“Di belakang pria sukses selalu ada perempuan hebat”

DSC_0249Sudah sekian kali ku dengar kalimat ini. Ketika ku tengok istriku, jadi timbul rasa kasihanku padanya. Istriku yang juga ibu bagi anak-anakku adalah pahlawan bagi kami. Ia tetap hebat, meskipun aku sering gagal dan anak nakal-nakal. Barangkali ungkapan “di belakang pria sukses selalu ada perempuan yang hebat” berlaku untuk tetangga kami, di mana sang ayah setiap pagi rajin ke kantor dan si ibu rajin berberes rumah. Tapi tidak untuk kami. Jadi yang salah itu ungkapan ini, tetangga kami atau kami? Jika salah, mengapa mimbar di gereja masih saja sering mengumandangkan kalimat ini, demikian juga para motivator yang sering muncul di televisi?

Jika diam dan merenungkan kalimat ini jadi geli sendiri. Sebab, bisa muncul macam-macam makna:

1.       Kesuksesan melekat dan hak kaum pria saja, sedangkan perempuan cukup diberi titel hebat.

2.       Dibaliknya ada pemahaman yang berjalan dalam benak kita bahwa pengakuan sukses secara publik, formal adalah milik laki-laki. Betapa pun hebat perempuan, ia hanya berhak sebagai pendukung yang posisinya di belakang laki-laki. Tempat perempuan adalah di sektor domestik, yaitu rumah tangga, itupun bagian belakang, yaitu dapur dan sumur. Bukan ruang tamu.

3.       Padahal, sekarang kita bisa lihat begitu banyak pemimpin terkemukan dunia, pemimpin perusahaan hebat, dan mereka adalah perempuan! Sebut saja sedikit: Angela Merkel, Margaret Thatcher, Sri Mulyani, Karen Agustina, Lurah Susan…dst.

4.       Ngomong-ngomong, sekarang banyak laki-laki jadi pengangguran dan banyak perempuan menjadi pekerja. Konon, karena banyak perusahaan melihat bahwa perempuan itu lebih teliti, lebih sabar dan tahan banting dari pada laki-laki.

5.       Sudah tidak jamannya, perempuan terus menerus di bawah laki-laki. Di atas juga boleh, kok!

Mestinya, kalimat “di belakang pria sukses selalu ada perempuan yang hebat” adalah benar, jika dibenarkan pula bahwa “di belakang perempuan sukses selalu ada laki-laki yang hebat”! Saya kira RA Kartini dan para feminis setuju, meskipun kaum LGBT  belum tentu. Yah, kalau begitu dibuat yang lebih netral dan adil gender-lah: “Di belakang orang yang sukses, selalu ada orang yang mengabdikan diri penuh loyalitas dan totalitas.” Tapi masih terkesan kesuksesan adalah hak majikan, buruh belum boleh melompati atasan ya… Sebenarnya lebih bisa diterima hal yang sederhana: Di belakang kesuksesan selalu ada kerja keras, baik sendirian atau bersama teman-teman.

 

Kesuksesan dan penghargaan terhadap kemanusiaan adalah hak semua orang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s