Pembentukan BAMAG Semarang

Formatur BAMAG terpilihAcara hari ini menghadiri undangan dari Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) Jawa Tengah. Agenda acaranya ada 2. Pertama, yaitu sosialisasi SKB 2 Menteri atau Peraturan Bersama Menteri (PMB) Agama dan Menteri Dalam Negeri terkait dengan IMB gereja. Kedua, Pembentukan Pengurus BAMAG Semarang.

Semalam ada teman majelis yang bertanya, “Apakah tidak terlambat jika BAMAG baru hendak sosialisasi SKB atau PMB terkait IMB gereja, karena sekarang yang justru sedang hangat adalah diskusi dalam FKUB?” Dalam FKUB inilah jika mengalami kesulitan pendirian gereja dapat didiskusikan. Terhadap pertanyaan teman majelis ini saya hanya menduga bahwa acara ini lebih menekankan pada pembentukan semacam kepengurusan BAMAG di tingkat kota/kabupaten Semarang saja, karena di kota-kota atau propinsi lain telah ada juga BAMAG. Lalu bagaimana dengan PGKS, Persekutuan Gereja-gereja se-Kota Semarang dengan adanya BAMAG Semarang jika terbentuk? OK-lah, karena sidang majelis gereja telah mengutus, maka aku datang ke Hotel Bukit Asri, depan Resto Alam Indah, tempat diselenggarakannya pertemuan.

 *

Ternyata, tempat pertemuan di Hotel Bukit Asri kok jauh dari kesan asri ya…apalagi jika dibanding Resto Alam Indah tentunya. Kesan pertama ini menimbulkan keraguan, kiranya pertemuan apa yang akan diselenggarakan di tempat seperti ini. Tunggu punya tunggu, setelah pukul 10.30 acara baru dimulai dengan minum teh atau kopi dan snack sebuah roti sus. Panitia minta maaf, karena agak kelupaan mempersilakan para tamu untuk nye-snack. Barulah setelah itu, dimulai dengan doa pembuka, lantunan 2 buah lagu pujian dan doa pembukaan lagi.

Penyaji materi secara singkat menerangkan permasalahan di lapangan tentang IMB akibat SKB 2 Menteri atau PBM. Meskipun ditujukan mestinya untuk semua lembaga agama, ternyata dirasakan oleh pihak Kristen SKB/PBM itu kok menyulitkan untuk mendirikan gereja. Dikatakan, “Nanti akan lebih jelas pada seminar di GIA, 29 Oktober akan hadir dan berbicara Martin Hutabarat (Anggota DPR RI, yang katanya terlibat dalam diskusi SKB/PBM di tingkat pusat) dan Hotma Sitompul, pengacara yang sedang terkenal itu.” Katanya belum ada uji materi ke MK tentang hal ini. Kemudian pembicaraan mengarah pada pembentukan ormas, yang dapat memperjuangkan kepentingan gereja. Namun pendirian ormas harus sesuai dengan Peraturan Menteri (Permen) tahun 2012 tentang Pendaftaran Organisasi Massa, salah satu syaratnya, yaitu memiliki kepengurusan dari tingkat pusat, propinsi, kabupaten/kota hingga tingkat kecamatan, ‘separuh berjenjang’. Katanya untuk memenuhi syarat sangat sulit, dan baru Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) yang bisa memenuhi persyaratan ini dan yang telah terdaftar di departemen agama dan departeman dalam negeri. Organisasi Kristen yang lain baru dalam taraf terdaftar di departemen agama saja. Sedangkan Muhammadiyah, sebagai ormas Islam besar di Indonesia sedang mengajukan uji materi tentang ormas ini ke MK, tentu saja karena dianggap bertentangan dengan pasal 28 UUD 45 (Kompas 11/10/13).

Singkatnya, BAMAG telah dibentuk di kota-kota lain, seperti Wonogiri, Pati, Kendal, Temanggung dan sebagainya sejak tahun 2005, namun justru di Semarang sebagai Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah malah belum ada. Maka, jika ingin berdiri sebagai ormas, harus memiliki ranting hingga tingkat kecamatan!

Sekarang arah pembicaraannya lebih jelas terlihat:
Memang inti pertemuan ini bukan diskusi SKB/PBM melainkan hendak membentuk pengurus BAMAG sebagai ormas Kristen di Semarang ini. Jika hendak jelas tentang SKB/PBM hadirlah dalam seminar tanggal 29 Oktober 2013 di GIA! Kira-kira begitu.

Dalam diskusi muncul pertanyaan yang sensitif itu: Bagaimana hubungan BAMAG dengan PGKS? Pertanyaan ini muncul karena banyak utusan gereja yang hadir adalah anggota PGKS juga, bahkan ada mantan pengurusnya. PGKS adalah persekutuan yang telah lama ada di kota Semarang yang beranggotakan gereja-gereja antar denominasi. Pertanyaan ini dijawab bahwa pengurus atau formatur yang akan terbentuk nanti bertugas menyelenggarakan hubungan baik dengan PGKS, bagaimana baiknya aja deh: Apakah PGKS jadi BAMAG, atau BAMAG jadi PGKS, atau jika tidak sehaluan, se-visi dan se-misi ya, berdiri masing-masing…(?)

