KESAKTIAN/KESAKITAN PANCASILA?

berbeda-beda-sama-rakusHari ini 1 Oktober 2013. Selain tanggal muda, hari ini adalah hari Kesaktian Pancasila. Dulu, kami merayakannya hari Kesaktian Pancasila dengan upacara bendera di halaman sekolah dan nonton film G 30 S/PKI bersama teman-teman sekolah di bioskop. Agar lebih pancasilais sebagai ‘patriot pendukungmu’, dulu kami ada pelajaran PSPB (Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa) yang berujung pada pemujaan individu dan rezim pemerintahannya. Tidak lupa kami juga harus mengikuti penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) di SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Pancasila sebagai dasar negara, juga diharapkan menjadi asas tunggal organisasi kemasyarakatan. Sekarang kami sudah tidak dikenai lagi keharusan dan himbauan ini-itu dalam menyambut hari Kesaktian Pancasila. Termasuk tidak harus ikut upacara bendera. Oh, bahkan kami lupa memasang bendera Merah Putih di depan rumah hari ini! Sekarang, bagaimana Anda merayakan dan memaknainya?

Peringatan hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober  dalam sejarahnya pastilah tidak dapat dipisahkan dengan Gerakan 30 S/PKI.  Coba lihat saja, upacara bendera pada hari Kesaktian Pancasila sebagai upacara resmi yang dipimpin oleh presiden dilakukan di Lubang Buaya. Jika pada tanggal 30 September bendera di pasang setengah tiang, maka pada tanggal 1 Oktober 2013 dipasang satu tiang penuh. Alur logika liturgi yang hendak diciptakan adalah ‘berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.’ Setengah tiang karena sakit dengan penghianatan PKI, penculikan dan pembunuhan para jenderal dan seterusnya. Hanya dalam satu hari, kesakitan itu berubah menjadi kesaktian karena Indonesia tidak jadi dikuasai partai terlarang (PKI), maka bendera berkibar satu tiang penuh. Disebutlah hari-hari ini dengan KESAKTIAN PANCASILA.

Kesaktian Pancasila-dua kata ini-nampaknya sudah tidak sakti lagi.

Kata ‘Pancasila’ merujuk pada dasar negara Indonesia. Negara Indonesia akan berdiri dengan jaya dan tegak jika mendasarkan dirinya pada dogma yang diuraikan dalam 36 (sudah bertambah belum ya?) butir-butir Pancasila. Kata ‘Pancasila’ jika dirangkai dengan Garuda menjadi burung Garuda Pancasila, yaitu  lambang negara yang gagah perkasa. Pancasila di sini juga kata yang mewakili Indonesia, mewakili kita semua.

Kata ‘kesaktian’ pada umumnya akan hidup dan dihidupi oleh masyarakat agraris yang menjunjung tinggi mitologi. Misalnya, orang disebut sakti karena kebal dari peluru atau senjata tajam, karena dapat menyembuhkan segala macam penyakit, karena mampu memberi petunjuk agar hidup dipenuhi keselamatan. Sekarang, kita juga masih menghidupi spirit agraris dan aneka mitologinya, meskipun tidak semuanya, karena perubahan jaman atas nama globalisasi atau lokalisasi dan sebagainya. Yang jelas, ketika polisi ditembaki peluru senapan entah oleh siapa, rakyat makin rentan terhadap penyakit, harga-harga kebutuhan hidup makin mahal sementara harga mobil (katanya makin) murah, tingkah pejabat yang sulit dibedakan dengan polah penjahat, tindakan kekerasan ada di mana-mana dan dilakukan oleh ormas berbau agama, maka Kesaktian Pancasila dipertanyakan: “Mananya, apanya, di mana kesaktiannya?” Barangkali sekarang lebih tepat disebut dengan hari KESAKITAN PANCASILA.

Pada era Reformasi ini logika liturgi yang dibangun pemerintah Orde Baru  tidak abadi, bahkan hari demi hari mulai menuai gugatan. Ada yang mulai mempersoalkan sah tidaknya Supersemar. Ada yang mulai menggugat negara atas pembuangan dan pembasmian ribuan atau jutaan manusia dan tidak pernah diajukan ke meja pengadilan, yang dilakukan secara sistematis dengan melibatkan militer dan lembaga keagamaan waktu itu. Bahkan ada yang menganggap bahwa pada tanggal 30 September 1965 itu adalah kudeta kekuasaan di Indonesia dari Sukarno ke Suharto, dari Orde Lama ke Orde Baru. Nah, sekarang memang masih remang-remang. Namun, saya yakin beberapa tahun ke depan peristiwa yang sarat kontroversi ini  akan lebih jelas.

Harry Rusli pernah menyanyikan dan menggugatnya begini:
Garuda Pancasila, aku lelah mendukungmu
Patriot sudah habis
Tidak bersedia berkorban untukmu
Pancasila dasarnya apa?
Rakyat adil makmurnya kapan?
Pribadi bangsaku tidak maju maju, tidak maju maju, tidak maju maju

Dan yang sekarang sering di-kopi paste adalah Pancasila versi plesetan:
1. Keuangan Yang Maha Kuasa
2. Korupsi yg adil dan merata
3. Persatuan mafia hukum Indonesia
4. Kekuasaan yg dipimpin oleh nafsu kebejatan dalam persekongkolan dan kepura- puraan
5. Kenyamanan Sosial bagi seluruh keluarga pejabat dan Wakil Rakyat
.

Saya yakin, mereka tidak bermaksud menjelekjelekkan atau mencemarkan Pancasila. Mereka  bermaksud menggugah dan menggugat kesadaran kita dan keadaan buruk yang sedang dan terus menerus terjadi ini. Semoga, kita juga tidak menjadi terlalu pesimistis. Toh jelek-jelek begini tetap Indonesia yang layak terus diperjuangkan kesembuhannya. Dan Pancasila sebagai konsensus filosofis bersama tetap dibutuhkan dan perlu diamalkan meskipun sudah tidak ada penataran P4!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s