‘R’ TIGA

Untuk Agung dan Gloria

Bacaan: Mazmur 127:1-2

Talitakum

Secara sederhana, pernikahan pada tahap yang paling awal adalah perayaan perjumpaan dengan pasangan. Sering dikatakan: Tulang rusuk telah ditemukan lalu dipatri dengan janji perkawinan. Harapannya, agar tidak terpisahkan dan bahagia selamanya. Bagaikan kisah Putri Cinderela ketemu Pangeran Tampannya. Runtang-runtung rerentengan pindha mimi lan mintuna.

Realitanya, pernikahan memang tidak sesederhana itu. Ada yang sudah berusaha mencari tulang rusuk, blusukan ke sana ke mari dan nggak ketemu-ketemu. Ketemunya hanya alamat palsu. Ada yang sudah merasa nemu, tapi lalu nggak merasa cocok. Karena yang ditemukan adalah tulang rusuk harimau yang dibuktikan dengan cakar-cakaran terus. Ada yang tidak mencari, lalu bertemu karena dicari-carikan. Ada yang tidak mencari dan memang nggak ketemu-temu (kalau ini memang sudah diniatin). Ada yang merindukan pasangannya secantik Putri Salju, meskipun tampangnya pas-pasan. Ada yang merencanakan pernikahannya di Mekah atau Pulau Bali, meskipun tidak lama setelah dilaksanakan berpisah dan ‘bali’ neng omahe dhewe-dhewe. Ada juga yang baru bertunangan lalu terkena kudeta dan konspirasi hati serta labilisasi ekonomi. Ini baru tahap yang paling awal atau babak pertama.

DSC_0261Sambil semakin menyelami babak pertama, babak kedua telah tiba dan harus dijalani. Yaitu, perkenalan antara menantu dan mertua serta kedua keluarga besarnya. Ini juga bukan babak yang selalu mudah untuk dilewati. Banyak mertua yang menganggap menantunya malas, kurang peduli dan kurang cakap bekerja. Demikian juga banyak menantu yang mengatakan jika mertuanya terlalu murah perhatian dan komentar alias cerewet, karena ia memang masih tinggal di kantor PMI, Pondok Mertua Indah.

Hubungan menantu dan mertua pada babak kedua belum selesai, suka nggak suka, cocok nggak cocok, masuklah kita pada babak ketiga. Yaitu babak kehadiran anak. Ini juga bukan babak ringan. Karena dengan kehadiran anak (-anak) orang tua bisa jempalitan, kepala untuk kaki, kaki untuk kepala demi mencukupi kebutuhan keluarga. Banyak anak bukan lagi banyak berkah, melainkan banyak masalah. Sebenarnya, berkah atau masalah itu tergantung kacamatanya. Jika kacamatanya sedang minus, hidup adalah masalah bahkan musibah. Jika sedang plus, hidup adalah berkah dan anugerah. Tinggal kita mau pilih pakai kacamata yang mana, plus atau minus, atau dua-duanya!

‘R’ tiga
Dan sesungguhnya pernikahan dan hidup berkeluarga adalah perjalanan melewati babak-babak kehidupan yang terus berjalan. Kita bisa dibuat babak belur dan babak bundas oleh perkawinan kita sendiri. Oleh karena itu kita perlu ‘tiga R’ atau ‘R tiga’. Ini bukan merek mobil, tetapi R yang pertama adalah romantis. R yang kedua adalah realistis dan ‘r’ yang ketiga adalah reflektifi.

Pertama, romantis. Banyak pasangan merasa kering dalam pernikahan mereka meskipun baru dijalani beberapa tahun. Jika pernikahan kering maka akibatnya adalah sepasang suami istri menjadi terasing satu dengan yang lain. Jika mereka merasa asing satu dengan yang lain, maka akibatnya sangat mudah untuk berselisih dan hari-hari dilalui dengan ‘paduan suara’ yang saling menyalahkan. Ada yang menganggap bahwa romantis itu hanya untuk yang berpacaran. Untuk yang sudah menikah tidak perlu. Ini keliru. Romantis tidak hanya diperlukan pasangan yang baru menikah, bahkan yang puluhan tahun pun perlu romantis. Romantis berfungsi seperti oli yang melumasi dan mendinginkan mesin yang panas karena bekerja terus.

Menghadapi jaman yang semakin keras, persaingan yang semakin sengit seorang suami yang kelelahan baru pulang kantor di sambut istrinya dengan senyum manis, “Ayah baru pulang yah…”. Baru lihat senyumnya saja sudah lumer lelahnya. “Bagaimana kalau kita makan di luar saja? Karena hari ini Ibu tidak masak.” Meskipun lelah dan tidak dimasakin hari ini, karena senyum sang istri yang menawan maka, “OK. Tapi apa nggak boros?” Sang istri menjawab, “Nggak dong Pak. Kan kita bisa masak mi instan dan di makan di teras. Teras kan di luar rumah…”Ah, sang istri yang cerdas, agak pemalas, humoris dan romantis…cie cie…! Romantis dalam pernikahan dan keluarga menjadikan rumah seperti telaga yang menyediakan oase di tengah gurun gersang.

