Latar Belakang dan Sekilas Sekularisasi

Agama tergeser dari ruang publik dan juga ruang privat, digantikan oleh rasionalitas. Karena rasionalitas pada abad 18 ini menyebabkan manusia semakin luas memahami dunia. Dulu, manusia mengisi banyak ruang yang tidak dimengertinya dengan Tuhan, jin, tahayul, magis, dan roh nenek moyang. Tuhan adalah penolong sekaligus penambal lubang ketidaktahuan. Maka ketika rasionalitas makin hari makin canggih dan banyak penemuan, makin Tuhan tersingkir. Di Barat, makin lama ruang bagi ilmu pengetahuan makin besar, dan makin sempit ruang untuk Tuhan. Agama menjadi sesuatu yang sangat-sangat privat. Agama yang dulu telah diceraikan dari politik, sekarang terdesak ke ruang-ruang sempit. Inilah latar belakang teori sekularisasi.

Ini sedikit cerita. Dulu, pernah ada bantuan Belanda untuk program pembangunan jemaat Indonesia. Ternyata orang-orang Belanda yang datang punya kaca mata bawaan yaitu kaca matasekularisasi. Mereka memandang bahwa gereja-gereja di Indonesia mulai ditinggalkan warganya. Padahal, di Indonesia agama-agama berkembang, tidak seperti di Belanda banyak yang sudah tutup buku. Jadi tidak semua mengalami sekularisasi, yang mengalami pusatnya hanya terutama di Eropa Barat.

Bahkan Peter Berger pernah meramal bahwa agama akan surut. Sekarang ia bertobat karena ternyata ramalannya meleset.

Di Amerika Latin, Amerika Utara, Amerika Serikat sekarang malah semakin banyak orang beragama, jauh lebih banyak dari 100 tahun lalu. Jadi, agama malah bertumbuh tidak seperti yang terjadi pada abad 18. Di Amerika-sesuai konstitusi- institusi agama tidak boleh berpolitik, terpisah dengan tajam dari ruang publik. Banyak gereja dan ragamnya macam-macam. Ada banyak sekte yang aneh dan gila-gila. Tidak seperti di Eropa Barat, di Amerika tidak ada gereja yang dibiayai negara, yang disebut sebagai gereja independent. Pentakostalisme tumbuh dengan subur. Lalu berkembang, bersaing, tutup dan buka lagi. Konflik di dalam Islam di Amerika juga luar biasa, karena masing-masing bisa mendirikan musola. Banyak orang berkulit hitam menjadi orang Islam lalu gaya hidupnya yang khas, karena ia Amerika_Islam namun tidak mau tunduk pada budaya Arab tempat Islam berasal! Konflik semakin ini justru menyumbangkan perkembangan pluralitas agama di Amerika.

Dalam konstitusi, pemerintah tidak boleh mendukung salah satu agama. Di sekolah tidak boleh berdoa, atau pun saat hening. Intinya semua institusi yang didukung pemerintah harus sekuler, karena pajak dibayar dari berbagai golongan. George W Bush pernah membagikan uang pemerintah pada lembaga sosial keagamaan. Uangnya untuk  aksi sosial tidak boleh untuk penginjilan. Karena institusi gereja lebih dekat dan lebih cepat dalam menyalkurkan bantuan kepada orang yang membutuhkan. Dalam pandangan ekstrem sekuler, jika orang berpolitik tidak boleh berbicara apa-apa tentang agama, namun orang atheis- humanis boleh mengatakan ini itu maka sebenarnya pemerintah dianggap anti agama dan mendukung atheisme! Misalnya soal aborsi. Supreme of Court (Mahkamah Agung?) telah memutuskan bahwa aborsi adalah pilihan pribadi, bukan urusan pemerintah. Bagi Kristen konservatif pemerintah dianggap sebagai pendukung pembunuhan. Kemudian dijawab, bahwa itu dari pandangan agama saja. Hal ini mesti diserahkan kepada perempuan, karena itu adalah bagian dari tubuhnya. Intinya pemerintah tidak punya urusan dengan pandangan moral yang beginian. Pemerintah adalah wasit netral saja. Orang silakan jalani hidup masing-masing asal tidak merugikan/menyakiti orang lain.

Dalam setiap pemilu, masalah moral justru menjadi dagangan politik. Misalnya, George Bush terpilih lagi untuk ke dua kali karena ia anti aborsi, anti homoseksual, anti seks bebas dan menjunjung tinggi nilai-nilai keluarga. Walaupun yang memilih tidak suka pada pikiran Bush tentang tindakan perangnya.

Keterasingan yang diakibatkan oleh perubahan sosial yang sangat cepat saat ini, justru menyebabkan agama berkembang didunia ini. Agama menjadi dasar kehidupan dan identitas politik.

Robert Ballard menjelaskan tentang fenomena menyusut dan berkembangnya agama.
Pertama, first Naivette, adalah pemahaman bahwa agama dapat menjelaskan semua hal. Karena perkembangan teknologi, agama dtinggalkan menjadi orang-orang menjadi atheis. Second naivette: orang-orang beragama kembali namun tidak lagi tidak secara literal atau harafiah. Memandang agama sebagai pengatur hidup, sumber kesenian yang tinggi, mengharukan dan memberi semangat mereka.

Mungkin di Eropa sudah masuk ke second naivette, sebuah tahap tumbuh nya kedewasaan, yang menyebabkan pemahaman bahwa bergereja adalah pilihan. Meskipun ibadah dibuat sangat menarik, jemaat yang datang sedikit. Maka jika negara mengalami krisis keuangan, gereja akan kebingungan karena terpengaruh di mana jemaatnya tidak memberi persembahan. Namun, di Indonesia malah terjadi sebaliknya, justru ibadah di Indonesia tidak menarik, tidak berseni tetapi banyak dihadiri jemaat dan persembahan makin besar justru ketika terdapat kesulitan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s