Yunus Dongkol

Yunus 4:1-11

Yunus di bawah pohon jarak
Yunus dongkol di bawah pohon jarak

Susah melihat orang senang, senang melihat orang susah. Ini ungkapan populer yang menunjukkan bahwa wabah virus dengki sulit dibasmi. Tua-muda, miskin-kaya, laki-laki-perempuan, rakyat-pejabat semua bisa kena. Virus ini juga lintas budaya, tidak peduli warna kulit, bentuk mata dan sanggup menembus batas negara dan agama. Dan akan lebih subur tumbuhnya, jika sudah didahului dengan kebencian dan permusuhan.

Nabi Yunus dongkol. Pertama, ia dongkol karena membawa tugas yang tidak disukainya: mewartakan kesempatan bertobat bagi penduduk Niniwe. Niniwe jahat dan tidak menyembah TUHAN. Hukumnya jelas: yang berdosa dihukum yang baik diberi pahala. Mestinya Niniwe langsung dihukum saja, dan habis perkara. Jadi, Yunus juga tidak repot-repot begini, ke sana kemari untuk melarikan diri. Kenapa harus diberi peringatan untuk bertobat segala?
Tahukah Anda siapa penduduk Niniwe itu? Mereka adalah rakyat Kerajaan Asyur, musuh bebuyutan Israel. Mereka telah mengalahkan dan menghancurkan Israel pada tahun 722 SM.
Kedua, dongkolnya bertambah besar karena nyata-nyata TUHAN tidak hanya berbeda pendapat dengannya, melainkan juga ada hati bagi Niniwe, musuh besarnya itu. Kesenangan Yunus untuk melihat kesusahan Niniwe tertunda gara-gara TUHAN yang Pemurah dan baik hati itu tidak mau menuruti kegusaran hati Yunus. Namun Kitab Yunus ini justru kitab yang menentang klaim bahwa TUHAN hanya mengasihi dan menyelamatkan Israel saja. TUHAN juga mengasihi dan berkehendak menyelamatkan bangsa lain, termasuk orang-orang Niniwe yang nota bene musuh bebuyutan orang Israel. TUHAN itu penuh keagungan. Dan kebesaranNya itu tidak dapat dipenjara oleh fanatisme dan kepicikan jiwa manusia yang mengaku diri paling canggih dan paling soleh.

Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati.” Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?” (Yunus 4:9-11)

Geram, gusar dan marah karena benci, dendam dan permusuhan membuat manusia berseberangan dengan kehendak TUHAN yang penuh cinta. Herannya, manusia tetap ingin memaksa agar TUHAN selalu berpihak pada dirinya saja dan mengajakNya agar bersedia berkomplot memerangi musuh-musuhnya. Coba saja periksa doa-doa kita! Bukankah dalam doa-doa itu, kita sering meringkus TUHAN dan menjadikanNya sebagai pembantu atau alat untuk kejayaan sendiri dan kejatuhan lawan? Jauh lebih baik dan berbahagia jika kita mengganti dan membalik ungkapan di atas menjadi: susah melihat orang susah, senang melihat orang senang. Ada empati dan simpati, bukan dengki dan iri. TUHAN itu kasih penuh bela rasa pada siapa pun tanpa dapat dihalangi oleh apa pun. Baik, kemarin, sekarang dan sepanjang masa. Haleluyah!

“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu (Lukas 6:27)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s