Sebenarnya, pertanyaan ini muncul karena penyelenggara pertemuan ini tidak menjelaskan hal-hal mendasar organisasi: Apa itu BAMAG, apa misi dan visinya, dan dari mana atau bagaimana sumber dananya? Jika hal ini tidak jelas dari awal, menurut saya, justru akan menyulitkan jalannya organisasi ke depan karena setiap orang punya harapan dan keinginan yang macam-macam dan cukup menghambat jika tidak terkoordinasikan. Misalnya dapat dijelaskan, apa kaitan antara BAMAG dengan Bimas Kristen dari  Kementrian Agama? Karena ada penjelasan yang menyatakan bahwa pemerintah nantinya bersikap melindungi namun tidak mencampuri. Sayang tidak ada penjelasan mengenai BAMAG, baik melalui LCD maupun kertas makalah.

Memang jika melihat situs-situs di internet, nampaknya BAMAG adalah jembatan (yang memudahkan bagi pemerintah) untuk menghubungkan dan mewadahi aneka ragam gereja yang ada. Salah satu situs internet bahkan memuat berita bahwa kegiatan BAMAG bukan hanya gereja-gereja Protestan, melainkan melibatkan gereja Katolik juga. Kira-kira, lalu bagaimana dengan lembaga semacam PGI dan KWI, yang secara politis keagamaan telah memiliki tempat-setidaknya Presiden RI selalu hadir dalam perayaan natal bersama PGI & KWI-apakah tidak bertubrukan tugas dan kewenangannya dengan BAMAG dalam tataran praktis, karena sama seperti PGI dan PGKS juga mengklaim membawa kepentingan gereja-gereja? Harus diakui bahwa banyak gereja-gereja aliran pentakostal/karismatik yang tidak tergabung dalam PGI, dan merasa mendapat tempat secara politis keagamaan di BAMAG. Seandainya BAMAG terkait dengan Bimas Kristen yang notabene adalah kepanjangtanganan pemerintah di departeman agama RI setingkat kota/kabupaten, maka soal dana harapannya lebih kuat dan terjamin daripada PGKS. Mungkin.

Agaknya, penyelenggara tidak ingin pertemuan ini berakhir dengan sia-sia dan rugi karena telah menyediakan konsumsi…he he… Yah, walaupun kesulitan membentuk pengurus, penyelenggara berhasil memilih seorang ketua sebagai formatur, yang akan bertugas membentuk kepengurusan di tingkat kecamatan, minimal 8 kecamatan nantinya.  Menariknya, ketika telah selesai mengumpulkan kertas kuning yang berisi nama pilihan yang hadir untuk jadi ketua atau formatur, ada kabar bahwa formatur akan ditunjuk oleh pengurus propinsi. Padahal tinggal penghitungan kertas suara yang telah terkumpul…namun kabar itu segera ditepis oleh pengurus propinsi sendiri yang hadir.

Biasanya, yang namanya formatur lebih tepat dipilih oleh pengurus diatasnya. Mengapa? Karena organisasi BAMAG tingkat Semarangnya sendiri memang belum terbentuk secara resmi. Lain halnya jika BAMAG Semarang telah terbentuk. Selain itu, jika hendak membentuk sebuah organisasi dan kepengurusan, maka yang hadir harus mewakili gereja dan/ atau membawa surat resmi utusan dari gereja masing-masing. Dari utusan resmi itulah lalu dinyatakan secara resmi bahwa BAMAG Semarang telah berdiri. Dari utusan resmi inilah kemudian membentuk pengurus bersama formatur yang ditunjuk oleh pengurus diatasnya. Namun yang hadir siang ini kelihatannya tidak menyiapkan surat utusan dari gereja dan memang tidak ada juga pemeriksaan kredensi. Mungkin yang hadir ini kurang tahu mau seperti apa acara siang ini. Barangkali juga karena yang hadir tidak seperti yang diharapkan jumlahnya. Sangat sedikit dan dirasa tidak dapat mengatasnamakan sebagai wakil gereja-gereja se-Semarang. Nah, daripada gagal sama sekali dan tidak dapat apa-apa, maka pemilihan formatur pun bolehlah. Jadi, sebenarnya kabar bahwa formatur dipilih oleh pengurus propinsi itu lebih tepat. Kemudian formatur itu mendampingi yang hadir untuk membentuk pengurus. Atau formatur itu menunjuk di antara yang hadir sebagai pengurus. Ini hanya menurut saya, lho ya!

Walhasil, proficiat untuk Pdt. Sugeng M dari GKJ Jatingaleh terpilih sebagai formatur. Nah, Pak Sugeng meminta ditemani oleh 4 orang lainnya dari hadirin. Jadi, sekarang sudah ada 5 orang. Eh, ada pertanyaan: Apakah kelima orang ini adalah formatur yang hendak membentuk kepengurusan di tingkat Semarang dan kecamatan, atau mereka ini sudah menjadi pengurus BAMAG Semarang? Jika mereka adalah pengurus BAMAG Semarang, siapakah anggota BAMAGnya, karena dari sedikit yang hadir inipun beberapa masih bingung membedakan bidang kerja BAMAG dengan PGKS atau mungkin dengan PGI wilayah. Dan yang hadir itupun belum menyatakan diri sebagai anggota BAMAG, lalu bagaimana dengan yang tidak hadir?

DSC_0281

Kelihatannya, penyelenggara ngebet bahwa pertemuan siang ini harus mencapai target sebuah kepengurusan, minimal formatur. Itu nampak dari senyum lega penyelenggara di akhir pertemuan bersama formatur yang baru. Jam 13.00 pertemuan ditutup, pulanglah kami ke kandang masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s