Belajar Menjadi Teman bagi ODHA

DSC_0362Biasanya bagi mereka yang baru mengetahui bahwa dirinya terinfeksi HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome) akan mengalami kekagetan, ketakutan, penyangkalan, keterasingan, dan keinginan untuk bunuh diri. Bahkan ada yang lebih berbahaya lagi…(nggak usah ditulis ah…). Begitulah yang disampaikan Mas Gama, manager program center dan relawan dari PKBI DIY.

Sebenarnya, pengetahuan yang didapatkan itu sendiri adalah hasil keberanian yang luar biasa. Keberanian inilah tantangan terbesar pertama yang harus dilewati, yang sangat menentukan keselamatan mereka selanjutnya. Masalahnya, biasanya mereka yang datang konsultasi atau berobat telah menunjukkan tingkat lanjut dari AIDS. Sebenarnya, makin awal mereka mengetahui semakin baik. Di sinilah kita semua dapat memainkan peran sebagai teman, sebagai pendamping yang hadir bagi mereka. Agar mereka memiliki keberanian, atau memiliki akses pengetahuan yang dibutuhkan.

HIV/AIDS

Di Jogja saat ini terdapat 1797 kasus, dan penularannya 56% melalui hubungan seksual. Ternyata perempuan atau ibu rumah tangga cukup tinggi terkena ketimbang pekerja seks dan 80 % ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV baru tahu dalam keadaan terlambat.

HIV memang dapat hidup di  air ludah, namun jumlahnya tidak akan cukup untuk menularkan HIV ke orang lain. Sedangkan HIV pada ASI menjadi krusial. Sebagai contoh, bayi di negara berkembang seringkali meninggal karena kekurangan gisi, bukan karena HIV. Dengan demikian, si bayi terpaksa disusui oleh ibu yang terpapar HIV, walaupun air susunya mengandung virus.

Dulu, kampanye penanggulangan HIV/AIDS memang cukup mengerikan, dengan gambar iklan seseorang yang kurus kering, tak terurus. Padahal kenyataannya, sekarang yang terkena HIV/AIDS cukup sehat dan segar seperti orang sehat kebanyakan. Misalnya saja atlet Magic Johnson. Sangat bugar bukan?  Memang akan nampak kurus dan sebagainya jika disertai penyakit yang lain, biasanya telah sampai tahap AIDS.

Prinsip Penularannya adalah PESSE. 1. Positif (ada orang yang terinfeksi), 2. Exit (ada virus yang keluar dari tubuh orang yang terinfeksi HIV), 3. Sufficient (Jumlah Virus yang ada dalam cairan tubuh cukup kualitas dan kuantitas), 4. Survive (Ketahanan virus), 5. Enter (Ada tempat/orang untuk terinfeksi). Maka, pengetahuan untuk mengelola dan menyemangati sangat diperlukan. Baik bagi penderita, keluarga maupun lingkungan masyarakat, agar ODHA tidak ditolak atau didiskriminasikan sedemikian rupa, baik oleh keluarga, masyarakat maupun kebijakan pemerintah dalam bidang akses jaminan kesehatan.

Stigmatisasi sebagai Tantangan dari Lingkungan

Pemberian label yang mengakibatkan ODHA mengalami penderitaan biasanya karena mereka mengalami double stigma, mungkin tripel jika yang terkena misalnya pekerja seks komersial. ODHA dianggap sebagai akibat perilaku yang tak bermoral oleh penderita sendiri. Mereka tidak hidup dengan baik, sehingga layak menanggung kehinaan itu sebagai hukumannya. Sudah bagus jika mereka dibiarkan sendirian, karena tidak jarang mereka diusir, dan ditolak oleh masyarakat atau keluarga. Bahkan hingga pemakamannya pun seringkali tidak diselenggarakan dengan semestinya, karena tidak semua pengurus makam bersedia menerima jenazahnya, atau pemimpin agama enggan untuk memimpin ritual pemakaman. Stigmatisasi sendiri seringkali menjadi beban yang berat, tekanan penderitaan berkali lipat. Jadi kehadiran seorang teman yang sungguh tulus sangat penting untuk mendengarkan ceritanya, tempat curhat akibat pelabelan dan mengingatkan untuk minum obat (pra dan atau ARV) jangan sampai terlambat, dll.

Pijakan Teologis

Dihadapan kematian, setangguh apapun manusia akan mengalami kegentaran. Terlebih bagi mereka yang menderita HIV/AIDS, karena stigma itu begitu menekan mereka, menusuk ke dalam ruang pribadi yang sangat dalam yang mencuat dalam pertanyaan, “Benarkah bahwa aku bukan umat Tuhan? Benarkah sakitku sekarang adalah kemarahanNya akibat dosa-dosaku, seperti yang dikatakan kyai, pastor, pendeta dan kaum alim ulama itu? Sedemikian Pemarahkah Allah itu”

Dalam bayang-bayang kematian, pertanyaan ini sungguh membuat takut dan menghilangkan pengharapan. Harapan yang hilang itu sangat erat terkait dengan bagaimana Allah itu dihayati. Gambaran Allah yang Maha Pemarah membuat mereka terpenjara dalam kepengapan yang gelap. Maka, menyodorkan alternatif gambar Allah merupakan satu langkah kecil ketika menjadi teman bagi ODHA. Gambaran Allah yang Maha Cinta misalnya. Allah mencintai semua umatnya, yang pendek atau yang gemuk. Ia mencinta manusia yang hitam atau yang putih. Lihatlah matahari dan hujan, Allah membuatnya bagi manusia yang baik dan jahat! Jika gambaran Allah yang semacam ini dihayati, maka upaya untuk memperbesar pengharapan akan kehidupan dan melonggarkan tekanan yang mereka rasakan lebih dimungkinkan. Sebab, Allah juga mencintai manusia apa pun keadaannya, termasuk ODHA.

Kehadiran seorang teman bagi ODHA akan menyemai harapan, sehingga mereka dimampukan untuk memaknai hidupnya dengan lebih berharga.

2 thoughts on “Belajar Menjadi Teman bagi ODHA

  1. Memiliki pemahaman yang benar tentang HIV/AIDS adalah salah satu cara mengatasi stigma terhadap ODHA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s