Kedua, realistis. Sebetapapun romantis itu penting, perlu ditambahkan R yang kedua yaitu realistis. Ada benarnya nasehat orang tua, bahwa agar relasi suami-istri tidak dingin perlu dikobarkan dengan cinta. Namun orang yang berumah tangga tidak akan kenyang makan cinta thok! Nah, peribahasa menyatakan bahwa, “Jer romantis mawa bea!” Perlu biaya, uang, dan materi untuk membiayai hidup. Betul bahwa uang bukan segalanya, namun segalanya perlu uang bukan? Artinya, agar kita menghidupi lahir dan batin keluarga kita, kita harus realistis: cinta perlu, tetapi orang hidup tidak bisa makan batu. Jangan pernah merendahkan dan menyepelekan uang, sehingga menganggap bahwa bekerja itu tidak penting atau kurang mulia dibanding berdoa atau beribadah. Tidak!  Tidak mungkin kita menghidupi kredo lebih besar pasak daripada tiang. Tidak perlu gengsi jika memang dompet kurang isi. Hidup yang realistis mengajarkan kepada kita untuk sederhana, tidak mengejar ‘wah’ dan pujian dari orang lain. Hidup yang realistis mengajak kita untuk hidup menapak di bumi, tidak ‘ngayawara’ yang bukan-bukan. Hidup realistis juga mengajak kita untuk mendahulukan kebutuhan yang memang benar-benar penting, bukan kepentingan yang pura-pura dibutuhkan!

Ketiga, reflektif, ini menyangkut aspek rohani. Agar dapat mencukupi kebutuhan lahir dan batin maka kita perlu bekerja. Kita bisa punya kendaraan, rumah, tabungan, investasi, usaha dan sebagainya dengan bekerja. Yang dimaksud refleksi adalah sikap rohani dalam relasi yang erat dengan Tuhan. Sikap iman yang menyatakan bahwa tangan kita adalah kepanjangan tangan Tuhan. Ketika kaki kita bertindak, sebenarnya kepanjangan kaki Tuhan. Maka ketika kita berpikir, terbukalah ruang bagi kehendak Tuhan. Dan ketika merasa, terbukalah hati bagi cinta Tuhan.

Oleh sebab itu pemazmur berkata, “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah—sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur. Apakah dengan demikian kita harus tidak bekerja, dan tidar-tidur saja karena Allah sendiri sudah bekerja bagi kita? Sekali-kali tidak! Justru ini adalah sikap iman yang memberi makna rohani pada yang materi, memberi jiwa ilahi di tengah arena sekularisasi. Setelah kita mengerjakan sebaik-baiknya yang menjadi tugas kita, maka kita serahkan pada Tuhan. Karena kita percaya, ketika kita bekerja Tuhan juga bekerja bersama kita. Artinya, peran manusia bukanlah satu-satunya yang ditonjolkan. Di sini Tuhan memiliki peran. Termasuk Tuhan ada dan berperan dalam pernikahan dan keluarga kita. Sikap iman akan pengakuan pada peran ilahi inilah yang sesungguhnya membedakan (pernikahan) orang bertuhan dengan yang tidak.

Lahir, mati, jodoh dan rejeki ada di tangan Tuhan. Begitu kata sebagian orang. Sebagian lagi mengatakan bahwa lahir di tangan bidan, mati di tangan pralenan, jodoh ditangan hansip dan rejeki masih di tangan atasan. Jika dari lahir lalu sampai mati, jodoh dan rejeki ada di tangan Tuhan atau di tangan siapa pun, lalu apa yang sudah pada kita? Kelihatannya kok tidak ada! Sebenarnya ada, dan kita sering lupa, yaitu tangan. Jika tangan kita rajin bekerja, maka akan menghasilkan kerajinan tangan dan buah tangan. Artinya, jika dikatakan lahir, mati, jodoh dan rejeki ada di tangan Tuhan, itu tidak berarti manusia boleh melipat tangan, lepas tangan dan berpangku tangan. Itu namanya tidak bertanggung jawab. Iman yang bertanggung jawab adalah iman yang menjadikan tangan kita sebagai tangan panjang Tuhan. Dengan demikian kehidupan kita sebagai orang beriman, dari lahir sampai mati, mendapat jodoh dan mencari rejeki adalah hasil jabat tangan terus-menerus antara kita dengan Tuhan. Artinya, tanggung jawab dan kewajiban kita adalah bekerja, bergerak dan bertindak. Sebab berkat-berkat telah disediakan Tuhan bagi mereka yang memiliki ketekunan.

Ingat, sapa sing tekun, mesti tekan. Sapa gelem obah, mesti bakal mamah! Siapa yang tekun akan mencapai tujuan. Siapa mau rajin bekerja, ia akan jauh dari lapar dan dahaga.

Hidup ini terlalu agung untuk diringkus dan diringkas seadanya. Maka kita boleh memuji kebesaran cinta kasihNya, gloria! Kita rayakan hidup pernikahan dalam keluarga. Jangan buang dimensi romantis, tetap realistis dan bukalah dimensi rohani, agar Allah ada dan berkarya bersama kita. Amin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s