, biasanya terdapat 3 tipologi atau kategorisasi, yaitu eksklusif, inklusif dan pluralis. Namun, boleh dong jika kali ini ditambah satu, jadi ada 4:

1. Eksklusifis

Pandangan ini menyatakan bahwa agamanya sendirilah yang paling benar. Ini sebenarnya malah bagus bagi keimanan pribadi. Sebab, tidak mungkin saya mengatakan bahwa agama lain adalah paling benar. Jika demikian maka iman saya sebenarnya ada pada agama lain itu. Persoalan baru dimulai ketika dikatakan dengan silogisme berikut ini: Karena agama saya paling benar maka agama lain pasti salah. Logika kalimat ini kelihatannya tak bermasalah. Justru maslah baru saja dikibarkan. Masalahnya: Beriman bukan hanya soal logika, iman juga menyangkut emosi. Apakah tidak akan emosi, jika dikatakan bahwa agama saya pasti salah oleh orang lain? Biasanya, dialog yang sejati  tidak akan berjalan jika modelnya begini. Oleh karena itu paling banter kita hanya bisa mengatakan: Agama saya paling benar, DAN saya melihat pada agama lain pada beberapa hal TIDAK SAYA SETUJUI. Ada kata DAN di sana yang menunjukkan bahwa antara agama saya dan agama orang lain, tidak selalu harus merupakan hubungan sebab akibat melulu yang bersifat kontradiktif dan selalu konflik. Serta frase TIDAK SAYA SETUJUI mengingatkan bahwa ada pengakuan jujur secara subyektif dari pribadi saya, yang memungkinkan bagi orang lain untuk menanggapinya secara berbeda: mungkin saja bagi orang lain justru yang terbaik. Demikian pula sebaliknya.

2. Inklusifis

Ini adalah pemahaman bahwa Tuhan yang menyelamatkan saya juga akan menyelamatkan orang lain. Barangkali ini bisa ditafsirkan dari dua arah: Pertama, ini berarti Tuhan yang saya sembah melalui agama saya, bukan hanya menyelamatkan saya melainkan juga menyelamatkan oran lain meskipun mereka berbeda agama dari saya. Ini karena Tuhan yang saya sembah itu sungguh-sungguh ‘super’. Kedua, agama lain itu baik-baik saja, tetapi perannya ‘hanya; sebagai pengarah yang menuju pada Tuhan yang saya sembah melalui agama saya. Agama lain diakui keberadaannya, namun agama sayalah yang menyempurnakannya. Orang yang inklusifis berarti telah membuka diri bahwa Tuhan yang disembahnya juga bukan hanya ‘miliknya’ sendiri, tetapi juga ‘diperbolehkan dimiliki’ oleh orang lain.

3. Pluralis

Pusat dari semua agama adalah yang illahi. Semua agama setara, sebagai jalan menuju Tuhan menurut caranya masing-masing. Sering kita menjadi tergoda atau tersentil jika dikatakan: semua agama sama. Maksudnya dari kategori pluralis dengan kata sama adalah sama-sama menuju Allah. Jika kita masih tidak terima berarti masalahnya ada pada kita, yaitu kita ada di tahap eksklusif atau inklusif. Pada bagian pluralis ini tidak ada agama yang lebih unggul atau diakui sebagai setara karena sama-sama menuju Realitas Absolut atau Tuhan. Ini penting untuk menyadarkan kita bahwa agama selalu terarah pada Realitas Abslut atau Tuhan. Adakah yang tidak? Itulah intinya. Namun, pluralis juga mengesankan bahwa dengan menyatakan bahwa semua agama sama atau setara berarti telah membuat ‘agama’ tersendiri dalam pengertian tertentu. Bahkan, seorang pluralis yang begitu getol memaksakan pendapatnya, malah bisa terjatuh untuk disebut sebagai pluralis-eksklusif.

4. Perspectivalist (post liberalis)

Dalam perspectivalist agama tidak dipandang sebagai obyek lagi, namun disadari sebagai pembentuk cara pandang yang membantu memahami dunia dan memberinya makna. Hindu, Buddha dan sebagainya, dirasakan sungguh membantu karena menolong umatnya untuk melihat dunia yang bermakna ini. Seseorang menjadi baik karena cara pandang yang dianut melalui agamanya. Demikian pula sebaliknya, jika jahat itu disebabkan cara pandang yang dianut melalui agamanya juga. Pada bagian keempat ini kita jadi tahu, bahwa agama sebagai sumber kebaikan atau kejahatan disebabkan karena cara pandang yang tersedia oleh suatu hubungan antara aku dan agamaku.

Maka, sekarang kita bisa melihat dengan lebih jelas, sebenarnya kita ada di posisi mana: Pertama, kedua, ketiga, atau keempat. Boleh juga double, yang pertama dengan yang keempat, misalnya. Triple juga bisa. Bahkan menyatakan diri bahwa saya dalam diriku ini terdapat keempatempatnya juga boleh. Mengapa? Karena ini kan ‘hanya tipologi kategorisasi’, yang bermanfaat untuk memudahkan (karena manusia sebenar-benarnya sulit untuk dipetakan). Asal aku memang begitu, benar dan sadar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s